Saturday, April 12, 2014

New York

Ini hidupku dalam lagu asing
yang pernah kita nyanyikan sekali masa tanpa peduli maknanya
“menghitung mobil di New Jersey Turnpike..
aku datang tak mencari Amerika..” 

di kereta-kereta negri ini kita hanya bisa percaya pada peta
Rel-rel kereta tak bisa kauhitung simpangannya lewat jendela
malam ini aku tak membaca
angin dingin memboroskan baterai telpon di tangan
meniriskan tenaga
aku pejamkan mata di perjalanan ke utara
membangun dinding dari wajah wajah lelah pekerja
dari warna warna gelap jaket gembung yang tak kebagian bangku kereta
bukan tidur hanya mengasingkan diri. 
asing dan aman.
Tadi ada sebingkai puisi di kereta menuju barat dari union square
membelah arus kesadaran penuh angin dingin dan kata kerja

barangkali puisi itu yang memanggilmu kembali
di dalam pejam waktu sekonyong ku duduk bersama aku yang lain
aku yang menyerupai dirimu.
dirimu yang tak bersandar di bangku, bertumpu pada lenganmu
Tak akan kusampaikan perasaanku. tak perlu.
kita sudah cukup bersyukur kebagian tempat duduk 
keseharian sudah cukup sarat tanpa harus menyeret-nyeret beban perasaan
Kita berbincang namun aku tak mendengar kita. 
Aku mengerti mengapa kau duduk bersamaku
Karena aku berdamai denganku dan melepaskan diriku yang pergi sebagai dirimu
kelegaan atau kesedihan yang lama kubawa tak perlu dikunjungi
tak pernah kucerna namun kukira sudah kumengerti 
aku menghela maaf panjang
sungguh aku tidak lari atau mengingkari 
aku hanya tak ingin singgah. Tak ada kemewahan untuk singgah
Kereta bukan simbol kebebasan walau orang bisa menumpang untuk menuju kebebasan
ia tak pernah terpisah dari relnya, dan stasiun-stasiun akan terus setia dikunjunginya
ia melaju karena untuk melaju ia ada
laju yang ketat digariskan. 
Hidup terlalu pendek untuk maaf yang berulang.
Aku sudah berhenti dari sebuah pekerjaan
pekerjaan meminta maaf karena menjadi diri sendiri
sejak itu pekerjaan demi pekerjaan datang melamarku

dan aku menerima hidup untuk bekerja buatku.