Wednesday, August 13, 2008

perih turun lamat seperti gerimis yang lengket.
sedikit sedikit tapi kental
sekali ini entah aku tak bisa mencerna kepergian itu sebuah keniscayaan.
padahal bukan sekali ini aku ditinggalkan.
aku tak bisa menginjak kenyataan dalam buram.
kenyataan mengingkari hakekatnya sebagai tanah, lalu beterbangan, berjatuhan dan bertetesan.
kenyataan yang gamang
buram yang kulakukan di dalamnya.
barangkali aku tak akan mengingatnya
ada setengah permohonan, ada setengah senyuman
semacam jerit di kedalaman sembari menjaga diri agar tak berserakan

ia begitu jauh tak terbaca
aku begitu kebas tak bisa merasa
karena semua rasa kugiring masuk ke kamar
dan ruang-ruang tamu bersih kurapihkan.

No comments: