Wednesday, January 09, 2008

kerlip

Sebuah pertemuan, barangkali dengan sedikit perbincangan, pergi meninggalkan karib, manis, apung, lalu arus degub asing dibawah bayang-bayang ingatan yang segar akan pertemuan yang baru lalu itu. arus menderas degub asing yang mirip sejenis nyeri. seperti warung yang nyala di malam buta memajang rupa-rupa nyeri yang bukan sedih dengan label merk warna warni bertuliskan bahasa yang tak kupahami. nyeri akan jarak yang tak habis dibakar dengan berbatang-batang kretek atau nyeri akan tercecernya banyak kata-kata sebelum mencapai pengungkapannya. nyeri akan gemetar yang riuh tanpa diundang. nyeri yang tidak menyakiti, hanya semacam rasa disorientasi. Nyeri yang berkelip-kelip ketika pemandangan perjalananku setelahnya menjelma redup. nyeri ganjil tanpa alasan ataupun luka. hanya nyala terbalik kegelapan, dan terang yang bergerak kelam. seperti klise film. kerlip yang membuatku menemukan diriku yang lelah, menerangi jengah yang mirip amarah atau barangkali semata-mata lelah. nyeri yang berkerlip tidak hanya seperti cahaya tapi juga bergerak seperti suara. suara yang berkerlip mengedapkan telinga. kerlip yang merampas bunyi sikat gigi dan kucur air di wastafel, bunyi tv menyala, motor di jalan, kipas angin, jendela yang dikunci, lampu yang menyala, kunci yang diletakkan di meja, gelas yang dituangi air.
kerlip yang melelahkan. kadang meletup memualkan, namun sesaat hanya melelahkan lagi, lalu menenangkan, lalu kembali memualkan atau melelahkan. semacam lelah menemukan diri atau kehilangan lagi. lelah terjaga dan lelah tertidur, lelah beranjak pergi dan lelah beristirahat dalam ingatan-angatan lampau, lelah menjadi perempuan, lelah menjadi laki-laki, lelah memiliki kelamin dan lelah meniadakannya, lelah memanjangkan rambut, lelah mencukurnya, lelah dihantui kata, lelah menuliskannya, lelah menjadi hari, lelah menjadi sebuah tunggu.
Tetapi tak ada satu pun lelah yang cukup untuk jadi sebuah kerlip nyeri hari itu.
nyeri usai pertemuan manis, barangkali usai perbincangan akan pertemuan itu di dalam kedap jendela taksi yang bergerak tanpa hujan di musimnya. tanpa gerah, tanpa alasan yang cukup untuk keluh kesah. tanpa sedih tanpa luka. hanya nyeri yang tidak menyakiti ketika ada degub pada ingatan seusainya. tanpa keistimewaan namun juga tak biasa untuk jadi sekedar biasa. ada sebuah kematian dalam keterasingannya, kematian dalam nyeri. begitu lazim dan terasa asing. datar dan sempurna. terang dan gelap terjungkir, lalu kelabu biasa yang membuat gila.