Friday, August 08, 2008

secangkir catatan kental yang hangat manis

aku tahu aku masih menyimpan letupan batu mendidih seperti gunung api resah yang tak kunjung tuntas walau lavanya telah dialirkan ke dalam begitu banyak saluran dan tanggul-tanggul kokoh yang telah kudirikan. aku pun tahu aku tidak akan meletus kemudian mencelakai diriku atau siapapun yang berada di sekitarku, mereka yang mengorbit di lereng-lerengku. Aku akan baik baik saja.
golak batu mendidih tak pernah cepat mendingin. jadi aku akan melahap waktu dengan amat lapar sebelum kelak sungguh menjadi beku.

Dini hari begitu riuh seperti metropolitan dalam kamarku. diriku yang lain hendak tidur dan melupakan. diriku yang lain rindu menuliskan. diriku yang lain masih menggebu,mengklakson, berkelip, bising menyimpan letupan batu mendidih, diriku yang lain bersyukur karena kami semua kokoh tanpa menjadi kebas hati. diantara kami hampir selalu ada cangkir hangat sedih yang diedarkan untuk dibagi. hangat sedih yang kental manis. dicicip bersama. Jatah kami malam itu. Karena kami tengah berdamai. Tak ada yang menolak atau melewatkan gilirannya mencicip. Karena itu rasanya hangat kental dan manis walaupun isinya semata cair sedih yang tak penting buat kami tanggung. Tetapi aku mengatakan ini kepada aku yang lain bukan tentang cangkir sedih itu. Tetapi tentang kami yang jarang berdamai. Kami yang saling menyabot satu sama lain. Kami yang marah karena cangkir itu selalu dibawa datang oleh salah satu dari kami untuk kami semua habiskan. aku yang selalu membawa cangkir itu. aku yang kadang menolak untuk mencicipnya bersama yang lain. aku yang selalu berusaha menggiring aku yang lain beserta cangkir itu untuk manghadapi acaranya cicip mencicip hingga tuntas semua cair kental itu. aku tahu aku tengah berdamai karena cangkir sedih itu terasa hangat dan manis. aku tahu aku tengah berseteru dengan aku yang lain bila cangkir itu terasa getir, langu atau membara didih melukai.

aku lega. ada setetes bahagia. cukup. walau bukan deras air terjun niagara. karena kami saling bicara. aku yang rindu menuliskanmu. aku yang hendak tidur dan melupakan. kami tak sungguh sepakat. tetapi setidaknya tidak saling menjambak. di sini aku tidak tidur dan tidak melupakan, tidak juga menuliskanmu. kami menulis tentang kami. hangat saling mengedarkan cangkir itu. manis setitik demi setitik membuntuti waktu.

8.8.08 9.4

No comments: