Saturday, April 25, 2015

text soda pop

"hey, someone else, will I see you there?" 
thère at an eventful yesterday's faire

why pop soda chugging if it is not for a thirst?
thirst for hitting the spot on: 
"why one clings to the idea of some beauty 
some beauty that accepts us perpetually?"

something remains a fuel to this engine
who reinvents ourselves fragilely and transiently 
yet persistently

such a new found industrial age of other me(s) ago

Saturday, April 12, 2014

New York

Ini hidupku dalam lagu asing
yang pernah kita nyanyikan sekali masa tanpa peduli maknanya
“menghitung mobil di New Jersey Turnpike..
aku datang tak mencari Amerika..” 

di kereta-kereta negri ini kita hanya bisa percaya pada peta
Rel-rel kereta tak bisa kauhitung simpangannya lewat jendela
malam ini aku tak membaca
angin dingin memboroskan baterai telpon di tangan
meniriskan tenaga
aku pejamkan mata di perjalanan ke utara
membangun dinding dari wajah wajah lelah pekerja
dari warna warna gelap jaket gembung yang tak kebagian bangku kereta
bukan tidur hanya mengasingkan diri. 
asing dan aman.
Tadi ada sebingkai puisi di kereta menuju barat dari union square
membelah arus kesadaran penuh angin dingin dan kata kerja

barangkali puisi itu yang memanggilmu kembali
di dalam pejam waktu sekonyong ku duduk bersama aku yang lain
aku yang menyerupai dirimu.
dirimu yang tak bersandar di bangku, bertumpu pada lenganmu
Tak akan kusampaikan perasaanku. tak perlu.
kita sudah cukup bersyukur kebagian tempat duduk 
keseharian sudah cukup sarat tanpa harus menyeret-nyeret beban perasaan
Kita berbincang namun aku tak mendengar kita. 
Aku mengerti mengapa kau duduk bersamaku
Karena aku berdamai denganku dan melepaskan diriku yang pergi sebagai dirimu
kelegaan atau kesedihan yang lama kubawa tak perlu dikunjungi
tak pernah kucerna namun kukira sudah kumengerti 
aku menghela maaf panjang
sungguh aku tidak lari atau mengingkari 
aku hanya tak ingin singgah. Tak ada kemewahan untuk singgah
Kereta bukan simbol kebebasan walau orang bisa menumpang untuk menuju kebebasan
ia tak pernah terpisah dari relnya, dan stasiun-stasiun akan terus setia dikunjunginya
ia melaju karena untuk melaju ia ada
laju yang ketat digariskan. 
Hidup terlalu pendek untuk maaf yang berulang.
Aku sudah berhenti dari sebuah pekerjaan
pekerjaan meminta maaf karena menjadi diri sendiri
sejak itu pekerjaan demi pekerjaan datang melamarku

dan aku menerima hidup untuk bekerja buatku.

Sunday, October 14, 2012

what is art



some people were born with a shrouding call to bound for beauty
we would thought art is our pathway as the knowledge we pursuit will always be thorny
and logic is a grandeur perdition to exhale meanings for our excuses
art is not a paradise where gods grace life and lowly humans gain their royalty
art is a child, where we breathe fragile beauty from an ugly reality 
it's a trap, it's a trickery to find love in a delusion of eternity
it's what we do for dying not for living
it's our cup of poisonous tea

Friday, September 21, 2012

four dollar twenty five


weeks of Chelsea morning
bitter cold beckons
my country, in my mind
my puppet twin, in your lake
as you remember to fill icy cubes in my vessel
my great wall of icy cubes 
stained with yellowed nicotine
or your caffeine

in trivially sublime Chelsea mornings
quiet bellow at condensating ends
to windy second change

my country, still in my mind
I am in your morning once more
with those frothing emptiness again
this time I emptied it myself
and remember how that sounds
"four dollar twenty five"
breathed in Wallace Stevens' phrase

Wednesday, May 09, 2012



who am i fooling? at the end of the day I am still myself. No matter how far I go or how much I pressure myself to be anything but myself. I can't escape from my own monstrous saboteur that keeping me distant from the world. As I walking in the street of NY or Jakarta. I am still confined within myself. telling myself I am free to be comfortably confined. such an oxymoron reality.

Thursday, August 18, 2011

Shades of Scarlet Conquering*

ada dinding di apungan bincang, tebal transparan dan kian menebal, kokoh walau nampak tiada, dinding yang membuat bicara yang sarat itu seperti senyap, tak ada lafal yang mengendarai udara.
getar dinding yang membawa dialog ganjil kita ke tahun yang masih belum datang, sementara di waktu yang jauh itu aku akan menemukanmu tinggal di masa lalu
mendengarkan bukan lagi bincang melainkan sejenis amarah atau sejenis haru yang mengalir panjang di perairan detik.

waktu masih nyata beterjangan tergesa namun bincang yang keseratus sekian kita malah bergugur mundur melampaui bincang kita yang pertama kali. Melampaui waktu sebelum sijingkat pertama kali debar-debar asing yang belum saling berkenalan, melewati nol menuju keganjilan yang minus, seperti kaset yang habis diputar balik hingga kembali ke awal yang kosong. Putaran balik itu persisten, terus mundur walau ujung awal itu sudah terlewat habis.

tiada kita sudah lewat. yang ada kemudian sebuah entah yang lebih mirip dinding tebal daripada sebuah jarak. Dinding yang bernafas dari paru-paruku, melahap hampir semua kata-kataku. Padahal kita telah sampai saling mengerti tanpa harus berkata di suatu waktu, namun segalanya berjalan mundur dengan cepat dan masif.
Di antara hembus nafas yang makin menebalkan dinding-dinding ini, berurai panjang kata-kataku menjangkaumu, namun tak satupun yang sampai padamu dalam maksudku.
Sapaanku terdengar olehmu seperti cemooh selamat tinggal setelah melewati dinding itu, Kenyamananmu dalam diam tanpa kata denganku terbaca seperti keengganan untuk menyia-nyiakan kata lagi untukku, sementara aku terlalu ingin memelukmu karib dengan lega tetapi ingin itu kau baca sebagai punggungku yang tergesa hendak pergi dari bincang itu.

sekali aku ingin bicara tentang temali jemuran yang terputus ketika dirimu berlalu namun kamu bertanya mengapa kamu tidak mempercayaiku untuk memahami mu?
lalu berkepanjanganlah bincang ganjil yang saling mengembang imbang dalam spektrum paradoks yang perih. Patah dari rentang maksudku ke selisih pemahamanmu, dan vice versa
aku kehilangan semua cara untuk bicara atau membaca, segalanya mundur dan aku mengingat bahasa dalam ingatan yang katatonik. patahan suku kata yang hambur itu jadi komposisi nonsense. kuhirup dalam absen benak yang lumpuh oleh mampat maksud-maksud yang beterbangan namun semuanya kembali padaku lagi membuntu.

maksud itu adalah aku yang kukirim ke alamat waktumu yang kelak.
dinding itu barangkali juga aku yang mengganjal pintumu ketika kaubuka aku yang lalu. dinding itu perselisihan kita pada diri masing-masing,
aku tengah bicara, namun aku yang kau ajak bicara barangkali bukan aku yang kini.
debarku dan kalimatmu sepertinya mengapung pelan dalam sungai waktu mereka masing-masing menuju diri kita yang tepat untuk tiap kata. Melelahkan memang. kamu terengah, aku telah tumbang di kemunduran yang jauh dari jarakmu terjatuh lelah. barangkali aku akan menangis, barangkali aku hanya akan menulis lebih lagi. dinding itu akan membeku jika saja kita menuliskannya, lalu barangkali kita bisa memutarinya, walau aku tahu kamu tak mendengar maksudku, aku akan tetap mengatakannya.

maafkan dirimu. kita dan dinding itu pasti mereda.
aku mendengarku mengatakannya bukan padamu tapi padaku yang berada di balik pengap transparan memelar dari nafas-nafas itu.
tetapi tentu saja kamu tak mendengarnya.


5/10/07 edit

*Sementara meminjam salah satu judul lagu Joni Mitchell di album "The Hissing of Summer Lawn"

Wednesday, August 10, 2011

complecto aeternum

complecto aeternum,
ini bukan mantra ilmu sihir di film penyihir remaja berkaca mata
melainkan kode dokumen yang kusimpan di laci arsip benak
dua kata mungkin memang bisa jadi mantra
mantra pemanggil kenang-kenangan makna dan selebihnya.

Peristiwa complecto atau dekap memang sanggup menyihir
hingga jejaknya abadi
di antara ratusan dekap yang kita terima semenjak lahir
ada segelintir complecto aeternum
walau dekapan bukanlah sulap atau sihir
namun momentum di mana kerapuhan manusia terobati
sekaligus dikukuhkan niscaya,
dan complecto brevis sesekali jadi abadi

semoga berhasil

ucap "selamat" atau doa dari wajah wajah karib hangat, yang seringkali kita amini dalam hati kali ini akan sungguh teruji. Puluhan kali doa dan ucap itu dibagi untuk melawan ketidak mungkinan.

Tak pernah sebelumnya saya mempertanyakan apakah ucapan ataupun doa itu akan sungguh bisa terwujud. Tapi kini saya menggenggam semua doa dan ucapan itu erat-erat dengan harap sungguh bahwa kekuatan magis ketulusan manusia bisa mengalahkan ketidak mungkinan yang dihitung nalar.

Manakah yang lebih kuat? ucapan itu sendiri atau seberapa jauh kita mengamininya dalam hati. Barangkali lelehan hangat di hati ketika sahabat-sahabat merelakan ucap itu terbagi sudah cukup kuat untuk membuat siapapun kokoh bertarung atau lega di kemudian hari ketika menoleh dan tersenyum kepada mimpi yang silam sementara yang jelas nyata hadir adalah persahabatan dan teduhnya hati.

Barangkali haru pun punya kekuatannya sendiri. Ketika segalanya terasa lebih dari semata diri sendiri. Ketika impian diangkat dan disokong oleh doa-doa kecil yang karib hingga ringan dan teduh seberapapun berat atau seberapapun kecil kesempatannya untuk terwujud. Kita telah merasa beruntung dan semua doa itu sudah terwujud.

Saturday, June 11, 2011

Medley Hujan Bulan Juli (7)

Terciciplah lembab pagi dalam engah
dalam buru nafasku menghujan hembus
payah menepis kobaran tak tertahan
jeruji cair bergenggam geram
membuyar terbangan kumbang menyengat
tak kunjung ludas
perih yang hendak kulepas

aku berlari menyusur jalan, tiang-tiang
persimpangan, untaian pagar-demi pagar
berlari menyusur benang diriku mengejar ujung
menguntit percik terjauh yang ditempuh kembang api
di langitku
letup dalam mampat dadaku
dalam sesak ledak padat

aku berlari bukan mengejar namun melepaskan
tiap degup itu ketika telapaknya menyelinap berulang
di sebuah pagi
sehabis tuntas melautnya malam
setuntas deru kecipak layar itu beranjak pulang
dari seonggok dermaga
pada cakrawala


Cecil Mariani
2 Agustus 2004
retro diciduk dari http://idaman.blog.friendster.com/

Thursday, March 24, 2011

wound is actually a causal entity
never a concequence
this granulating pain
this frothing emptiness
and why all these foolish doctrines of happiness
sagged me with weariness

why does existence sore?

Thursday, December 09, 2010

On Death

are you necessary?
you seem very much like an awkward necessities
literally the last thing that ever happened to someone
you will never be dramatic enough
nor ever be a surprise ending

yet I will be so angry probably
and you still happen casually
a fearsome triviality
awkwardly needless of further meaning



:in memoriam of a friend

Wednesday, October 06, 2010

a night of fluid dynamics

my head would rambles abstractly in drips of griming vulnerability as you sleep soundly as if in my womb
and the world breathes slowly to our ears.
moves the heart in its laminar shift
rendering my own sleep, some cold turbulent
some sleep that weaves sleeplessness clouds in our days
of counting lights and particles of our unoccupied spaces
of our yet endured working hours and shadow
you, wrapped in this fetal suitcase of mine
I, travelled for lightyears and back beneath the eyelids
disintegrated, evaporated, rematerialized
once or never again awaken are we since
there will almost certainly be the breathing still
honoring a quiet put out cigarette in the ashtray
to be an interpreter of these maladies
of our rivering reality

fears

fears have themselves framed on my hallway
along with other respectable items
I keep their seatings on my dinner table
even when at times they loose manners
passing themselves carelessly
garnishing each plate with spoiled bitterness
but each time i shove desserts to their mouth
they'll make sure I devour life
wise and slow
yes, I keep my fear close at my dining room
but my carefree happiness at my dorm

Tuesday, August 24, 2010

on once a bandwidth costly silence

Lovely, the tinged of anger in this wanting window
a dash of sadness, a kind of loathing in a tide of longing
so beautiful it's revolting
this technology, this mapping of brain activities that causes pain & sugar rushes
a sprinkled gladness that I still have this ability to choose over these luxury of feelings
not just the ability in accepting or denying them.
Numbness now seems like a cheap way to cope with the inability to bare
the grandeur of calibrated LED spectrum in radiating emotions
the narrowness of 15" screen, of beings, of fear, of binary answers
and most of all the fear of falling in it

But dear, triumph is falling to fly
in anger, desire, fear, loathing or longing unplugged
so bring it on and bring them home

Friday, July 16, 2010

there, waking up at eleven
all rides have gone to where people say good morning
no more free vit. D
timeline has twitting for miles I'd rather not walk

I sat on my self loathing desk
lit my cigarette and blow a smoky line
italicized in my little chat-box
loneliness is not a thing of the night

Sunday, June 13, 2010

liberations do not come from dividing ourselves in two and struggling against our own energy.

Wednesday, April 28, 2010

catatan gencatan senjata

Kami tak yakin bahwa kami tahu arti hidup terjajah, tetapi di taksi tadi kami mengingat 30 tahun lebih hidup dalam siaga perang. Mungkin sesederhana tak ada yang sungguh menjajah atau terjajah. Walau seringkali rasa tertindas itu menghimpit begitu jernihnya atau hasrat menjadi tirani kadang begitu kentara lapar dan melahap-lahap sembrono pula bersamaan. Awalnya selalu kemelut-kemelut yang tak pernah dijuduli, perseteruan yang tak terindentifikasi masing-masing kubunya. Kemudian alasan-alasan yang ditambal-tambal cepat dan penyederhanan yang naif untuk semua pihak--ketika pihak-pihak itu membelah dari kami. Lalu segalanya terdistorsi--jika tidak terkorupsi dari kejujurannya sendiri. Beranjak menajam secara alami seiring kami atau kami yang mulai semakin ahli memilahnya. Kubu yang jelas adalah pihak yang selalu rajin merancang pendamaian untuk stabilitas sementara, kemudian pihak yang kentara lain adalah pihak yang selalu menegasikan segalanya. Teritori baru akan diklaim dan teritori akan dinamai. konflik bertingkat dan berkembang sesegera satu tahap terdamaikan atau ternegasi. Energi-energi tersedot ke kedalaman oleh sejenis Vacuum cleaner di dalam poros dada, seperti lubang hitam kecil di solar plexus yang sekecil apapun, serta merta melahap. Lalu jadi tawanan di kedalaman yang kami besar-besarkan.

Kami memperhatikan dengan iri orang-orang yang berkeliaran merdeka seperti gagasan akan peperangan tak pernah ada di negeri-negeri mereka. Peperangan mereka adalah medan di ranah luar kedirian. Kami tak tahu apakah itu yang seharusnya, apakah itu tahap lanjut semestinya dalam evolusi dan kami masih negeri dunia ke-3 yang terbelakang atau melangkah maju dalam pengkondisian, penuh tambalan tak alami, trivial dan remeh temeh. Kami tak hanya iri, kami pun membenci karena mereka beruntung dan tidak mengerti, tetapi di saat yang sama kami pun cenderung mencintai apapun di luar sana yang bukan seperti kami, bebas berkeliaran, beruntung dan tak mengerti. sekaligus pula membenci hal di luar sana yang serupa dan memahami peperangan ini. Membenci sekaligus mencintai. Rindu menjadi apapun selain kami. Dengan cara ini juga kami terjajah dan silih menjajah di dalam diri.

Mengapa kami berjarak dan hanya iri. mengapa kami tak serta merta menjadi?
Orang-orang berkeliaran merdeka adalah kebenaran asing yang kadang kami cekokkan pula ke dalam diri. Kami pun berpretensi untuk berkeliaran merdeka dan memindahkan medan tempur kami ke luar diri, namun kami tak sungguh pernah menjadi, karena itu bukan kami. Lalu kembali hempas kemelut dan lagi-lagi saling membenci. siaga perang pun jernih lagi. apakah kami benar terjajah oleh diri sendiri? Bagaimana dengan berkeliaran bebas di dalam diri kami? tanpa merasa terancam, menikmati hidup di dalam dan di luar tanpa tercekam gerilyawan negasi dan hantu-hantu pelahap yang membenci. Hantu-hantu yang sebenar-benarnya anak-anak kami.

Hemat kami, ini bukan soal penerimaan atau masalah koeksistensi, karena entitas kami tak terbelah hingga perlu pengelolaan eksistensi. Kami ingin senantiasa keluar dan lebih banyak menyukai atau mencintai daripada terhisap ke dalam dan membenci namun pintu-pintu seringkali dipalang dari sisi dalam dan dikunci.

Pilihan seringkali adalah omong kosong, Kehendak bebas juga omong kosong seperti halnya determinasi, kemanusiaan atau patriarki. Kami selalu memilih berkeliaran bebas di dalam dan medan perang yang nyata di luar, tapi yang kami dapatkan hanya ilusi kebahagiaan, perjuangan untuk kebaikan, hal-hal yang luhur dan candu keyakinan bahwa segalanya akan baik baik saja. Itu pun kami hidupi dan itu bukan kami, tidak pernah kami. Kami selalu memilih seperti orang berkeliaran bebas yang beruntung dan tak mengerti, karena kami rindu menjadi mereka, namun pilihan pun sebuah kebenaran asing yang kami paksaan. Kami terjajah oleh gagasan-gagasan itu.

Monday, March 29, 2010

whatever insect in that sense

i snared your pain
three and half second
of anaphylactic beauty
no flutters nor flickers
just heaviness
of years in waiting line
and the condensed emptiness
where I'd snare my fire
and you'd heavily flutter mine

swollen us, distant
but your pain grow clingy

Sunday, July 19, 2009

sometimes what I just did or said resonates
in the taxis, at night, at quiet
for days they hit me to shatter
echoing to disrupts conscience
like having head on my sleeves
and heart on almost everything my eyes lay upon
what I said replayed
to crumble each of my cell and ceillings
past tenses intercept my present
and I m helpless at my vicarious thoughts
opening and closing itself in error
to be read like dogs' wag
or to indifferently puzzled as pretensions
displaying abrasioned self by waves of jibberish from other selves
all the tense and intensified hunger
thrusting ambitions without will
unpredictable illusion of control
wakeful to the obvious blindness
there is no epiphany
this is me
with a proud and awkward swagger

Saturday, June 27, 2009

Hal Terburuk Bernama, Jujur

Kadang hal terburuk yang bisa dilakukan seseorang di sebuah pagi adalah kehilangan nyali. Nyali untuk mengatakan dengan jujur: aku tak tertarik lagi padamu, atau kamu tak seksi lagi, atau dirimu menjemukan sekali, Jangan memujaku seperti itu, aku tidak menginginkanmu lagi, aku malas berurusan denganmu atau kamu tak ada maknanya buatku. Tapi mungkin jangan pergi dulu. Suatu ketika kelak ketika aku kesepian mungkin aku membutuhkanmu lagi.

Menyakiti orang lain adalah pekerjaan kotor. Kita seringkali memilih untuk melakukan hal yang lebih buruk secara esensi, berbohong dan membiarkan siapapun yang kepadanya kita berhutang kejujuran itu mempercayai delusi rekaan, yang kita buat untuk menyelamatkan kita dari pekerjaan kotor. Kebohongan mungkin hanya lebih kotor dan mengerikan. Tapi hanya jika itu terkuak.

Apa yang biasa kita lakukan untuk menyampaikan kejujuran yang menyakitkan? hal-hal sederhana yang buruk sehingga memikirkan bahwa kita bisa merasakannya saja kita merasa berdosa apalagi mengatakannya dengan gamblang. Bahkan ketika orang tersebut telah bisa menebaknya kita bahkan masih menghindar dari mengakuinya, membayangkan kita mengakuinya terasa puluhan kali lebih buruk dari hutang kejujuran yang sudah ditagihkan oleh orang yang bisa menebak pikiran kita. Siapakah kita mengatakan hal-hal buruk kepada orang yang memuja kita sementara kita yang terhormat dan mulia ini tak lepas dari hal-hal buruk. Bukankah menyampaikan kejujuran yang buruk terasa begitu kotor dan demikian jijiknya kita pasti masih berpaling menghindar bahkan ketika semua bukti sudah tergelontorkan. Bersembunyi dalam bicara pernyataan-pernyataan abstrak, atau bicara dalam pernyataan umum yang ambang, serta terbuka pada pemaknaan. Kita lari bahkan ketika tak ada lagi tempat untuk lari. Berusaha melempar kejujuran itu ke penanya atau membaliknya agar kita tak perlu mengakuinya.
Sering kita biarkan orang terbenam dalam delusi dan kenyataan yang tidak riil selama itu mengamankan kita dari bicara kejujuran yang bisa membuat kita merasa kotor atau semata kita malas menanggung akibat buruk yang panjang dari kejujuran kita hingga kita memilih kebohongan yang mudah. Kita tak mau melihat orang menangis atau terpukul, kita tak mau bertanggung jawab atas pilihan kita atas mereka. Mereka juga tak ingin disakiti, demikian argumen untuk pembenaran diri kita menyembunyikan kejujuran itu. Atau bisa juga kita masih punya agenda. Jika kita baik baik memelihara perasaan orang yang tak terlalu berarti ini siapa tahu dia akan masih ada ketika kita membutuhkannya lagi kelak.

Saya akan memilih kejujuran pada menu pagi itu, walau tidak ada kejujuran ditawarkan. Kejujuran itu bisa saja bilang saya membosankan, saya tidak seksi lagi atau saya membuat orang yang saya cintai muak. Tetapi sakit itu baik karena ia riil. Sementara delusi yang nikmat itu harus saya yang menciptakan dan menikmatinya bukan orang lain ciptakan untuk saya demi menyelamatkan saya dari sakit yang nyata. Karena kami sama manusia. Saya tidak lebih tinggi sehingga saya melindungi atau memilihkan yang terbaik, saya juga tidak lebih rendah sehingga dilindungi dengan delusi dan disterilkan dari kenyataan yang buruk-buruk tentang diri sendiri. demikian pula orang lain. Saya mungkin hanya akan menciptakan delusi di benak orang untuk niat mencelakakan, karena saya tidak mengasihani mereka. Tetapi saya juga akan menyampaikan kejujuran yang buruk karena mereka tak akan lebih sakit daripada saya jika saya yang menerimanya, dan kami sama layak menerima kejujuran. yang baik ataupun yang buruk. sakit atau tidak sakit tak pernah jadi masalahnya. yang saya tahu hanya kejujuran selalu mendewasakan. seperti meditasi, kejujuran memasukkan kita ke kesadaran-kesadaran lapis termutakhir dan memerdekakan. bahkan yang paling menyakitkan pada akhirnya mendamaikan. dan sebuah maaf baru sempurna jika kita tahu terlebih hal terburuk dan tersakit apa yang kita akan terima dalam dekap yang damai bernama maaf itu. maaf untuk diri sendiri.

Thursday, May 07, 2009

prologia vita

Namamu Ombrea, karena kamu sulung. Aku melahirkanmu sebagai kegelapan untuk menjadikan kekosongan dan kehampaan itu dirinya sendiri. berdaulat lepas dari hasratku. Walau lahirmu adalah buah dari hasrat-hasrat itu. Tapi hadirmu kemudian terbebas dari keinginan-keinginanku, dirimu sama seperti aku, berkehendak dalam niscaya alirmu, mandiri dengan kekuatan yang bukan kuberikan tapi yang adalah milikmu sejak lahir. Kamu merdeka dalam segala apung, sadar dan terjagamu. Ketiadaan itu hadirmu. Hanya satu yang bukan milikmu yaitu bahwa dirimu tak memilih adamu sebagai ketiadaan. aku yang pilihkan itu untukmu.

Namanya Lucea, ia yang terang itu, bukan adikmu, walau dirimu sulung, tapi hadir kalian adalah satu. Ia ada karena dirimu dan dirimu hadir karena keniscayaan hidupnya. Ia adalah ada yang dimaknai oleh ketiadaan dalam hadirmu. Ketiadaanmu adalah ia dan ketiadaannya adalah kamu. kalian berdua hadir karena aku tetapi bukan dari aku apalagi untukku. kalian ada untuk satu sama lain. kalian adalah aku dan ketika kalian berdua, aku tiada.

(5/7/05-edit)

Saturday, March 21, 2009

memoar orang asing

Aku pernah meminta seseorang agar ia jangan menjadi asing. Di permintaan itu harapan terakhir berkibar di tepi tempat tidur harap yang sekarat. Kesadaran akan keniscayaan bahwa sesuatu akan hilang dan seseorang karib yang hangat di hati tengah berjalan menuju beku seorang asing.
Bahwa kekariban atau kedekatan kami suatu kali tidak sungguh ada.
Bahwa kedekatan dan kekariban itu sama-sama kami reka untuk tujuan atau agenda yang kini telah kadaluwarsa.

jangan menjadi asing.. justru mengukuhkan suatu kehilangan yang niscaya.
walau permintaan itu seperti upaya memeluk punggungnya agar ia tak tergesa bergerak dalam keniscayaan itu.

Orang asing adalah kematian. kematian arti, kematian signifikansi. seperti semua orang asing di keramaian, menyesakkan. Kita terbiasa menceritakan hal-hal penting dan tak penting pada orang yang terpenting, sementara kepada orang yang tak penting tak ada cerita, hanya senyum kala berpapasan di jalan, itu pun jika hati kita tengah sejuk dan mungkin kurang pekerjaan. orang asing tak sungguh ada atau bernama, tak ada yang ingin kausapa, atau kau balas lagi pesan pendeknya. Semua pesan pendek paling karib atau paling lucu sekalipun selalu salah alamat karena kita tak mengenal lagi pengirimnya.

Kematian berkali-kali untuk hidup sekali.
Dalam kekariban yang lenyap dalam orang yang kembali asing kita menghadapi kematian-kematian itu. Dibutuhkan doa untuk mengiring yang hidup dan kehilangan bukan untuk yang mati dan hilang lalu harapan terakhir untuk dikibar,
"jangan menjadi asing" bunyinya dan ia pun berjanji untuk tidak mati tetapi barangkali ia tak tahu apa yang dijanjikannya seperti ia tidak tahu sekali waktu kami pernah hidup dalam hangat karib yang berusia pendek namun jaya. harapan kami tengah sekarat ketika ia berjanji. Barangkali ia tahu, permintaanku yang sia-sia melawan keniscayaan, niscaya dijawab pula dengan janji yang sia-sia. Setelah ia dan hrapaku mati arwah mereka terbang ke dunia orang asing. tak lagi mengenal atau mengingat hidup hangat kami yang sejenak, walau aku masih menyimpannya karib dan menyapanya ketika berpapasan.

Sunday, February 22, 2009

memoar perjalanan malam

kita bisa berkendara dalam kegelapan malam menuju entah
kamu bisa mengemudi dan aku bisa terus terjaga
lampu-lampu berjajar, kegelapan lalu lampu-lampu lagi hingga kehilangan
berjam-jam, berbulan dengan malam serupa

aku sering haus dalam perjalanan
dan kamu pernah mengaku lapar akanku
dan aku tak sengaja meninggalkan bekal perjalanan kita dalam panggangan
sebelum pergi dari flat yang setidaknya lepuh jika tak terbakar

aku bermimpi tentang kursi kemudi yang kosong
sementara kamu tak pernah beranjak dari bilik dirimu

kamu bisa mengemudi walau kita tak pernah menempuh apa-apa
aku bisa terus terjaga walau selalu rabun akan rambu dan marka

kendara itu berujung entah dan kita telah tiba
pada ujung? pada entah?
bahu-bahu terangkat tak penting lagi milikmu atau milikku
tak ada pohon terpahat nama kita di jalan-jalan
hanya pesan pendek yang satu persatu gugur

jok-jok kosong tercarut koper dan stileto mengingat ikhtiar
untuk bercinta denganmu di alam terbuka sebelum ajal
pulang lepas sepanjang malam

Sunday, December 21, 2008

ruang kosong

lagi-lagi kosong. Ruang yang semula tiada, lalu didesak hingga terbangun begitu megahnya. kemudian kosong. dibangun untuk ditinggalkan. dengan kesadaran dan sejenis kecemasan yang terbaca ketika aku mungkin juga kamu menyusun batu demi batunya. Lihatlah ruang itu terbangun. buatmu. dengan sedikit harapan yang dibisikan diam-diam oleh hati yang begitu kecil dan malu-malu,.. "buat kita". jika bahkan pernah ada sesuatu bernama kita. Aku akan kembali menanyakannya. walau hati tahu jujur, kita lah yang mendesakkan ruang itu dan menyusun batanya dalam ingin dan debar. Tanpa bukti, kamu mengibarkan duga bahwa yang membangun ruang ini tidaklah nyata, mungkin juga aku kelak.
Tetapi ruang itu nyata dan lebih nyata lagi adalah kosongnya. kosongnya darimu dan penuhnya dendamku akan ruang-ruang yang kosong. Terlalu banyak pintu, sementara tak pernah cukup anak kunci untuk menyembunyikan kekosongan.

Saturday, December 13, 2008

'my name is none'

'mon nome est personne', seorang kawan lewat yahoo messenger. Seorang juru bicara kejujuran dikirim semesta karena saya seringkali tuli untuk mendengar suaranya sendiri. Tidak tepat demikian yang ia katakan namun demikian yang ditulisnya kemudian diingatan saya. Judul sebuah musik yang mengalun dari radio internet dibawah genre eclectic. Dari kata-kata kunci itu kemudian semua catatan ini terbuka.

Ada tahun-tahun saya merindukan emosi. merindukan momen untuk merasakan setiap detil kejadian sehingga segalanya tidak berlewatan begitu cepat lalu hilang. Karena emosi menuliskan ingatan dengan cara terbaik. Walau bukan ingatan yang saya inginkan. Saya merindukan emosi setelah susah payah untuk membunuhnya. Ketika saya kebal dan rasa menjadi lumpuh, saya merindukannya seperti merindukan masa lalu penuh kejayaan dan saya tahu membunuh emosi bukan bukan semata jalan pintas, tetapi jalan buntu. Seperti pula hal-hal penuh emosi yang menggiring saya untuk melakukan kebodohan semacam itu terhadap diri sendiri. Tetapi hidup punya caranya sendiri untuk mengajari dan untungnya emosi tak bisa mati. Ia bisa disingkirkan tetapi ia selalu kembali ketika kita cukup besar untuk menanggungnya lagi. Dan ketika ia kembali, ia kembali dengan persistensi.

Hari-hari ini saya mengalami kemewahan itu kembali. kemewahan menangis dan tertawa begitu lancar untuk banyak detil yang tak terlewatkan. Gagap dan gamang atas sebuah obituari kawan atau menangisi kalimat dalam sebuah film, lalu menertawakan diri hingga pecah tangis dalam kelegaannya. Dorongan afeksi yang meluap menunggu dibagi, Cemburu, rindu, dan kebahagiaan yang mirip sebuah bangga bisa menanggung semua emosi itu tanpa tercerai berai jadi bukan diri sendiri.

Satu hal yang lucu mengenai pembunuhan emosi. Ketika saya bisa menghadapi banyak hal tanpa emosi saya bisa merindukan emosi. Padahal rindu juga adalah emosi. Sejenis hasrat yang tak habis-habis seperti lapar yang semakin dipuaskan semakin mengingini. Rindu jadi sejenis pelampung pengaman yang dibiarkan ambang di perairan jika sewaktu-waktu saya mengirimkan tanda darurat untuk diselamatkan emosi yang saya tenggelamkan sendiri.

Sebuah perbincangan jarak jauh lewat yahoo messenger dengan kawan itu, seorang 'extra terrestrial' yang menghisap djarum76. Kedinginan di negeri orang. perbincangan itu tanpa sengaja memberi saya contekan yang begitu ampuh untuk melewati ujian dari sebuah kelas yang berulang kali saya telah gagal. Tak heran saya gagal, bahkan ketika saya mendapat pencerahan begitu rupa, saya masih ragu akan judul mata pelajarannya. 'puzzles of your own psyche' kah? Tapi yang pasti perbincangan itu membebaskan saya dari keinginan saya sendiri. Dari obsesi yang membatasi kapasitas emosi. Obsesi akan harapan hubungan cinta yang mewah itu atau obsesi akan harapan cinta itu sendiri yang barangkali lebih mahal lagi. Keduanya telah membatasi saya menghargai atau semata membatasi saya untuk merasakan emosi. Harapan-harapan sempit itu menghalangi kemampuan saya menanggung dan memeluk kesadaran yang sama sekali berbeda dari yang pernah atau bisa saya bayangkan. Hal-hal asing dengan esensi sama yang lahir dari zaman yang semakin dewasa. Semakin mudah untuk membunuh perasaan dan semakin sulit untuk merasa. Saya ingin berakhir mencintai, bukan berakhir membutuhkan. Walau saya masih ragu akan apa yang saya cari. karena sesuatu yang genap penuh barangkali hanya mati. Lalu saya tiba-tiba ingin mencatat bagaimana saya menangis dan tertawa untuk diri sendiri, suatu perayaan yang lega dan merdeka, bahkan ketika kami selesai berpamitan untuk kembali sibuk lagi.

Saya sering merindukan rasa yang sederhana apa adanya, tertuang tanpa ada cegahan. cegahan puluhan pertimbangan untuk menjaga diri atau untuk bertahan kuat menghadapi hari. Tetapi kerinduan itu seperti kerinduan akan masa kecil yang tanpa masalah, masa cinta monyet yang diartikulasi drama-drama picisan televisi. Masa-masa sederhana itu sudah lewat. saya tahu saya tidak bisa kembali. Tak ada lagi yang sederhana dan saya tidak akan merindukan masa kepolosan yang indah itu lagi. Saya melewatinya karena banyak hal yang tak sederhana menanti juga tertuang apa adanya. Rasa yang eklektik, kaya dan diabaikan karena keengganan memahami. Seperti campur aduk daftar lagu dari siaran radio dibawah 'genre eclectic'. Rasa yang juga harus tertuang tanpa ada cegahan. Dan saya sampai di titik ini untuk belajar menuangkannya. satu emosi baru untuk satu waktu jujur. Mereka tak pernah kalah indahnya. Karena hidup tidak berhenti di hal-hal sederhana sebagaimanapun saya merindukannya.

Monday, November 03, 2008

indomie dan mimpi buruk

Sebuah pagi yang buruk untuk berpikir tentang hidup para santo atau martir. Apakah mereka semua juga penderita pasif agresif disorder? Dengan menghancurkan diri, mereka secara ganas berambisi mengusik hidup, menggoyang orang lain dengan kepasifan, jadi domba sembelihan.

berteduh di pendamaian yang dengan mudah dijuduli kesedihan itu basi dan terlalu apolonian, kadang terlalu bersih, kebanalan pun mulai bergerak menjadi demikian. Walau kadang jujur yang banal itu relatif lebih jernih. Lihatlah penis, Bukankah bentuknya coklat memanjang seperti tinja, Seperti proses defekasi pula kadang semua yang terjadi sejak sapaan pertama hingga sanggama.

Dan kadang kita sanggup berjalan-jalan dengan duri menusuk dada, berhari, berbulan, membuat segala tak mungkin dan segala tak nyaman tapi kita bertahan, menanggungnya sukarela. Seperti pahlawan berkuda. Padahal kita lah naga.

Sunday, November 02, 2008

akhir tahun kesekian

Sesekali dalam hidup ada peristiwa jumpa yang getar energinya memberi efek kejut serupa feedback elektronik, Semacam tendangan frekuensi paling rendah yang tua dan familiar. selalu bergetar bermasa-masa seperti dinding bebangunan tua, menyelinap atau semata tak lewat dalam sadar lalu tiba-tiba menuntut hadir. Berkulit hasrat keintiman berujung kekosongan yang lazim itu. Dorongan yang saru karena dalam masifnya ia tak sungguh rill. abstrak dan besar. Dorongan yang seperti kerinduan terhadap diri sendiri yang paling arkaik. diri yang tidak cair juga tak solid, hadir konstan walau seringkali tak kentara bahkan ketika kita mundur dari kulit-kulit sadar lalu duduk menonton diri sendiri menghadapi hari.
Membuntuti dorongan-dorongan itu adalah cerita lain soal membuntuti bayang-bayang ke jalan buntu, namun tidak pernah ada yang buntu dalam perjalanan. yang buntu hanya jika kita mendambakan tujuan

Apa yang kita terima selamanya hanya lah diri sendiri karenanya kita tak lelah membuntuti diri-diri yang terbenam dalam orang lain. 'pasangan' mereka menjudulinya,walau tak ada yang terpasang, seperti tubuh dan bayangnya, salah satu bukanlah pasangan terhadap yang lain, dan tubuh tak lebih dari bayangannya karena yang melahirkan paket niscaya tubuh dan bayangan bukan keduanya tapi hal ketiga yaitu terang. bukan tubuh bukan bayangan. Dalam gelap tak ada tubuh hanya bayangan. dalam terang sempurna tak ada bayang-bayang.
Barangkali karena demikian mereka menyebutnya buta, ketika dalam kegelapan sempurna kita masih berilusi tentang kendali membuntuti diri sendiri yang tiada. Dalam genap segala bayangan. walau ketika itu kita sungguh tiba. waktu tubuh sungguh hilang, waktu diri begitu hilang.

Saturday, October 25, 2008

memoar ikan sebelah

Kata kunci ingatan suatu oktober akan tereja seperti bunyi kata "hangat". hawa kulit yang seperti uap secangkir teh, hawa yang bangkit dari alir darah yang bergegas, Wangi ikan sebelah yang baru keluar dari panggangan dan bibir-bibir yang lepuh oleh hidangan ciuman penutupnya.

Kata kunci yang tereja seperti bunyi kata "hangat" untuk catatan yang terbungkus cerita porak poranda. Begitu runyam berkelindan hingga terlalu banyak rahasia memekak. tak terlalu banyak barangkali, tetapi cukup.

bunyi kata serupa "hangat" itu pertama hadir di pesan pendek, kemudian di suatu siang ada pada langkah-langkah. Berdebar asing-rindu seperti kampung halaman yang pangling pada bocahnya sejak tak pernah lagi pulang. aku belumlah rumah atau halaman tempat pulang.

Aku tak pernah ingin menuliskan cerita yang demikian porak poranda. rindu yang penuh curiga. Padaku dariku yang sibuk menamai, menghapus lalu menamai lagi berkontainer-kontainer debar serupa dendam yang labuh pada air pasang. Seolah tengah datang bulan. Dikirim dari alamat tak dikenal yang dieja dengan kata sama: "hangat"

Oktober dan langit mengekang debar dari cerita yang berlelehan. mungkin ditahan. mungkin ditawan. Namun hujan yang ditahan berminggu pun akhirnya turun. Deras hangat setergesa segala cemas yang berlomba untuk mewujud dalam runtuhan dan kelak diingat ringkas dengan label "kebodohan orang dewasa".

Gamang atau sesal atau kecewa itu biasa. Tawa hati terbuka berbuah untaian "kenapa" lah yang porak poranda. Seperti maaf yang tak jelas untuk siapa. Seperti cerita. Runyam berkelindan dalam haus dituliskan yang tidak kesampaian atau "hangat" yang ada tanpa meniadakan segala yang bukan dirinya.

Wednesday, August 13, 2008

perih turun lamat seperti gerimis yang lengket.
sedikit sedikit tapi kental
sekali ini entah aku tak bisa mencerna kepergian itu sebuah keniscayaan.
padahal bukan sekali ini aku ditinggalkan.
aku tak bisa menginjak kenyataan dalam buram.
kenyataan mengingkari hakekatnya sebagai tanah, lalu beterbangan, berjatuhan dan bertetesan.
kenyataan yang gamang
buram yang kulakukan di dalamnya.
barangkali aku tak akan mengingatnya
ada setengah permohonan, ada setengah senyuman
semacam jerit di kedalaman sembari menjaga diri agar tak berserakan

ia begitu jauh tak terbaca
aku begitu kebas tak bisa merasa
karena semua rasa kugiring masuk ke kamar
dan ruang-ruang tamu bersih kurapihkan.

Sunday, August 10, 2008

Tungau

Teh tawar yang suam itu tercicip rasa debu. Tetapi aku meminumnya hingga tandas semua cairan itu lenyap di geliat peristaltis tenggorokanku. Di dasar gelas masih mengonggok jejaring debu. untai benang tipis kelabu debu yang kuyub oleh cair teh. ada geliat organik yang sulit tertangkap oleh mataku.
tungau, desisku.

***
Ulang tahun tak pernah sebuah perayaan. Semacam ritus menyimpul waktu atau menoreh gores-goresan kapur di dinding supaya aku tak pernah lupa diri akan keterpenjaraan.
Jeruji waktu dengan bayang-bayangnya yang berbaris menimpa tubuhku adalah panjang ingatan, tak bertambah atau berkurang. Dan demikianlah penjara waktu melukis jejak bayang silam yang terus hadir dalam persistensi selagi ia masih tegak menceraikan sisi cahaya dari naungan tempatku berdiri sebagai tawanannya.

Pada suatu ritus itu kau datang dan menanyakan apa yang kuinginkan sebagai hadiah. Semacam hadiah hiburan bagi tawanan.
Aku menjamumu dibalik bayang berbaris jeruji penjara itu. cangkirmu bergaris-garis seperti wajah kita. Diantara garis bayang dan terang itu beterbangan debu seperti taburan bintang di angkasa.
Kutanya berulang engkau siapa. Menuangi teh ke dalam cangkirmu dan gelas kotorku. Kucoba memata-mataimu dari bayang permukaan teh itu. Kutangkap bayang wajahmu dan latar jeruji berbaris-baris yang buyar ketika kuseruput geming pantulnya, berdenyut di tiap teguk teh suam itu.

"anggaplah aku yang kau ajak bicara setiap kali kerinduan kau ucap diam-diam sebelum meniup lilin-lilin usiamu. Kini tak perlu lagi permohonan dibalik bara atas kue tart seperti itu. katakan saja yang kau inginkan. Anggap semata penghiburan pada peringatan keterpenjaraan" tuturmu di atas permukaan teh itu dan membiarkan gaungnya bergetar ke permukaan gelasku

Aku mencibirnya diam-diam aku tak pernah percaya akan permohonan atas lilin ulang tahun, atau pada bintang yang terjatuh tetapi aku mulai memikirkan apa yang kuinginkan dan tak bisa mencegah pikiranku. Ia bukan semata lilin di atas kue tart atau bintang yang jatuh atau angka-angka yang berulang tiga kali. Ia nyata. Duduk bersamaku meneguk teh itu.

"Apa yang paling umum diminta sesorang yang berulang tahun?"
"boneka, kekasih dan sepeda."

Aku mengangguk, masih menimang pilihan-pilihanku. Semua hadiah itu berwujud. Seperti yang terlintas pertama kali ketika aku mendengar kata "hadiah" dijajakan di koridor penjaraku. Sementara aku bukan materialis. Jika kejujuran memporak-porandakan ilusi pada waktu-waktu serupa ini, yang sungguh kuinginkan bukan hadiah-hadiah semacam itu. Bayang berbaris itu masih lekat di wajahku ketika aku mulai memahat konkrit hasrat-hasratku ke dalam wujud kata-kata jawabku.

"aku menginginkan hati. bukan secara wujud organ yang memompa sungai-sungai darahku. tetapi hati dalam substansi"

"Substansi hati"
Kau bersandar dan menengadah pada apungan dedebuan diantara bayang sinar berbaris jeruji-jeruji.
DI keterdiamanmu berpawailah debarku. Bayang jeruji-jeruji itu bergeser. "hati" atau jantung yang kupunya berdegub, memompa darahku cepat hingga payau udara dalam penerbangan berjuta dedebuan itu terusik oleh dentum-dentum debarnya yang tipis, samar dan tajam.

Kau masih terdiam. Tidak nampak keberatan tetapi juga tidak nampak antusias atas permintaan itu. Timbulah cemas itu. Jangan-jangan aku telah mengajukan permintaan yang bodoh atau tanpa sadar kuajukan hanya sekedar hendak menguji dirimu. kegamangan segera menelusup dan bimbangku merajalela.
"Aku hanya ingin sesuatu yang tak konkrit. sesuatu yang bisa kupahami tanpa harus kuindrai. kulihat, kusentuh atau kurabai. "
Sebuah pembelaan dan pemakluman kukibarkan untuk memecah keheningan

Kau tak bergeming ketika mengajukan pertanyaan
"Mengapa kamu menginginkan hadiah yang begitu rumit, sementara dirimu tak lebih rumit dari orang-orang lain yang meminta boneka atau sepeda?"
Tanpa pikir panjang aku menjawab dengan yakin. Namun yang menjawab bukan aku, tetapi aku yang lain yang berjaga di garis pertahanan diriku."aku selalu merasa lebih rumit, abstrak dan tentunya aku tak ingin sama dengan orang lain. Aku membutuhkan sesuatu yang lebih dari biasa"

"Tetapi kalian semua sama. sama-sama tak ingin sama."

bayang-bayang berbaris menggeser segaris bayang melintas di keningku ketika aku bersandar di ujung meja. Kami semua memang sama, dipenjara oleh jeruji dan terseragami bayang-bayang ini. Tetapi kami masih merdeka memilih hadiah yang kami suka.

dedebuan berarak diantara garis berkas cahaya

"kutarik kembali permintaanku"
"Jangan, bukan itu maksud pertanyaanku. Jangan undur dari apapun yang sungguh kau inginkan."
"tidak, aku berubah pikiran. aku tak menginginkan sesuatu yang sudah aku punya."
"Jadi kau sudah memiliki itu? substansi hati? Sesuatu yang tidak konkrit itu?"
"lupakan itu."
"Jadi?"
"Berikan aku boneka saja"
"Aku tak bermaksud mempertanyakanmu. Tugasku hanya mengabulkan. mungkin sedikit penasaran. Tapi Jangan pertanyaanku sesaat lalu mengusik pilihanmu."
"Berikan aku boneka."
kembali bergeser jeruji-jeruji waktu dan bayangnya berbaris laju, menit berlalu, ia tertelan senyap dalam air muka yang masih sama.
Aku kali ini sabar menunggu.

"Baiklah. Boneka adalah tiruan wujud berbagai rupa. boneka apa yang kau kehendaki?"

Aku terhenyak dalam pecah kalimatnya. Aku tak pernah bepikir untuk menginginkan boneka apapun seumur hidupku aku tak pernah memiliki boneka sendiri. Tidak ketika kanak-kanak, tidak juga ketika dewasa. Berkelebat berbagai bentuk rupa dalam bayang berbaris beriringan dalam sel benakku. mana yang hendak kupilih untuk kumintakan wujud sebuah boneka. Wajah-wajah terkasih, binatang yang lucu, tokoh-tokoh dalam kisah dongeng.

aku meraih gelas dan meneguk teh yang sudah mendingin. menemukan dedebuan basah di dalamnya.
beberapa bayang garis jeruji berlalu ketika aku terdiam di depan dedebuan itu
"boneka tungau untuk ulang tahunku"

aku masih mendengar denging permintaanku diantara jeruji dan derap bayang-bayangnya juga gejolak gesa dedebuan terbang ketika kau berlalu. Ritusku genap tersimpul di pengabulan itu.
Di bangkumu tertinggal Boneka empuk berkaki enam, bersungut dan bermata hitam seperti tungau-tungau kecil yang tak sanggup kulihat sesaat lalu di dasar gelasku.


3/22/04

Friday, August 08, 2008

secangkir catatan kental yang hangat manis

aku tahu aku masih menyimpan letupan batu mendidih seperti gunung api resah yang tak kunjung tuntas walau lavanya telah dialirkan ke dalam begitu banyak saluran dan tanggul-tanggul kokoh yang telah kudirikan. aku pun tahu aku tidak akan meletus kemudian mencelakai diriku atau siapapun yang berada di sekitarku, mereka yang mengorbit di lereng-lerengku. Aku akan baik baik saja.
golak batu mendidih tak pernah cepat mendingin. jadi aku akan melahap waktu dengan amat lapar sebelum kelak sungguh menjadi beku.

Dini hari begitu riuh seperti metropolitan dalam kamarku. diriku yang lain hendak tidur dan melupakan. diriku yang lain rindu menuliskan. diriku yang lain masih menggebu,mengklakson, berkelip, bising menyimpan letupan batu mendidih, diriku yang lain bersyukur karena kami semua kokoh tanpa menjadi kebas hati. diantara kami hampir selalu ada cangkir hangat sedih yang diedarkan untuk dibagi. hangat sedih yang kental manis. dicicip bersama. Jatah kami malam itu. Karena kami tengah berdamai. Tak ada yang menolak atau melewatkan gilirannya mencicip. Karena itu rasanya hangat kental dan manis walaupun isinya semata cair sedih yang tak penting buat kami tanggung. Tetapi aku mengatakan ini kepada aku yang lain bukan tentang cangkir sedih itu. Tetapi tentang kami yang jarang berdamai. Kami yang saling menyabot satu sama lain. Kami yang marah karena cangkir itu selalu dibawa datang oleh salah satu dari kami untuk kami semua habiskan. aku yang selalu membawa cangkir itu. aku yang kadang menolak untuk mencicipnya bersama yang lain. aku yang selalu berusaha menggiring aku yang lain beserta cangkir itu untuk manghadapi acaranya cicip mencicip hingga tuntas semua cair kental itu. aku tahu aku tengah berdamai karena cangkir sedih itu terasa hangat dan manis. aku tahu aku tengah berseteru dengan aku yang lain bila cangkir itu terasa getir, langu atau membara didih melukai.

aku lega. ada setetes bahagia. cukup. walau bukan deras air terjun niagara. karena kami saling bicara. aku yang rindu menuliskanmu. aku yang hendak tidur dan melupakan. kami tak sungguh sepakat. tetapi setidaknya tidak saling menjambak. di sini aku tidak tidur dan tidak melupakan, tidak juga menuliskanmu. kami menulis tentang kami. hangat saling mengedarkan cangkir itu. manis setitik demi setitik membuntuti waktu.

8.8.08 9.4

Sunday, July 27, 2008

aspergillus

semua bermula dari keindahan. nama yang seperti rasi bintang. kerapuhan yang seperti bayi baru dibersihkan.
kedap seperti dalam bola kaca diamati dari luar. jalan yang basah, bara yang padam, abu yang lembab.
nafas yang seperti belenggu, nyeri dalam setiap tarikan, demam atau suhu tubuh yang terlalu rendah hingga belulang mengejan dalam gigil. ruang terlalu senyap yang menyulut bising benak hingga melumpuhkanku berhari-hari dari menuliskanmu. kadang jantung di kali lain, paru-paru.
keindahan tidak meminta dirinya. parasit akan mati jika tidak memakan inangnya seperti bayi akan mati tanpa susu ibunya. tanpa dibiarkan mengambil sesuatu sebelum ia pergi. parasit yang indah dan inang yang megah.
entah mengapa kerapuhan selalu lebih indah daripada kekuatan megah yang menakjubkan. kita menonton hari-hari gugurku menjelma secantik sel sel nekrotik. layu menyerahkan diri pada parasitnya yang setia. bertebar mekar seperti rasi bintang. untuk setiap genap kematian bersinarlah satu sel dan langit-langit semakin terang. Ia tak pernah meminta dirinya menjadi pembunuh inangnya. tetapi ia akan terus membunuhnya karena ia menjadi dirinya. Aku sekonyong setia padamu, kamupun setia pada dirimu. kita bercermin sebelum sel-sel itu berlongsoran dan kekuatan itu mencemaskan.
aku yang tepagut keindahan dan perlahan gugur di dalamnya, kamu bermekar kian indah dan puncakmu adalah lenyapku. setelahnya kamu pun perlahan gugur karena tak ada lagi yang tinggal menyusui keindahanmu. kita berdua kalah dan barangkali aku yang pertama menundanya juga yang pertama akan memeluknya.

Monday, July 21, 2008

a message to my future dna

if you can read me, please
don't tore these fickle pages
whenever you see ugly passages
written in my face
i was written and re-written in the darkness
while i was falling for you, the light
my scrutinizing bright

Saturday, July 12, 2008

seorang yang duduk tak jauh dariku

berjam-jam bahkan mungkin berhari-hari sudah ia duduk tak jauh dariku. Tak bersama namun juga bukan orang asing. aku mengenalnya. Tak semata mengetahui nama dalam sekali jabat, atau seasing tahu ia siapa dari membaca kartu identitas pegawai atau supir taksi.
ia angin yang dingin. diamnya membuat gigil, sementara kata dalam cerita-ceritanya runcing. sudah berjam-jam mungkin berhari-hari. cahaya di jendela tempatnya duduk tak jauh dariku sudah berubah terang dan redup seperti cerah dan mendung berulang barangkali juga beberapa siang atau malam dan sepertinya pernah hujan. Ia tak pernah menanyakan namaku, ia pun sudah mengenalku walau aku tak mengingat sejak kapan. Aku memperhatikan rautnya yang tak mirip satupun teman yang kukenal. aku berusaha mendengarkannya. tidak sulit awalnya.
ia bercerita tentang punggung-punggung yang menjauh, ia bercerita tentang perempuan, lalu tentang perempuan berikutnya, bercerita tentang kamar, tentang jalan-jalan rusak , seorang ibu dibawah lampu jalan yang penuh laron, lalu tentang perempuan lain lagi yang baru lalu. Awalnya tak sulit mendengarkannya, bahkan kutawarkan pula beberapa cerita tentang laki-laki, tentang kamu dan punggungmu. tentang sigaret di atap. tentang jendela pada pukul lima, entah barangkali ada harap yang jauh usai ku menukar ceritaku dengan ceritanya kami bisa tersenyum ketika meninggalkan jam-jam atau hari-hari itu.
ia tak pernah pergi sejak itu. aku sudah tersesat dalam hitungan kapan dan berapa lama, arlojiku lenyap dan yang tinggal hanya bekas lingkarnya di kulit yang lebih putih warnanya di lenganku.
Aku merasa demam dan ingin sendirian, namun ia menjajah hingga ke dalam mimpi-mimpiku tiap aku lari ke dalam tidur bahkan ketika kupalingkan muka berpura-pura lelap, ia di sana berhembus dalam seluruh sadarku seperti angin dingin.

tahukah kamu apa yang orang bilang ketika kita lupa cara untuk berhenti dari sesuatu? "pergi, pergilah, pergi" katanya dalam suatu pura-pura tidurku
tetapi ia yang tak mau pergi kataku dalam hati. Aku yang menahannya di sini katanya. Tetapi aku tidak mendengarnya. aku mengigau dalam demam dan ia tetap duduk tak jauh dariku. mengirimkan debar dan kata-kata itu sekali lagi ke dalam mimpi dan peluh dingin di kening. "pergi" aku mendengarnya samar seperti kata "pagi" yang duduk tak jauh dariku. embun-embun kemudian bermunculan di kepalaku. aku yang merekakan, lucid selagi ia masih duduk tak jauh dari ku. Sekali lagi alasannya bertimbun dalam lapis-lapis yang harus kubongkar satu persatu.

ia membangunkanku, tak peduli pada demamku, bercerita lagi, menghapus pagi di mimpiku. keningku terasa membara. kukatakan padanya aku memahaminya.
sesaat setelahnya kuihat punggungnya sendiri pergi meninggalkan kami. ia masih duduk tak jauh dariku.

Saturday, March 29, 2008

tentang hilang

rapuh adalah hilang yang tak penuh. hilang yang bertahan. sementara kita cenderung mencintai segala yang hilang walau tak seperti mencintainya ketika yang hilang itu ada atau ketika sungguh kembali. segala yang hilang selalu sempurna, setidaknya sempurna hilang dan yang bertahan sempurna adalah ingatan. karena ia telah sempurna, maka genaplah hilang.

ilusi perjalanan

Bebangunan peristiwa tak selalu berdiri untuk dikisahkan. Walau bangunan peristiwa disusun oleh bata waktu. Sementara waktu sertamerta berjalan. Dalam kisah ada keniscayaan perjalanan, awal dan akhir, alur dan jalinan, sementara sesuatu "ada" seringkali jauh melampaui peristiwa atau alasan. melampaui sebab akibat dan urutan. "ada" karena ada bukan karena sebab, atau perjalanan.
Disini segala hal yang ditentukan sejak awal, atau kata determinisme bukan suatu pandangan muram akan hidup yang seakan tanpa pilihan. Pilihan hanya ilusi bayang-bayang yang terproyeksi dari gagasan akan perjalanan dan jalan-jalan serta simpangan dari kurvatur waktu.
suatu kesertamertaan alur, proses dan jalinan. Dan awal akhir perjalanan, peristiwa, waktu, semuanya bergerak dalam satu bingkai "ada". Bukan lagi kisah atau rantai sebab akibat. Bukan sesuatu yang berjalan atau perjalanan. Peristiwa yang tak bisa dikisahkan karena mungkin tak bisa disebut lagi peristiwa.

silent talks

i overheard some talks that weren't there
some talks that weren't there again when you're here
words that drench all over the drapes and sheets
infatuated the air
talks of some hollow's lost as consonants choked and vowels sored

Longing is such a self centered hungriness,
gloriously beautiful in its greed

Friday, March 21, 2008

Catatan dalam "Stendhal Syndrome"

ini adalah catatan ketika ku sekonyong bangun dari tidur.
Waktu yang amat panjang untuk tidur dan terjaga lalu hidup dalam tidur dan terjaga itu seringkali menyamarkan batas keduanya.
Sering aku tak sungguh terjaga ketika bangun atau hidup. Sering aku lari dari hidup yang terjaga dengan tidur ketika bangun.
Tidur dalam larut kerja berkepanjangan, tidur dalam memilih pengabaian, bermimpi sambil hidup sehari-hari atau semata memejamkan mata dari sadar dan hidup, untuk lari, untuk jeda, untuk kemalasan menghadapi. Karena sesekali berjalan hidup sambil memejamkan mata terhadap segala lebih mudah daripada bangun dan menghadapi hari. seperti kanak-kanak yang memejamkan mata ketika takut atau sedih lalu mengucap permohonan atau sekedar menangis mengusir segala yang ofensif dari keterjagaan hidup, atau memejamkan mata menanti kejutan atau memejamkan mata ketika mata mengirimkan pesan bahwa ia telah kelimpahan sensasi keindahan dan kita memejamkan mata untuk menikmati puncak-puncak indah yang menyambut hangat seperti teduhan siang. Terjaga, dimana mimpi buruk atau mimpi indah tak sekedar lenyap ketika bangun tapi harus dihadapi. Bangun dalam jujur, bangun hidup dan sungguh hidup dalam bangun.

Tidur yang terjeda itu sarat dengan dirinya. ketika kutemukan aku tengah terjaga. Sebuah terjaga yang sempurna ketika ia masih lelap, sementara pagi jelang siang cukup teduh di jendela kamar. aku bisa memandanginya cukup lama untuk mengguratkan dia dalam ingatan. Cukup untuk mampu bertahan berpuluh tahun lamanya. Ia dan beberapa ia lain yang lelap di kasurnya, ia yang antara pejam tidurnya dan jejak bincang sebelum lelapnya genap membuatku melihatnya seperti bukan ia yang kukenal. aku melihat laki-laki, perempuan, dan kanak-kanak yang semua adalah dirinya bertahun silam. Tahun-tahun sebelum aku mengenalnya. Dalam lelap itu ia bersilih lebur antara gelora dan keteduhan, laki-laki dan perempuan dan ketika aku memalingkan pandang yang tertinggal di citraan tidurmu adalah kanak-kanak yang ramping bertulang jenjang, seperti bertahun silam telah tidur dengan celana pendeknya, lelap dengan kaki tangan lentang ke segala arah, lelah seperti habis main di luar rumah seharian. Sebuah genap terjaga yang membuatku memandangnya sekilas namun sanggup merekamnya di benak seakan dalam durasi berjam-jam. Tetapi aku tak hanya memandangnya berlama-lama, aku menginderai hadirnya. mendengar nafasnya yang teratur di kulitku dan ringkuknya di punggungku, debar jantungnya yang menggetarkan pelan helaian buku yang kubaca sembari menunggui ujung pejam nya. Aku mengalami lelap tubuhnya dan mengintip ia yang lain yang apung terbebas dalam tidurnya.
Sebuah terjaga bisa demikian jernihnya hingga aku tersedak oleh teduh yang deras dan indah yang berkepanjangan. Aku tidak tahu persis apa yang membawaku terjaga ke ruang-ruangnya, menemukan tidurnya, karena aku memejamkan mata dalam perjalananku ke sana. Memejamkan mata karena pesimisme akut akan hidup, atau sejenis amarah atas harapan yang mulai tanpa ampun menyusup seperti alir kapiler.
Memejamkan mata dalam tidur yang tak kunjung datang. Lalu aku tiba-tiba terjaga walau aku tak pernah sungguh tidur dalam pejam, terjaga jernih dan gemetar. Karena aku juga yang membiarkan diriku datang ke ruang-ruangnya di mana kutemukan hatiku telah lama mendahuluiku di sana. Bercerita seperti air terjun tentang segala. Bercerita seperti gambar lelap tidur yang kulihat di kasurnya, hatiku dan wajah-wajah itu, wajah yang hatiku kenal terlebih dulu, wajah kanak-kanak itu, perempuan itu, laki-laki penuh gelora itu, wajah-wajah darimana semula aku berusaha lari, karena kutahu ia akan menawanku dan dalam tawanannya aku akan kehilangan hasrat untuk melawan atau meloloskan diri. hatiku mendahuluiku dan kami bertemu kembali dalam keterjagaan itu. terjaga yang sempurna ketika tidurnya masih lelap sementara pagi jelang siang cukup teduh di jendela kamar...

Wednesday, March 12, 2008

tentang lautan kecil tempat aku terbenam

embun, nafas yang tahan menggantung
seperti sekali waktu sebuah andai
aku terbangun di lautan
tetapi seperti malam kesekian aku hanya bangun tersedu
lautan itu kecil
hanya bercak dingin di seprai
langit yang beranjak terang menguapkannya jadi amarah

di tanganku pernah dituliskan rencana
rencana yang kuminasinya pengap dari malam ke malam
di rahim ku, terbunuh mimpi, tak akan ada hidup lahir
karena aku yang melarang kesedihan datang
sekalipun ia datang bersama kehidupan

Monday, March 03, 2008

Sehelai Bulu di Perairan Pasang

Kesedihan berkibaran di temali jemur angin mendung.
noda getah nya mengering di hembus yang sejuk. sejuk yang mendahului jutaan partikel air yang segera limpah terjatuh dari langit ketika mereka menghambur pulang ke tanah.
Seperti dorongan samar aku yang hendak pulang. bukan lagi padamu tetapi darimu.
langkah yang kuayun menyejukkan namun tak terelakkan dingin getir menyurup pelan.
Sejuk dan getir seperti mendung. Jenuh risau yang jatuh berdebam memercik dingin seperti ingatan akan rerintikan pertama.

Aku terdiam ketika kita berhadap bincang di ruang hari berawan. Bukan karena habis kataku atau tak tersisa ruang untukku. Aku tiba-tiba ingin kau yang mengisinya dengan dirimu setelah sekian lama garis hidup kita menyilang. Seperti ruang-ruang yang pernah kita endapkan bertahun lamanya. Aku terdiam bukan karena hilang kata.
Bicaraku selalu tandas dalam berisik dialog yang tak kau baca.
Bukan karena kau buta aksaraku namun karena kau sibuk membacai dirimu.
Kamu masih saja banyak bicara seperti terakhir kita berbincang dan aku masih saja damai terdiam di naung gelombang riak-riak ceritamu, di bebangunan epik hidupmu, yang kaudirikan, kaubongkar dan kau bangun lagi di atas kepulan asap rokok putihmu dan geming poci-poci chinese tea.

“Chinese tea.”

kita pernah mengucapnya bersamaan tanpa sepakat. ketika serentangan tunggu berdenting diatara gemericik air dan sofa lunak oase metropolis itu. Dan itu terulang tak hanya sesekali atau dua. kerap kita menginginkan hal sama tanpa sengaja. Seperti kanak-kanak bersaing akan kepemilikan sekaligus saling berbagi kegemaran. ketika tarik ulur tipis antara bersaing atau mengalah dan ketika kuat, saling menyenangkan hati. seperti warna gaun, seperti juga buku, seperti banyak hal yang sama kita inginkan untuk impian yang berbeda walaupun kita seakan-akan sama.

Sepanjang perjalanan kendara kita di peranginan itu, kau putarkan le jour de la cotê, bukan buatku. Dan aku tak keberatan mengapung dalam irama hatimu. Tak keberatan ritmemu menarikku mundur pada layar waktu semenjak terakhir aku berkendara denganmu. Kau putarkan musik itu buat dirimu yang selalu bermimpi untuk tinggal jauh dari sini, di sebuah pesisir dengan empat musim yang belum pernah kau kunjungi. Dan aku menikmati khayalmu yang serupa kanak-kanak itu. jernih dan lugu seakan tak sungguh tahu. Impianmu yang tumbuh terajut karena kau selalu larut dalam bayanganmu sendiri akan romantisme yang kita lihat di film-film atau di jendela-jendela berdebu dekat rak bukumu dan aku tak pernah mencelanya atau mengoloknya seperti aku mengolok diriku ketika menjadi seperti dirimu.

Aku selalu memahamimu nyaris seperti membaca diriku sendiri. Karenanya aku tak perlu banyak bicara. Dan kamu pun tahu ucapan-ucapanmu tidak pernah membentur tembok atau pagar-pagarku dan kamu selalu dapatkan waktu-waktu bicara kepada diriku bukan hanya padaku.

Kamu tidak pernah takut debur emosimu itu jadi olok-olok di benakku. Atau kamu tidak peduli cibiran orang akan kecengengan romantisme. karena kita naif, karena kamu bersemangat, karena kamu pecinta, karena kamu semua hal yang aku ingkari dalam diriku.

"Aku ingin mie kangkung dan segelas jahe”
(lalu menyeruputnya hangat seperti menikmati cair rindu yang leleh di perutku)

Kau terhukum dalam penjara melankoli sejak dilahirkan dengan limpahan ninabobok rasa nyalang itu. Sementara dalam dekam kita, aku mahirkan diri untuk lolos. Tetapi kau justru mencintai penjara itu. kau terlalu mencintainya. Menikmati nya seakan tempat itu rumahmu. Aku membiarkan pilihanmu terlebih lagi aku tak tahu apakah untukmu, tanah datar lebih baik daripada penjara melankoli ataukah justru sebaliknya? Itu bagian dari perjalananmu yang tak bisa kubanding dengan jalan-jalanku. Yang jelas aku selalu disini mendengarkan catatan-catatanmu yang tak kau susun runut, spontan dan berdegub hidup. Aku telah belajar untuk tidak buta aksara dirimu. Aku pun perlahan tumbuh menikmati kemampuanku membacamu dan bicara dengan bahasamu.

"Semangkuk mie kangkung dan segelas jahe, keduanya sama hangat seperti dua macam rindu."
(rindu-rindu yang terlalu hangat untuk kuizinkan terampas salah satu)

Wajahmu yang lapar mencerah, Letupmu naik dan turun, ritme semangatmu dan golak lonjak benakmu kau ucap tanpa terbata, walau sesekali kamu melupakan kata, Dalam sendat itu aku yang selalu mendahului mulutmu menangkap benakmu dan tanpa ragu mengisikan ruang kata yang hilang di medan bincang kita itu untukmu.

Melihat arusmu aku melihat arus diriku sendiri dibawah permukaan datarku. Semua jadi nyala dan bersuara di letupmu, aku melihat diriku. Diriku yang tanpa pagar, tanpa pertahanan.
Seperti aku yang tanpa perlawanan terseret arus ke dasar legam seorang asing. pusaran arus yang terlalu kuat dan tak kulepaskan karena keinginanku pun demikian kuat untuk hanyut. Walau hanyutku itu memar karena aku tak bisa larut ataupun surut serupa pusaran atau arus-arus itu, mememarkan karena memar adalah harga yang harus kubayar untuk tetap menjadi aku.
Aku yang terus terseret pusar arus yang merampasku dari tuturan cairmu tanpa kau tahu.

Kau juga tidak tahu yang beruntuhan di bawah cerita-ceritamu tentang masa lalu dan masa depan. Ketika langlangmu ranum tentang yang tidak kau ketahui tentang dirimu yang kini dan apa yang kau harapkan dari masa depan ketika kau tidak tahu tentang masa kini. Seperti kau tidak tahu yang diam-diam bergerilya di langit benakku, yang bergerilya di bawah untai untai katamu, dan yang bergerilya di balik terik pedih mataku yang lepaskan kembaranya sendiri kadang jauh meninggalkan celoteh narasi karibmu. Aku terkadang seakan berkhianat pada curah kisah-kisahmu. duh, maafkan aku, tapi andai kamu tahu, kamu pun akan memahami itu seperti aku terbiasa membacaimu huruf huruf di matamu lebih dari ocehan bibir cangkir kita bernoda lipstik yang lelah karena kau tak henti mengurai dirimu, bentangan bicara yang serupa diriku yang kusembunyi.

"wajahmu seperti sore dan aku semangkuk mie kangkung hangat yang beranjak menjadi dingin di peranginan bekumu yang menghantui"

ceguk hangat lagi seiring getir itu meleleh diantara dengarku akan celotehmu. Bukan karena hadirmu atau kata-katamu yang sesekali menusuk ke rusuk ku seperti gelagap, penuh ruah kejujuranmu. kau selalu jadi juru bicara kejujuran dengan kepolosan letupmu yang tanpa suara menamparku ketika aku mulai menutup telinga dari mendengar suaranya di hatiku sendiri, kau selalu yang menyaringkannya tanpa kau sadari. Dan aku disana selalu tercenung dan tergagap akan cermin diriku sendiri yang berusaha kupecahkan karena takut. karena gelisah. karena pagar pertahanan yang kubangun untuk melindungi diri. aku begitu pengecut di bawah suar kata-kata mu yang nyaring. Tegak, lantang dan sembrono. aku mengagumi sekaligus memprotesmu berulang kali dalam diriku. Tetapi tak pernah terselip jedamu membiarkan kata-kataku menetes ke keningmu yang mengelupas kering itu dan aku menunggu, menyimpannya buatmu.

"aku haus.."
"kamu tak perlu segelas jahe"
"berikan padaku sisa-sisa teh di poci"
"poci itu tandas di cangkirku"
"cangkirmu dan noda lipstick itu, tadi pagi aku tidak memulas bibirku"

dibawah frekuensi suaramu, aku berperang dalam getar getir alir bayang benakku sendiri.
frekuensi yang barangkali kau tangkap samar di selaput dadamu. ketika aku merasa menjadi seperti hantu dan aku menggapaimu diam-diam untuk menolongku walau tak sepatah katapun keluar dari bibirku.

aku tidak pernah memilih menjadi seperti fantom yang dilupakan oleh masa ketika berlalu.
Tetapi aku bersedia menjadi hantu-hantu itu demi satu hal yang barangkali hanya kau yang naif dan aku yang bodoh membiarkannya baranya erat tergenggam dan melepuhkan.
Kita selalu kehilangan diri karenanya dan kita merelakan diri-diri yang hilang itu demi kenaifan yang tidak pernah remeh untuk kita.

aku tersenyum. Sembunyi dibalik punggung narasimu dari sekelebat kebanggaan yang membuatku terlalu angkuh untuk mengakui lututku yang lemah di arus pusaran yang membawaku terbenam jauh ke dasar mendung. Membiarkan pengakuanku diam-diam menjarah sadarku dari keluh-keluh karibmu dan hanya kamu yang tidak akan mentertawakan cinta. Ketika itu yang kutuduhkan sebagai jawab alasan segala kebodohanku.

Kau tidak pernah peduli menghitung harga kebanggaan dari tidak menjadi seorang pandir.
Harga terantuk bebatuan dan melenyapkan diri menjadi seolah bayang-bayang.
Batu-batu di jalan yang kemudian tersusun bangun menjadi rumah kehidupan. Sementara kutemukan rumahku sendiri di gaung fantom nadirku pada sudut-sudutnya. Aku menumpang tinggal dalam ada dan tiada naungnya.
Rumah itu bukan tempatku, Aku diundang tinggal dalam serentangan waktu yang pemiliknya sendiri tak akan tahu. Tinggalku yang sisihkan kenang sebagai hadir yang tak lekang di bebatuan bangunannya. Seperti sebait, dua bait puisi temtasi oleh hantu-hantu hasrat yang mengalir dibawah hidup. Hidup yang terjalin terlalu sempurna untuk bisa kuretas lagi.

kamu pasti tak mengerti. Mengapa aku nanti akan tiba-tiba bicara tentang hantu. Dan aku akan kesulitan mengurainya di tengah deras alir katamu yang menggulung-debur. Dan kikis benakku dihempas oleh ombakmu dan ombak bathinku sendiri yang menangis penuh gairah oleh badai-badai emosi kita yang berduet dalam nir jeda.

Aku memilih menyimpan bincang itu sekali lagi dibawah frekuensi dengarmu, dibawah arus deras kata-katamu, bergerilya diantara sirat bibir dan air mukaku yang tak membeku mendengarkanmu. aku terbiasa menggantikanmu bercakap untuk diriku sendiri, menjadi dialog hantu yang tak pernah terjadi namun meninggalkan jejak gema dan getarnya seperti sentak trauma yang manis ketika aku dikejutkan oleh kejujurannya.

"Bermangkuk-mangkuk Mie kangkung tak akan pernah mengenyangkanmu."
"Dan kelaparan tak pernah surut menggentayangi malam”
"seperti kita.."

(sejenak ruang itu terbuka untuk gelak tawa yang tak kunjung terisi bunyi).

Aku menunggu, kau menungguiku menunggu. Sekali lagi kita tiba di insiden itu.
Seperti dua poci chinese tea dipesan bersamaan di atas meja ruang hari yang berawan.

Jemuran berkibar-kibar seperti kesedihan. Menggelepak tersedak deras angin tanpa teduhan.
kamu telah menumpahkan sisa chinese tea kita di lanskap mendung. Kemudian aku mulai merasakan kosongnya membawaku ringan dalam lepas tanpa pedulikan hembus sejuk yang resah. Seperti bayang itu buatmu. seperti hantu atau semata mahluk tanpa preposisi. Seorang hantu? seekor hantu? atau sekedar hantu? hantu yang dibicarakan semua orang namun hanya disapa oleh segelintir yang dilahirkan untuk menyapanya. Tetapi barangkali hantu-hantu pula yang memilih segelintir mereka..

"aku harus pulang, mengapa hari tak kunjung malam?"

Kamu pergi di setandasnya cangkir, sebelum aku sempat luruhkan padat awan di dadaku itu ke tanah-tanahmu. Kemudian mendung seolah tak akan pecah, dan rotasi henti dalam langit yang selamanya menunggu, siang atau malam yang kehilangan rupa di permukaan teh kita yang mengampas. Tetapi kau masih saja bicara ketika kau tiada.
Hingga aku rindukan tanya atas celoteh yang masih bersahut di kepala. Sungguhkah dirimu atau aku mendengar riak-riakku sendiri yang kukuburkan dari jalan-jalan kita, dari tubuh yang kubawa dan kuseret dihadapan segala. Rapat menyembunyikan ceruk sedih yang lepuh beerupsi seperti percik dirimu di sepanjang suatu jelang.

Jejak lipstikmu kuusap ketika membilas cangkir kosong dengan ampasnya di peranginan jelang hujan yang tak kunjung datang. Aku terjaga telah mengabaikan bicara-bicaramu dan membangun narasiku sendiri diatasnya, menjadikan kata-katamu pijak sebelum aku beterbangan meninggalkan beranda sadar kita, mengundur diri ke ruangku sendiri.
Surut dari bayangku akan kecewamu sejak aku meninggalkanmu terlebih dulu walau tubuhku masih tinggal mendengarmu.

"aku tak mendengar kalimatmu yang terakhir"
"aku tak mau mendengarku mengucapnya lagi"

Kau pun mengering dan aku menguap. Kita barangkali terlalu banyak bicara. Kamu dan segala ucap bibirmu, aku dalam riuh rendah di kebisuanku. Kita jadi terlalu berat dan penat oleh kata. Gerah ditekan Jutaan butir air yang masif dan menjenuh pengap jauh diatas ubun-ubun kita. Mereka tak tahan lagi oleh gerah keinginan menghambur jatuh memeluk tanah. jutaan mereka yang mengeluh padaku akan uap chinese tea kita, menyerakan serpih kata-katamu dan catatan golak dibawah permukaanku.
Mereka terlalu sarat akan masif jutaan serpih yang seperti kita. Mereka terhukum oleh sisa chinese tea yang menuturkan lagi pikiranku, pikiran kita. Mereka renta, tertempa masif cerita dari cair berjuta cangkir atau percik aksara. Aksara bakal embun yang endapnya genang dalam menunggu jatuhnya. jutaan mereka yang haus rindukan rebahnya kembali ke talang-talang berdentingan, rindukan pulangnya ke langit, bahkan sebelum habis rindunya terjatuh ke liang-liang bumi. Namun raksasa waktu tak murah hati biarkan rontoknya tuntas dan basah. Menyudahi dialog demi dialog tak berujung antara aku, aku dan kamu, kita yang terlampau telah, terlalu banyak bicara dalam bahasa masing-masing. Tanpa banyak berpaling, punggungi memar cecar kerinduan dan kepulangan. Merintikkan kata yang kucerap darimu di suatu waktu:

“Pulang pada ku, bukan pulang dari ku.”



Desember 2003-2005

in a lap of luxury, a luxury of grief

a home in the luxury of grief. a warm resting place for broken creatures,
creatures like you, human and i, a creature in the absence of you, and what seems left in your void is anguish. an idyllic anger as all i was. Worse than sadness yet stangely suits better.
but the truth is, who were falsely at peace is locked between myself and i, danggling in a fine thread of hope. nay, a graveless hope. crawling, flying, dusting over this shiny overrated thingy called life


.....

sebuah pesan membanjirkan debar silam. sebuah hadir lalu selautan sepi yang gamang. kesempatan bertemu yang terlalu mahal lalu kulewatkan, ilusi tentang ruang-ruang tunggu yang semakin nyaman. bunyi detik waktu di dinding yang memabukkan.
ruang tunggu yang kuperdebatkan, ruang tunggu yang mungkin hanya harap-harap kosong dari kata-kata yang telah pergi jauh hingga sesuatu bernama kejauhan hilang tertelan. konspirasi kosmik yang keji dalam serentangan waktu yang belum bergegas usai, menggali paksa kekosongan senyap yang lebih mirip sebuah ketidakberdayaan. keluhan manja berkepanjangan, kepentingan hidup yang dilebih-lebihkan, lalu simpul amarah lagi. amarah atas lemah. lalu pendamaian. keniscayaan mekanisme perlindungan. kenaifan yang sepeti kutukan.

Lalu sertamerta sebuah jeda sebelum gapaian. kadang sejenak kadang berkepanjangan. lalu gapai untuk imbang itu datang bertubi-tubi. Gapai yang seperti kecemasan yang mencari kelegaan atau pertolongan kepada kamar-kamar yang tenang di masa silam atau semata seseorang yang lain, awalnya seperti kenangan, gambar seyuman, wajah yang masih karib, seperti sedak hangat yang lalu leleh mencekam. gapai jemari ke pesan-pesan singkat yang sering tak pernah dikirimkan. karena pesan-pesan itu hanya gapaian. kadang sebuah ketuk di pintu, kadang jeritan yang terbungkus sebuah ketikan.."hi" atau ":)", kadang bermacam gamang yang hanya disederhanakan dalam sebutan rindu, kadang gejolak hingar bingar yang begitu cemas menjadi picisan hingga ia tak pernah dikirimkan atau dibicarakan. kadang terkirim dan tak bersambut kadang tak terkirim karena ketakutan akan gapaian yang tak bersambut lebih memerihkan daripada akar gapaian itu sendiri.
tapi aku tak berdaya tak menuliskan gapai-gapai itu, di-permisi-kan pada tiap jendela taxi dan kendara-kendara malam yang panjang, di setiap keterdiaman, di setiap bantal dalam remang sebelum lelap lepas berlayar, pada langit di atap-atap kota dan balet layang-layang. bukan dengan kode sandi, bahasa rahasia yang akan dipecahkan ketika ditemukan. gapai-gapai itu debu. lenyap tersesat sehabis penebangan emosi yang terasa megah terartikulasi.


3/26/07

Saturday, January 26, 2008

Pengakuan Pencuri

Apakah kamu pencuri? apakah kamu mencuri karena lapar sepi? ataukah kamu mencuri karena tak punya hati? sendirian itu mudah, menjaga keseimbangannya tidak. sendirian itu rumah yang hangat, penuh, terkunci. kokoh menjulang tinggi. Penghuninya tak perlu lagi pergi, atau menyeberang jalan ke halaman-halaman asing. Begitu angkuhnya ia menjadi rapuh. segala yang rapuh selalu indah segala yang indah karena rapuh itu sedih. demikian amat sedihnya ia menghancurkan hati. Lalu selalu ada dahaga sepi yang menjulang semahal hati. Karena rumah itu tak lagi membuka pintu untuk penghuninya keluar ke jalan atau ke pasar dan penghuninya tak selalu punya hati. Di dalam rumah hangat terkunci itu aku lapar, maka aku keluar mencuri. bukan mencuri hati, mencuri penawar dahaga sepi yang harusnya dibayar dengan hati. Aku pencuri menyelinap ke rumah-rumah dan halamanmu. Tak pernah tawar lapar itu karena aku hanya selalu mencuri. Apa yang membedakanku dengan pencuri roti? mereka tak punya uang sementara aku tak punya hati. tetapi kami sama lapar dan ingin memiliki.

Wednesday, January 09, 2008

pot di depan jendela

terlalu banyak puisi yang ditanam setiap pot depan jendela
entah kering atau berbunga
sejenis bahasa kode planet-planet kecil dibalik tirai renda
dan pengurai sandi, embun kaca

pintu-pintu terkunci bertulis "vakansi"
kotak posnya, satelitku beralamat jarak
mengorbit dalam senyap yang tersisih
tak ada bercak rindu, atau haru biru
hanya debar berkeping yang jatuhnya tak kunjung sampai ke tanah
berbulan, berpanjang-panjang

dalam rentang yang kutempuh ketika jatuh itu ada pemandangan
jendela-jendela berpot dan penghuni yang sama
:melambai, "aku tak berhasrat pulang"

kerlip

Sebuah pertemuan, barangkali dengan sedikit perbincangan, pergi meninggalkan karib, manis, apung, lalu arus degub asing dibawah bayang-bayang ingatan yang segar akan pertemuan yang baru lalu itu. arus menderas degub asing yang mirip sejenis nyeri. seperti warung yang nyala di malam buta memajang rupa-rupa nyeri yang bukan sedih dengan label merk warna warni bertuliskan bahasa yang tak kupahami. nyeri akan jarak yang tak habis dibakar dengan berbatang-batang kretek atau nyeri akan tercecernya banyak kata-kata sebelum mencapai pengungkapannya. nyeri akan gemetar yang riuh tanpa diundang. nyeri yang tidak menyakiti, hanya semacam rasa disorientasi. Nyeri yang berkelip-kelip ketika pemandangan perjalananku setelahnya menjelma redup. nyeri ganjil tanpa alasan ataupun luka. hanya nyala terbalik kegelapan, dan terang yang bergerak kelam. seperti klise film. kerlip yang membuatku menemukan diriku yang lelah, menerangi jengah yang mirip amarah atau barangkali semata-mata lelah. nyeri yang berkerlip tidak hanya seperti cahaya tapi juga bergerak seperti suara. suara yang berkerlip mengedapkan telinga. kerlip yang merampas bunyi sikat gigi dan kucur air di wastafel, bunyi tv menyala, motor di jalan, kipas angin, jendela yang dikunci, lampu yang menyala, kunci yang diletakkan di meja, gelas yang dituangi air.
kerlip yang melelahkan. kadang meletup memualkan, namun sesaat hanya melelahkan lagi, lalu menenangkan, lalu kembali memualkan atau melelahkan. semacam lelah menemukan diri atau kehilangan lagi. lelah terjaga dan lelah tertidur, lelah beranjak pergi dan lelah beristirahat dalam ingatan-angatan lampau, lelah menjadi perempuan, lelah menjadi laki-laki, lelah memiliki kelamin dan lelah meniadakannya, lelah memanjangkan rambut, lelah mencukurnya, lelah dihantui kata, lelah menuliskannya, lelah menjadi hari, lelah menjadi sebuah tunggu.
Tetapi tak ada satu pun lelah yang cukup untuk jadi sebuah kerlip nyeri hari itu.
nyeri usai pertemuan manis, barangkali usai perbincangan akan pertemuan itu di dalam kedap jendela taksi yang bergerak tanpa hujan di musimnya. tanpa gerah, tanpa alasan yang cukup untuk keluh kesah. tanpa sedih tanpa luka. hanya nyeri yang tidak menyakiti ketika ada degub pada ingatan seusainya. tanpa keistimewaan namun juga tak biasa untuk jadi sekedar biasa. ada sebuah kematian dalam keterasingannya, kematian dalam nyeri. begitu lazim dan terasa asing. datar dan sempurna. terang dan gelap terjungkir, lalu kelabu biasa yang membuat gila.

Monday, December 03, 2007

kebiasaan menuliskan hujan

Sebuah kebiasaan lama menuliskan hujan. seperti dorongan untuk menyalakan rokok di bawah tampias. semacam kesenangan. hobi yang sudah terkikis ketekunannya jadi semata kenikmatan kosong. menuliskan hujan ataupun kertas-kertas dinding dan sofa yang basah oleh deras, tanpa catatan bahwa padahal pintu dan jendela tak pernah kubuka. menuliskan jutaan senar di peranginan, sebuah beranda tanpa pijakan, sebatang kretek pada tampias arakan. terpaan manis angin dan berlewatan kerajaan hujan. klise.

cerita lama, serigala yang kehujanan. gemeritik asap dan bara setarikan demi setarikan. menkatalogkan tiap abu gugur setiap habis beberapa gemeretik nyala. padam dalam angin sebelum basah. debu yang lembab, cikal becek yang masih panjang dalam megah. bukan lelah, untai pertanyaan, debar yang diterima damai sebagai keniscayaan atau kesertamertaan.
lalu sejenis rindu, sebuah penutup yang paling klise. Lebih klise dari tiramisu, atau puding coklat di setiap makan prasmanan. lebih membosankan dari diskusi-diskusi dan istilah dikotomi.

apakah kamu menyalakan rokokmu? membakar gemeritik kanopi jarak dari sisi sebelah sana? seperti aku membakarnya berjam-jam supaya jarak itu habis? kita tak pernah merokok di depan tirai hujan. Hanya aku yang melakukannya setiap menunggui jarak, menonton ketidak hadiran. menikmati semacam kesenangan sendirian, hobi yang sudah terkikis ketekunannya jadi semata kenikmatan kosong. klise. seperti menuliskan hujan setiap kali hujan turun.
karena hujan itu membangunkan kelelapan tertentu, atau malah melenakan sebuah keterjagaan? karena hujan indah dan keindahaan adalah yang hal yang sulit disikapi. sulit dihadapi. menghabiskan kata. membuat gugup.

Tidak begitu jelas kebiasaan ini, menuliskan hujan, atau menuliskanmu dengan hujan sebagai alasan? kenikmatan yang kosong. sekosong abu keretek gugur yang padam oleh angin sebelum disentuh basah, lalu sejenis kerinduan, klise.

Saturday, November 24, 2007

of some glorious years

Berdiri di sebuah plaza yang tak menyisakan tempat duduk, aku minum sehabis mendentingkan gelas dengan seperempat isi di gelasmu yang penuh. "for our glorious years", kataku. Kamu menjulang tinggi dan tersenyum, atau mungkin juga tertawa sedikit, aku tak mengigatnya tepat, karena bulan penuh di atas kepalamu sekonyong benderang seperti senter yang membongkar pojok-pojok ingatan bertahun lalu di kepalaku. it was indeed some glorious years. Seperti frekuensi khusus denting sebuah gelas dengan seperempat isi pada gelasmu yang selalu penuh. Aku menemukan perayaan yang ternyata sudah berlangsung agak lama di dalamku dan untuk mendentingkan gelasku di gelasmu, aku tak secuilpun risau walau mempertaruhkan reaksi alergi gatal-gatal kemerahan di kulit dengan seperempat saja isi gelasku. Aku alergi terhadap alkohol seperti bertahun lalu masih, sementara gelasmu selalu penuh and it has always been glorious bahkan untuk gatal-gatal alergi dan gelas yang tak penuh.

parfum lama yang terabaikan itu yang membongkar ingatanmu. ingatan yang begitu sempit akan ruang. Bahkan mungkin tak diingat lagi sebagaimana mestinya karena telah tergilas-gilas dengan apa yang begitu kokoh kita percayai hari ini.Wasn't it glorious? Hari itu aku memakainya lagi hanya untuk menyembunyikan bau baju baru, obral 80%, kubeli tadi siang dengan sedikit alasan untuk tidak mandi. Aspek bau, katamu, karena visual telah sering menjadi kebas, kerap berebutan kait dengan banyak hal dalam ingatan. Kebas walau dikemas spesifik bersama bunyi. Parfum yang sama yang terakhir kupakai bertahun lalu, barangkali ketika aku masih memakainya dengan sedikit alasan untukmu and it had been indeed some glorious moments.

our glorious years, ketika perubahan begitu galak dan menghempas-hempas sementara ada hal-hal yang tipis dan sublim tak tersentuh gilasan apapun. some glorious moments yang amat jarang kita lalui bersama, kompetisi for making up excusesuntuk rasa atau semata justifikasi logika, ketika aku bisa mengarang sepuluh atau duapuluh alasan untuk sebuah ciuman pada secangkir kopi setelah itu terjadi, dan kamu mungkin sepuluh atau duapuluh alasan sebelum semuanya terjadi. Atau kita, masing-masing menuliskan tigapuluh alasan agar ciuman dan secangkir kopi itu terjadi lagi. Alasan mungkin hal yang paling murah hati yang bisa kita temui ketika mencari atau kehilangan apapun juga. Sementara aku jadi membangun kompulsi untuk mengkoleksi alasan-alasan kitsch yang barangkali tanpa faedah, semacam guilty pleasure, dan alasan kadang seperti facade bangunan yang tak memiliki bangunan, dibangun hanya untuk menutupi gorong-gorong dan lubang angin kereta-kereta bawah tanah, dimegah megahkan hanya untuk ditinggalkan. Tak pernah penting atau sungguh terdengar karena tak pernah benar-benar tersampaikan atau dibicarakan.

some glorious years yang kita hadapi bersama secara nyaris terpisah, cinta pejal, gelak tawa, perbincangan yang berselisih waktu, perih di kelamin, gunjingan keji, gunjingan asyik, kalimat-kalimat yang gagal menyeberang, sijingkat, rasa sayang tanpa birahi, rasa sayang dengan birahi, kelumpuhan empati, kesendirian yang sebelah, inkonsistensi, orang-orang baru, artikulasi emosi, kegagalan kronis artikulasi, desir hangat di hati suatu hari, tikaman dingin yang asing di suatu bulan, hilang, bersama, lalu dinding, lalu pelukan kawan, lalu ciuman yang sabit, purnama lalu hilang tanpa rupa, lalu kembali sabit, lalu dinding lagi, rekonsiliasi diri, kontestasi yang sembunyi, kekariban itu lagi, kehangatan, keteduhan, memori fantom akan celah-celah, cinta majal, persahabatan, inkonsistensi lagi, alasan-alasan... lalu denting pada gelas bir. yang satu seperempat isi yang satu lagi penuh seperti adanya. glorious.

Sungguh luas kelegaan, barangkali sungguh-sungguh perayaan kemenangan tak hanya untukku, buatmu, tetapi juga untukmu buatku. our glorious years berdenting terpisah. aku dan gelasku, gelasmu dan kamu, ketika waktu membuat kita mendentingkan keduanya, dengan isinya yang seperempat atau penuh atau luber atau kosong, mendetingkannya sebelum teguk, denting yang entah kemudian tercatat dengan bau gelas atau parfumku, there will be always a certain glorious pitch meresonan pada nafas di setiap tegukan di jeda perjalanan dan kejutan of our many glorious years to come

Monday, November 19, 2007

catatan suatu labuh

perjumpaan kita di suatu kali, ketika aku mengunjungi ingatanku lagi, tengah bermain seperti selang air yang terbuka di hari cerah, ada matahari bersinar hangat, tidak terik dan sejuknya butiran air seperti gerimis sejuk yang membuatku lembab nyaman namun tak kuyub, membuatku membuka telapak tangan, merentangkannya, membuka pelukan yang tak menunggu sambutan, membuka pelukan seperti membuka segalaku di detik itu untuk kejernihan, untuk teduhan untuk sebuah lapang yang tak ingin kututup tergesa.
suatu jumpa yang bukan pertama kali. Bukan juga yang paling indah atau berkesan hingga aku mencatatnya dengan segera. Suatu jumpa yang baru membuatku berpikir tentang kata, sempurna, justru ketika lewat berbulan dan aku mengunjunginya lagi dalam ingatan. Tetapi mungkin semua yang sudah genap tersimpan di dalam ingatan selalu telah sempurna. sempurna terlewati, sempurna dialami, sempurna tersimpan.
barangkali memang aku tak mampu melihat kesempurnaan ketika datang pertama, walau waktu kita itu amatlah jauh dari sempurna. tak ada matahari atau selang air. hanya malam dan bangku bangku di jalan, beberapa mangkuk bekas makan malam juga beberapa orang. ada potret-potret, ada lensa dan kamera, lalu dirimu yang membawa segala yang tersisa dalam ingatan itu, butiran air sejuk selang air, matahari yang hangat yang semuanya akan hilang jika tak ada hadirmu di bingkai malam di trotoar jalan dengan bangku-bangku dan beberapa mangkuk dan beberapa orang itu. perjumpaan yang tidak kunamai karena aku apung tanpa tujuan di hari-hari itu, dan berpikir peduli setan akan perjumpaan atau bangku di jalan dan mangkuk dan beberapa orang.
Ketika aku mengunjungi ingatanku lagi aku masih apung tanpa tujuan, apung diam-diam karena aku malu akan hilangnya tujuanku, dan demikian aku mengunjungi ingatan akan kita dengan apung, seperti apung dari satu situs ke situs dan link ke link pada dunia maya, aku apung memasuki situs-situs ingatanku dan menemukan perjumpaan kita di suatu kali.
tetapi mungkin juga aku tak sepenuhnya apung ketika mengunjungimu. Aku mungkin memang mencarimu dan menemukan ingatan itu. sempurna.

Monday, November 12, 2007

atap, badai dan marguerite duras

ada bidang kosong yang luas yang tak terusik deru pompa, atau bunyi kereta lewat yang mengarsir kesenyapan kelam dan lanskap malam dari badai yang tertahan. di ramalan cuaca ada badai. namun tadi hanya angin angin tak beraturan yang lemah di atapku. barangkali ramalan badai itu memicu tubuhku memimik badai tertahan untuk memberi artikulasi bagi sejenis gelora kacau ke dalam memoriku. supaya nanti aku yang kelak bisa mendatanginya lagi dan meretas apakah itu yang kunamai badai dalam folder ingatanku di suatu waktu. aku menghias foldernya dengan menambahkan ornamen kata kunci, "marguerite Duras". alasannya karena aku mengingat lanskap dan tempo moderato cantabile di atap atap tadi. lengkap dengan arsir deburan bunyinya. bunyi kereta mengganti bunyi kapal lewat di jendela. walau aku yang lain mencemooh ornamen ini terlalu genit, berbelit dan sok puitik untuk semata catatan kegelisahan yang lama tidak lagi kukunjungi untuk di catatkan. Marguerite Duras itu keren, sementara aku cuma berkhayal dan mengait-ngaitkan Duras untuk memanjakan diri dalam keindahan kegelisahan. kesedihan itu kemewahan kadang kita memilihnya untuk kenikmatan pribadi atau alasan yang lebih payah lagi, demi inspirasi. ya kesedihan itu kemewahan. karena aku memilih untuk menjadi sosoknya, kesedihan yang berjalan-jalan, merokok di atap lanskap malam, menghirup badai yang tertahan, tergilas oleh bunyi kereta dan merasa nyeri oleh secuil saja gerak gesekan dengan malam, kepak kelelawar dan gesek angin di kabel-kabel listrik. mengamati kegelapan dari kegelapan yang sejujurnya semuanya tak kurang dari keindahan. Dan semuanya itu kunikmati. lalu apa jadinya segala yang bernama kesedihan ketika aku barangkali hanya terlalu manja untuk mengakui bahwa aku bahagia menikmati keindahan dalam rasa sakitnya.

Friday, September 28, 2007

Kutowinangun

: untuk Idaman andarmosoko di hari ulang tahunnya


Pernah, di suatu terang jendela, aku mengirimkan sms yang berisi nama sebuah stasiun yang barusan kubaca dari balik jendela. Nama yang segera berubah menjadi kode-kode biner yang pada akhirnya menjadi kode-kode emosi atau sekedar perayaan memori buat kita, paling tidak buatku.
Nama stasiun yang ini mungkin tak akan pernah berbunyi di ingatanku walau aku pernah mendengarnya. Tetapi di suatu terang jendela hari itu aku sengaja memetik nama itu dari sekian banyak stasiun yang kutahu akan kulewati di perjalanan ini. aku tahu benar sebuah sms bertuliskan satu nama itu saja akan cukup untuk sesuatu, atau sekedar cukup untukmu.

Aku tak pernah mengingat atau memperhatikan nama stasiun-stasiun kecil antara jakarta dan Yogya. Sampai suatu ketika ia membuat sajak dalam nama sebuah stasiun yang terdengar seperti sebuah nama dari Jawa Barat. Nama yang terdengar bagus selayaknya puisi. "Kertasemaya" sebuah stasiun dekat Kerawang. Dari nama itu ia menuliskan sajak panjang tentang keberangkatan, kadang aku mencurinya diam-diam dan menjadikan nama stasiun di puisi itu rumah pulang ingatanku, atau setidaknya batu penanda, titik singgah perjalanan. Sejak itu, aku tak pernah lupa nama stasiun itu. Kamu memilihnya terlebih dulu, lalu pada terang jendela hari itu aku hendak memilih nama stasiun yang lain.

Salah satu hal yang hadir di perbincangan pertama kita beberapa tahun silam adalah jumlah 748 persimpangan rel yang dilewati kereta dari jakarta menuju Yogya. Ya, ia menghitungnya Juga menghafal nama-nama stasiun kecil yang dilewati sepanjang 748 persimpangan itu. Bahkan Search engines manapun belum mendata informasi itu kecuali barangkali jika kita menghitungnya sendiri lewat google earth. Sejak perbincangan pertama itu perjalanan kereta apiku tak pernah sama, tetapi kami ternyata adalah penumpang di kereta perjalanan yang sama. Baru saling kenal mengobrol di suatu gerbong perjumpaan. Memang sudah saatnya saling berbincang walau sama-sama asing berhubung tujuan kereta perjalanan kami masih sebuah teka-teki. Konon jika gerak perjalanan itu konstan, kita tidak akan merasa bergerak kemana-mana. walau pemandangan sawah, pipit dan motor berkendara diantara lanskap liuk ladang yang menghampar tak putus itu menunjukan suatu pergerakan pasti di balik bingkai jendelaku. Kadang teka-teki semakin melebar dan kompleks--dimana national grographic investigate supposed to step in tapi itu tak terjadi--kadang aku ragu apakah dia bersamaku di kereta yang sama ataukah ia di keretanya sendiri, bersisian tapi menuju ujung yang entah barangkali berbeda. karena deru kereta selau terdengar lamat ketika langkah langkahnya dekat

Masih di dalam kereta, entah sama atau berbeda, kadang kami menunggu taksi, keledai, mengendarai kereta atau pesawat untuk pergi dan pulang dari banyak tempat, berpisah, rendevouz, hingga tinggal seatap menggulirkan hari-hari dengan pekerjaan, kesibukan, kebersamaan, dan dulu sekali waktu, dengan puisi.

Puisi sedang vakansi, demikian kami sependapat menjelaskan kemacetan kami menulis. Walau diam-diam tak masalah baginya karena ia mengerti termodinamika. Tetapi ia tak pernah absen menuliskan puisi untuk ulang tahun sahabatnya. Walau imannya kepada puisi pelan-pelan memudar seiring ia menyaksikan orang menyapu di sebuah galeri lalu tertawan oleh puitisnya performance art. Demikian untuk tetap menulis puisi-puisi ulang tahun itu ia harus berjuang seperti anak muda memaklumi orang tuanya yang renta dan rewel. Setelah itu semua ditaklukan, puisi-puisi tetap vakansi, setidaknya untuk aku.

Di jendela terang kereta hari itu aku sengaja mencari satu nama stasiun. Sebuah kode sandi efektif yang akan menyampaikan pesan bahwa aku tengah dalam perjalanan ke Yogya dan tak sempat menitipkan rumah atau tagihan listriknya, Juga bila dipecahkan dalam metode lain bisa berbunyi "aku mencolek bahumu dari sebuah jarak yang tak ada artinya, mengingat perbincangan kita sejak pertama hingga kertasemaya, Mengingat bahwa hari sebelumnya kamu harus berjuang untuk menelponku ditengah pekerjaan. Mengingatmu merespon sms curhat hal tak penting tentang fantom-fantom cinta lama. Mengingatmu peduli, mengingat puisi-puisi ulang tahun, mengingat pancake, mengingat yahoo messenger, mengingat tangis bintang di atas sprei, mengingat asuransi kematian, mengingat Al dan teori relativitas, Wolfgang Pauli dan schrodinger, mengingat kuanta-kuanta yang tak selesai yang sulit sekali kucerna, mengingat kompleks dan berwarnanya pemandangan jendela kereta-kereta kita yang belum kelihatan datang."

Kalau waktu sungguh akan berhenti tatkala kita bergerak dalam kecepatan cahaya, satu nama stasiun yang kuambil acak itulah kejadiannya. kejadianmu yang tiba-tiba menghentikan macet, walau terpatah aku berhasil mencatat lagi sedikit benak-benakku, setidaknya untuk bekal kereta menuju ulang tahunmu. walau puisi lagi-lagi masih bertahun cahaya jauhnya. Tetapi di suatu jarak tempuh pasti yang kulalui, nama stasiun apapun yang kubaca acak untuk kukirimkan dalam sms itu pada akhirnya juga tempatku singgah, berlabuh tanpa jemu. Stasiun yang bukan lagi "kertasemaya" dan tak akan lagi "kutawinangun" melainkan perhentian kereta-kereta yang menemukan namanya bukanlah semata sebuah singgah, namun sepenuhnya, anugerah. Stasiun yang kokoh yang bertuliskan sebuah cita-cita untuk menanggung tegak dharma, dan sangat fasih mengamalkan namanya. Berdirinya tajam tak berdebu, persisten "like a turd that won't flush" seperti katamu berulang-ulang, terbuat dari karang yang cukup kokoh ketika pasang, stasiun itu, kamu. Bahkan di perjalanan denganmu itu aku pelan belajar membangun stasiunku dari sejenis karang yang walau tak sekokoh konstruk bangunmu, aku berjanji tak akan lagi kurobohkan sendiri.

kamu sungguh teman perjalanan yang ajaib. bukan di kereta ini namun di kereta kita semua yang maha panjang hingga ke chandrasekar limit itu. Kamu penumpang sekaligus stasiun, secarik tiket menuju banyak tempat sekaligus seorang paman yang membelikannya merangkap juga pemeriksa tiket yang menyobeknya. Kamu salah satu jawaban paling nyata dari permohonan-permohonan ulang tahunku yang bertahun-tahun itu, sekaligus juga seorang yang ternyata bisa pula berulang tahun, walau ulang tahun hanya berlaku pada manusia mortal dan kamu bukan sembarang mortal. Lebih mirip seorang highlander atau jangan-jangan Gusti Dharma itu sendiri yang tengah menyamar jadi anjing kampung. Walau aku sama sekali bukan Yudhistira. Kamu barangkali sedang berjalan dengan Yudhistiramu yang aku tidak kenal atau pahami, tapi aku cukup beruntung berpapasan denganmu dalam suatu gerbong waktu. bicara soal nama-nama stasiun, dan jumlah persimpangan-persimpangan yang kamu lalui amat jauh sebelum aku memulai perjalanan apapun. aku bahagia berbagi pesimpangan dan persilangan jalan bahkan bersisian denganmu. tak bisa dikatakan senasib namun setidaknya sesama dalam banyak waktu. sesama anjing, walau kamu jelmaan Dharma dan aku hanya anjing saja. Dari sedikit hal yang aku syukuri, juga dari seekor anjing kampung ke anjing kampung lain yang lebih tua dan buduk, ini semua demi kukirimkan lagi nama stasiun seperti pada smsku waktu itu, barangkali terlalu panjang dengan bumbu omong kosong yang berkelindan dengan semata ingatan atas sms remeh. Kode sandi kita tetap sama, sebuah nama stasiun apa saja antara Jakarta dan Yogya, pesannya sedikit berbeda: kali ini berisi gonggongan dan lolongan kepada bulan demi merayakan hidup di stasiun kita yang hari ini

Tuesday, March 27, 2007

a song who writes me

we never wrote him a song
a song we conceive when he was broken,
when his pieces were sharp in each shatters

melodies that once silently numbed his maladies
played in our shoulder when he secretly sobs
they're pretty. morbid love like
now he returns intact,
breathing that song we never wrote
it is obscure
of what have cause for all these soreness in our psyche
the dripping crimson like beats
was it the reminiscence of his once a shattered being
or was it the song he's breathing?
it was our song not his
but we may have packed the tunes in his lunch box before he went away
now he returns intact as never ours

stranger was the color of our true love's hair

how do you govern a third world soul?
by getting drunk, we replied
by blindfolding the beauty of all i was

who started it, you did? or was it i?
it was someone who feels like a pitiful kiss
the leftover for the day
it was a piece of us who turns against me

winning by deluding

the fool's triumph
the joy of being so corrupt and unpolitically correct
something you drew out of some icy lips
came as warm as supper in windy nights
perversely indulged in condemns
swayed out of our shawls for this glorious self

sometimes u act like a fool
just to make your words get its way correctly.
sometimes i act as nothing
as nothing would govern this:
some drunken third world drought

a fool's triumph,
a smile
we shall not apologize

Wednesday, February 21, 2007

some certain something

Ada waktu waktu yang bergeser pasti seperti sebuah keniscayaan. Barangkali bukan waktu, ia lebih mirip sesuatu, merayap seperti moluska, padat menyesak, lembut tak terelak. sesuatu dalam geseran waktu.konstan seperti kipas angin, seperti malam buta beringsut diam-diam dalam kelengahan segala lalu dikejutkan oleh deru kereta. sesuatu yang himpitnya membuatku menjangkau-jangkau untuk menyingkir dari libasnya. aku yang menjangkau-jangkau diam-diam tanpa diketahui aku yang lain. aku yang lain yang bekerja, tidur, makan atau yang mengingat nama-nama dan wajah-wajah. aku yang menyusun daftar kepada siapa aku yang lain bisa segera menggapai mereka. satu atau dua orang setiap himpit geseran itu datang. Jika gapai itu tak bersambut, lindasan itu begitu kosong. Terlalu banyak gerowong. Dan aku kehilangan alasan kenapa harus lari dari sesuatu dan menggapai untuk lolos dari sesuatu. sesuatu yang tak kumengerti dan pilihan gapaian yang tak pula kumengerti. Terlalu banyak sesuatu yang membuatku lari. sebanyak kebohongan yang bertabur disetiap hembusan nafas setiap ketika kau lemparkan berbagai "mengapa?" ke dalamnya. ke dalam sesuatu. sesuatu yang tak hanya menggilas dalam geraknya, tapi barangkali juga melahap pelan-pelan atau dengan rakus.