Saturday, December 13, 2008

'my name is none'

'mon nome est personne', seorang kawan lewat yahoo messenger. Seorang juru bicara kejujuran dikirim semesta karena saya seringkali tuli untuk mendengar suaranya sendiri. Tidak tepat demikian yang ia katakan namun demikian yang ditulisnya kemudian diingatan saya. Judul sebuah musik yang mengalun dari radio internet dibawah genre eclectic. Dari kata-kata kunci itu kemudian semua catatan ini terbuka.

Ada tahun-tahun saya merindukan emosi. merindukan momen untuk merasakan setiap detil kejadian sehingga segalanya tidak berlewatan begitu cepat lalu hilang. Karena emosi menuliskan ingatan dengan cara terbaik. Walau bukan ingatan yang saya inginkan. Saya merindukan emosi setelah susah payah untuk membunuhnya. Ketika saya kebal dan rasa menjadi lumpuh, saya merindukannya seperti merindukan masa lalu penuh kejayaan dan saya tahu membunuh emosi bukan bukan semata jalan pintas, tetapi jalan buntu. Seperti pula hal-hal penuh emosi yang menggiring saya untuk melakukan kebodohan semacam itu terhadap diri sendiri. Tetapi hidup punya caranya sendiri untuk mengajari dan untungnya emosi tak bisa mati. Ia bisa disingkirkan tetapi ia selalu kembali ketika kita cukup besar untuk menanggungnya lagi. Dan ketika ia kembali, ia kembali dengan persistensi.

Hari-hari ini saya mengalami kemewahan itu kembali. kemewahan menangis dan tertawa begitu lancar untuk banyak detil yang tak terlewatkan. Gagap dan gamang atas sebuah obituari kawan atau menangisi kalimat dalam sebuah film, lalu menertawakan diri hingga pecah tangis dalam kelegaannya. Dorongan afeksi yang meluap menunggu dibagi, Cemburu, rindu, dan kebahagiaan yang mirip sebuah bangga bisa menanggung semua emosi itu tanpa tercerai berai jadi bukan diri sendiri.

Satu hal yang lucu mengenai pembunuhan emosi. Ketika saya bisa menghadapi banyak hal tanpa emosi saya bisa merindukan emosi. Padahal rindu juga adalah emosi. Sejenis hasrat yang tak habis-habis seperti lapar yang semakin dipuaskan semakin mengingini. Rindu jadi sejenis pelampung pengaman yang dibiarkan ambang di perairan jika sewaktu-waktu saya mengirimkan tanda darurat untuk diselamatkan emosi yang saya tenggelamkan sendiri.

Sebuah perbincangan jarak jauh lewat yahoo messenger dengan kawan itu, seorang 'extra terrestrial' yang menghisap djarum76. Kedinginan di negeri orang. perbincangan itu tanpa sengaja memberi saya contekan yang begitu ampuh untuk melewati ujian dari sebuah kelas yang berulang kali saya telah gagal. Tak heran saya gagal, bahkan ketika saya mendapat pencerahan begitu rupa, saya masih ragu akan judul mata pelajarannya. 'puzzles of your own psyche' kah? Tapi yang pasti perbincangan itu membebaskan saya dari keinginan saya sendiri. Dari obsesi yang membatasi kapasitas emosi. Obsesi akan harapan hubungan cinta yang mewah itu atau obsesi akan harapan cinta itu sendiri yang barangkali lebih mahal lagi. Keduanya telah membatasi saya menghargai atau semata membatasi saya untuk merasakan emosi. Harapan-harapan sempit itu menghalangi kemampuan saya menanggung dan memeluk kesadaran yang sama sekali berbeda dari yang pernah atau bisa saya bayangkan. Hal-hal asing dengan esensi sama yang lahir dari zaman yang semakin dewasa. Semakin mudah untuk membunuh perasaan dan semakin sulit untuk merasa. Saya ingin berakhir mencintai, bukan berakhir membutuhkan. Walau saya masih ragu akan apa yang saya cari. karena sesuatu yang genap penuh barangkali hanya mati. Lalu saya tiba-tiba ingin mencatat bagaimana saya menangis dan tertawa untuk diri sendiri, suatu perayaan yang lega dan merdeka, bahkan ketika kami selesai berpamitan untuk kembali sibuk lagi.

Saya sering merindukan rasa yang sederhana apa adanya, tertuang tanpa ada cegahan. cegahan puluhan pertimbangan untuk menjaga diri atau untuk bertahan kuat menghadapi hari. Tetapi kerinduan itu seperti kerinduan akan masa kecil yang tanpa masalah, masa cinta monyet yang diartikulasi drama-drama picisan televisi. Masa-masa sederhana itu sudah lewat. saya tahu saya tidak bisa kembali. Tak ada lagi yang sederhana dan saya tidak akan merindukan masa kepolosan yang indah itu lagi. Saya melewatinya karena banyak hal yang tak sederhana menanti juga tertuang apa adanya. Rasa yang eklektik, kaya dan diabaikan karena keengganan memahami. Seperti campur aduk daftar lagu dari siaran radio dibawah 'genre eclectic'. Rasa yang juga harus tertuang tanpa ada cegahan. Dan saya sampai di titik ini untuk belajar menuangkannya. satu emosi baru untuk satu waktu jujur. Mereka tak pernah kalah indahnya. Karena hidup tidak berhenti di hal-hal sederhana sebagaimanapun saya merindukannya.

1 comment:

cecil mariani said...

kawan itu, perokok Djarum76 itu, my beloved alm. Elida Tamalagi.