Sunday, April 13, 2003

Sebuah Taksi saja

Di tepi jalan itu aku dan kamu menanti.
Sebuah taksi.
Di dalamnya harap kita bisa berbagi sebuah perjalanan menuju rumah
Sebuah taxi saja setelah letih kita sepanjang hari meniti perlintasan dan perjalanan yang membawa kita berpapasan.
Sebelum itu aku menanti taksi sendirian,
dan mungkin kau tengah hendak meniti langkahmu tanpa menyerah sampai rumah,
namun reduplah waktu sejak dua sadar kita membaur satu dalam silang temu.

di sinilah kita, tanpa perlu sepakat kata telah terhanyut alir kembara ke pelabuhan berdiri

Waktu yang bersayap itu terbang cepat melalui kita.
Kitapun lenyap dalam hitungannya dan mengucapkan bilangan kita sendiri dalam bibir bibir kita yang saling bercakap, menemani dan menjagai sebuah tunggu di antara berlewatannya berbagai kendara
Dalam desing, dalam kibas debu dan angin-angin kita menunggu di tepi jalan itu.
Dalam sewaktu menjadi saksi setia teduh riak riuh alirnya yang menderu bersama detik detik yang tertelan kata dan bertumpang tindih dalam hadirmu dan hadirku di tempat menunggu itu

Tetapi kita berdua bukan kanak kanak yang berharap pasrah pada kesetiaan menunggu.
Kita menggelisahkan andai sebuah taksi saja tak akan pernah datang Lalu kita pun menaburkan andai dan tanya ke setiap celah bincang atau diam-diam mebuat cadangan rencana
Andai sebuah taksi saja tak pernah datang

Sebutir sapaku dan sebutir sapamu semenjak pertama kali adalah benih benih lugu
mereka kemudian telah tumbuh besar menjadi penanda jalan dan catatan yang jadi pengukur harapan.
Mereka merekah kokoh menjulurkan cabang cabangnya, mengalir tengadah ke langit sehabis tuntas menelusukkan akar akarnya dan mencengkeram tanah yang pada atasnya kita masih saja menunggu.
jadi pohon kerindangan teduh diam diam yang menghambat keletihan tak terburu buru datang.

Lalu, di lautan yang kita bendung bersama dalam bincang dan sekedar saling hadir di tepian ruang tunggu,
kita seakan perkasa sejenak memukul waktu, hingga tak dimangsa oleh haus berlalunya yang menelan segala

Tetapi kita tersadar kemudian, semua hanya bergerilya,
kita tak cukup kokoh di kaki tirani waktu yang akhirnya menghantui dengan sadar itu.
Telah lama kita menunggu, mungkin terlanjur lama sebelum kita bertemu

Lama menunggu Sebuah taksi saja.
Tak kunjung juga idatang, padahal entah berapa kali hari berganti,
dan aku telah lupa berapa kali ubunku terbakar terik,
dan kemudian diteduhkan lagi oleh rembulan dari sabitnya hingga purnama yang sumringah memuaikan senyum.
Mengabaikan langit yang menunggu sabar kepada sosok sosok kita membersitkan hasrat untuk sekedar bertanya mengapa sebuah taxi saja tak kunjung tiba untuk kita.
Namun kita tak pernah bertanya pada orang lalu lalang
sementara bulan atau hari atau tepian jalan dan desing desingnya menyisakan setetes demi setetes kelekangan.

Mungkin bukan enggan kita bertanya arah pada harap-harap yang masih damai pada segala angin, muai rembulan, debu dan jalanan,
mengapa sebuah taksi saja tak kunjung juga lewat untuk kita tumpangi pulang,
kita terseret jerat antara sengaja dan tak sengaja mengabaikan tanya pada pejalan-pejalan lalu lalang
terlanjur sibuk sendiri dengan pengandaikan di celah-celah bicara lalu menyembunyikan debar

Mungkin kita juga tak akan sayangkan, andai sebuah taksi saja tak pernah datang:
kita masih bisa pulang dengan berjalan perlahan, walau entah kapan tiba di rumah.
Walau kita kan berpisah di jalan karena rumahmu bukan rumahku
dan waktu sendirian kita akan memelar mungkin tak tertahan.
Walau kita kan tiba dalam keletihan atau bahkan tua sendirian dan mati di perjalanan.

Andai sebuah taksi saja tak pernah datang,
kamu tak akan kecewa karena masih ada bis, bajaj, becak, kancil, dan kendaraan kendaraan berlalu lalang yang menghamparkan beragam kemungkinan yang membawa kita menuju sebuah tempat yang setidaknya semakin dekat dengan rumah. Aku mungkin bertemu tumpangan dan kita berpisah di tepian jalan.
kita bisa saja beranjak dari titik bertemu kita di kolong langit dan beranjak pulang menuju sesuatu.

Andai sebuah taksi saja tak pernah datang,
mungkin kita diam diam tak keberatan selamanya menunggu disini jika keletihan tidak menjerat datang dan membuat salah satu dari kita jatuh menyerah padam.

Di ujung tepi terik inilah ambigu dan bias bias menyerbu,
mungkin hari-hari telah mengeringkan benak kita
dalam cangkang kepala rapuh yang tersibuk memburu kata demi kata
teruntai dalam garis maya lintasan di hadap jalan
mungkinkah menunggu sebuah taxi saja telah menjadi lebih berarti ketimbang kerinduan untuk kembali pulang itu sendiri?

Arak arakan hari bersilih lebur dengan waktu dan kerut kerut di tubuh
kita tumbuh terbiasa dengan debu, gilasan waktu, dan sisi sisi menunggu
Dan sembari menunggu kita sesekali berjalan perlahan mencari tempat tempat menunggu baru,
menyeberang jalan, menoleh ke kiri dan ke kanan.
Berulang kali diri bersisian,
aku di kanan, kau di kiri dan arus menghajar jalan dari kanan dan kiri.

Aku berdiri di kanan ketika aku menoleh ke kiri dan kau menoleh ke kiri
dan aku tak lagi mengharap sebuah taksi dari kiri namun hanya memandangi sisi pundakmu
Sementara dirimu di kiri ketika aku menoleh ke kanan
dan kau menatap ke kanan bukan sekedar mengharap sebuah taksi datang di kanan
memandangi sisiku

betapa absurd penungguan ini memahat kita,
tak jera aku dan kamu menunggu,
semakin hari semakin berdamai dengan bara-bara resah itu
hingga padamnya mereka dan kita masih menyala
Entah sampai berapa lama

kita terlanjur sama merindu pulang dalam sebuah taksi saja

Dan diatas semuanya telah mengapung sebuah anomali
apakah perjalanan pulang kita sesungguhnya searah jalan?


16 Feb, 2003

--recycled

No comments: