Sunday, August 14, 2011

tukang roti

ada tukang roti yang menabur remah-remah harum di sepanjang jalan
dan aku segala anjing jalanan dan kucing liar
memunguti tiap gurih roti terjatuh
semakin kecil cuilnya semakin ingin
semakin lapar semakin tergesa
tak pedulikan simpang, kelok, atau arah yang entah
remah-remah itu umpan untuk kita,
ikan yang tengah berenang bergalur galur, bosan akan lumut dan jentik
atau semata petunjuk arah menuju poros dari segala

selambaian "sampai nanti malam"
taksi tiba tak lagi penting bertarif lama atau baru

dari kerah bajuku tanpa peluh berbisik
naga kecilku, lihat betapa rapuhnya kita
berpusar dalam siklus memburu seimbang maya
bergerak dalam alur-alur tak kentara
pasrah selagi lapar tak kunjung tertawar
dibimbing ceceran cuil roti menuju entah