Friday, March 21, 2008

Catatan dalam "Stendhal Syndrome"

ini adalah catatan ketika ku sekonyong bangun dari tidur.
Waktu yang amat panjang untuk tidur dan terjaga lalu hidup dalam tidur dan terjaga itu seringkali menyamarkan batas keduanya.
Sering aku tak sungguh terjaga ketika bangun atau hidup. Sering aku lari dari hidup yang terjaga dengan tidur ketika bangun.
Tidur dalam larut kerja berkepanjangan, tidur dalam memilih pengabaian, bermimpi sambil hidup sehari-hari atau semata memejamkan mata dari sadar dan hidup, untuk lari, untuk jeda, untuk kemalasan menghadapi. Karena sesekali berjalan hidup sambil memejamkan mata terhadap segala lebih mudah daripada bangun dan menghadapi hari. seperti kanak-kanak yang memejamkan mata ketika takut atau sedih lalu mengucap permohonan atau sekedar menangis mengusir segala yang ofensif dari keterjagaan hidup, atau memejamkan mata menanti kejutan atau memejamkan mata ketika mata mengirimkan pesan bahwa ia telah kelimpahan sensasi keindahan dan kita memejamkan mata untuk menikmati puncak-puncak indah yang menyambut hangat seperti teduhan siang. Terjaga, dimana mimpi buruk atau mimpi indah tak sekedar lenyap ketika bangun tapi harus dihadapi. Bangun dalam jujur, bangun hidup dan sungguh hidup dalam bangun.

Tidur yang terjeda itu sarat dengan dirinya. ketika kutemukan aku tengah terjaga. Sebuah terjaga yang sempurna ketika ia masih lelap, sementara pagi jelang siang cukup teduh di jendela kamar. aku bisa memandanginya cukup lama untuk mengguratkan dia dalam ingatan. Cukup untuk mampu bertahan berpuluh tahun lamanya. Ia dan beberapa ia lain yang lelap di kasurnya, ia yang antara pejam tidurnya dan jejak bincang sebelum lelapnya genap membuatku melihatnya seperti bukan ia yang kukenal. aku melihat laki-laki, perempuan, dan kanak-kanak yang semua adalah dirinya bertahun silam. Tahun-tahun sebelum aku mengenalnya. Dalam lelap itu ia bersilih lebur antara gelora dan keteduhan, laki-laki dan perempuan dan ketika aku memalingkan pandang yang tertinggal di citraan tidurmu adalah kanak-kanak yang ramping bertulang jenjang, seperti bertahun silam telah tidur dengan celana pendeknya, lelap dengan kaki tangan lentang ke segala arah, lelah seperti habis main di luar rumah seharian. Sebuah genap terjaga yang membuatku memandangnya sekilas namun sanggup merekamnya di benak seakan dalam durasi berjam-jam. Tetapi aku tak hanya memandangnya berlama-lama, aku menginderai hadirnya. mendengar nafasnya yang teratur di kulitku dan ringkuknya di punggungku, debar jantungnya yang menggetarkan pelan helaian buku yang kubaca sembari menunggui ujung pejam nya. Aku mengalami lelap tubuhnya dan mengintip ia yang lain yang apung terbebas dalam tidurnya.
Sebuah terjaga bisa demikian jernihnya hingga aku tersedak oleh teduh yang deras dan indah yang berkepanjangan. Aku tidak tahu persis apa yang membawaku terjaga ke ruang-ruangnya, menemukan tidurnya, karena aku memejamkan mata dalam perjalananku ke sana. Memejamkan mata karena pesimisme akut akan hidup, atau sejenis amarah atas harapan yang mulai tanpa ampun menyusup seperti alir kapiler.
Memejamkan mata dalam tidur yang tak kunjung datang. Lalu aku tiba-tiba terjaga walau aku tak pernah sungguh tidur dalam pejam, terjaga jernih dan gemetar. Karena aku juga yang membiarkan diriku datang ke ruang-ruangnya di mana kutemukan hatiku telah lama mendahuluiku di sana. Bercerita seperti air terjun tentang segala. Bercerita seperti gambar lelap tidur yang kulihat di kasurnya, hatiku dan wajah-wajah itu, wajah yang hatiku kenal terlebih dulu, wajah kanak-kanak itu, perempuan itu, laki-laki penuh gelora itu, wajah-wajah darimana semula aku berusaha lari, karena kutahu ia akan menawanku dan dalam tawanannya aku akan kehilangan hasrat untuk melawan atau meloloskan diri. hatiku mendahuluiku dan kami bertemu kembali dalam keterjagaan itu. terjaga yang sempurna ketika tidurnya masih lelap sementara pagi jelang siang cukup teduh di jendela kamar...

No comments: