Saturday, March 21, 2009

memoar orang asing

Aku pernah meminta seseorang agar ia jangan menjadi asing. Di permintaan itu harapan terakhir berkibar di tepi tempat tidur harap yang sekarat. Kesadaran akan keniscayaan bahwa sesuatu akan hilang dan seseorang karib yang hangat di hati tengah berjalan menuju beku seorang asing.
Bahwa kekariban atau kedekatan kami suatu kali tidak sungguh ada.
Bahwa kedekatan dan kekariban itu sama-sama kami reka untuk tujuan atau agenda yang kini telah kadaluwarsa.

jangan menjadi asing.. justru mengukuhkan suatu kehilangan yang niscaya.
walau permintaan itu seperti upaya memeluk punggungnya agar ia tak tergesa bergerak dalam keniscayaan itu.

Orang asing adalah kematian. kematian arti, kematian signifikansi. seperti semua orang asing di keramaian, menyesakkan. Kita terbiasa menceritakan hal-hal penting dan tak penting pada orang yang terpenting, sementara kepada orang yang tak penting tak ada cerita, hanya senyum kala berpapasan di jalan, itu pun jika hati kita tengah sejuk dan mungkin kurang pekerjaan. orang asing tak sungguh ada atau bernama, tak ada yang ingin kausapa, atau kau balas lagi pesan pendeknya. Semua pesan pendek paling karib atau paling lucu sekalipun selalu salah alamat karena kita tak mengenal lagi pengirimnya.

Kematian berkali-kali untuk hidup sekali.
Dalam kekariban yang lenyap dalam orang yang kembali asing kita menghadapi kematian-kematian itu. Dibutuhkan doa untuk mengiring yang hidup dan kehilangan bukan untuk yang mati dan hilang lalu harapan terakhir untuk dikibar,
"jangan menjadi asing" bunyinya dan ia pun berjanji untuk tidak mati tetapi barangkali ia tak tahu apa yang dijanjikannya seperti ia tidak tahu sekali waktu kami pernah hidup dalam hangat karib yang berusia pendek namun jaya. harapan kami tengah sekarat ketika ia berjanji. Barangkali ia tahu, permintaanku yang sia-sia melawan keniscayaan, niscaya dijawab pula dengan janji yang sia-sia. Setelah ia dan hrapaku mati arwah mereka terbang ke dunia orang asing. tak lagi mengenal atau mengingat hidup hangat kami yang sejenak, walau aku masih menyimpannya karib dan menyapanya ketika berpapasan.