Wednesday, April 28, 2010

catatan gencatan senjata

Kami tak yakin bahwa kami tahu arti hidup terjajah, tetapi di taksi tadi kami mengingat 30 tahun lebih hidup dalam siaga perang. Mungkin sesederhana tak ada yang sungguh menjajah atau terjajah. Walau seringkali rasa tertindas itu menghimpit begitu jernihnya atau hasrat menjadi tirani kadang begitu kentara lapar dan melahap-lahap sembrono pula bersamaan. Awalnya selalu kemelut-kemelut yang tak pernah dijuduli, perseteruan yang tak terindentifikasi masing-masing kubunya. Kemudian alasan-alasan yang ditambal-tambal cepat dan penyederhanan yang naif untuk semua pihak--ketika pihak-pihak itu membelah dari kami. Lalu segalanya terdistorsi--jika tidak terkorupsi dari kejujurannya sendiri. Beranjak menajam secara alami seiring kami atau kami yang mulai semakin ahli memilahnya. Kubu yang jelas adalah pihak yang selalu rajin merancang pendamaian untuk stabilitas sementara, kemudian pihak yang kentara lain adalah pihak yang selalu menegasikan segalanya. Teritori baru akan diklaim dan teritori akan dinamai. konflik bertingkat dan berkembang sesegera satu tahap terdamaikan atau ternegasi. Energi-energi tersedot ke kedalaman oleh sejenis Vacuum cleaner di dalam poros dada, seperti lubang hitam kecil di solar plexus yang sekecil apapun, serta merta melahap. Lalu jadi tawanan di kedalaman yang kami besar-besarkan.

Kami memperhatikan dengan iri orang-orang yang berkeliaran merdeka seperti gagasan akan peperangan tak pernah ada di negeri-negeri mereka. Peperangan mereka adalah medan di ranah luar kedirian. Kami tak tahu apakah itu yang seharusnya, apakah itu tahap lanjut semestinya dalam evolusi dan kami masih negeri dunia ke-3 yang terbelakang atau melangkah maju dalam pengkondisian, penuh tambalan tak alami, trivial dan remeh temeh. Kami tak hanya iri, kami pun membenci karena mereka beruntung dan tidak mengerti, tetapi di saat yang sama kami pun cenderung mencintai apapun di luar sana yang bukan seperti kami, bebas berkeliaran, beruntung dan tak mengerti. sekaligus pula membenci hal di luar sana yang serupa dan memahami peperangan ini. Membenci sekaligus mencintai. Rindu menjadi apapun selain kami. Dengan cara ini juga kami terjajah dan silih menjajah di dalam diri.

Mengapa kami berjarak dan hanya iri. mengapa kami tak serta merta menjadi?
Orang-orang berkeliaran merdeka adalah kebenaran asing yang kadang kami cekokkan pula ke dalam diri. Kami pun berpretensi untuk berkeliaran merdeka dan memindahkan medan tempur kami ke luar diri, namun kami tak sungguh pernah menjadi, karena itu bukan kami. Lalu kembali hempas kemelut dan lagi-lagi saling membenci. siaga perang pun jernih lagi. apakah kami benar terjajah oleh diri sendiri? Bagaimana dengan berkeliaran bebas di dalam diri kami? tanpa merasa terancam, menikmati hidup di dalam dan di luar tanpa tercekam gerilyawan negasi dan hantu-hantu pelahap yang membenci. Hantu-hantu yang sebenar-benarnya anak-anak kami.

Hemat kami, ini bukan soal penerimaan atau masalah koeksistensi, karena entitas kami tak terbelah hingga perlu pengelolaan eksistensi. Kami ingin senantiasa keluar dan lebih banyak menyukai atau mencintai daripada terhisap ke dalam dan membenci namun pintu-pintu seringkali dipalang dari sisi dalam dan dikunci.

Pilihan seringkali adalah omong kosong, Kehendak bebas juga omong kosong seperti halnya determinasi, kemanusiaan atau patriarki. Kami selalu memilih berkeliaran bebas di dalam dan medan perang yang nyata di luar, tapi yang kami dapatkan hanya ilusi kebahagiaan, perjuangan untuk kebaikan, hal-hal yang luhur dan candu keyakinan bahwa segalanya akan baik baik saja. Itu pun kami hidupi dan itu bukan kami, tidak pernah kami. Kami selalu memilih seperti orang berkeliaran bebas yang beruntung dan tak mengerti, karena kami rindu menjadi mereka, namun pilihan pun sebuah kebenaran asing yang kami paksaan. Kami terjajah oleh gagasan-gagasan itu.

No comments: