Monday, December 03, 2007

kebiasaan menuliskan hujan

Sebuah kebiasaan lama menuliskan hujan. seperti dorongan untuk menyalakan rokok di bawah tampias. semacam kesenangan. hobi yang sudah terkikis ketekunannya jadi semata kenikmatan kosong. menuliskan hujan ataupun kertas-kertas dinding dan sofa yang basah oleh deras, tanpa catatan bahwa padahal pintu dan jendela tak pernah kubuka. menuliskan jutaan senar di peranginan, sebuah beranda tanpa pijakan, sebatang kretek pada tampias arakan. terpaan manis angin dan berlewatan kerajaan hujan. klise.

cerita lama, serigala yang kehujanan. gemeritik asap dan bara setarikan demi setarikan. menkatalogkan tiap abu gugur setiap habis beberapa gemeretik nyala. padam dalam angin sebelum basah. debu yang lembab, cikal becek yang masih panjang dalam megah. bukan lelah, untai pertanyaan, debar yang diterima damai sebagai keniscayaan atau kesertamertaan.
lalu sejenis rindu, sebuah penutup yang paling klise. Lebih klise dari tiramisu, atau puding coklat di setiap makan prasmanan. lebih membosankan dari diskusi-diskusi dan istilah dikotomi.

apakah kamu menyalakan rokokmu? membakar gemeritik kanopi jarak dari sisi sebelah sana? seperti aku membakarnya berjam-jam supaya jarak itu habis? kita tak pernah merokok di depan tirai hujan. Hanya aku yang melakukannya setiap menunggui jarak, menonton ketidak hadiran. menikmati semacam kesenangan sendirian, hobi yang sudah terkikis ketekunannya jadi semata kenikmatan kosong. klise. seperti menuliskan hujan setiap kali hujan turun.
karena hujan itu membangunkan kelelapan tertentu, atau malah melenakan sebuah keterjagaan? karena hujan indah dan keindahaan adalah yang hal yang sulit disikapi. sulit dihadapi. menghabiskan kata. membuat gugup.

Tidak begitu jelas kebiasaan ini, menuliskan hujan, atau menuliskanmu dengan hujan sebagai alasan? kenikmatan yang kosong. sekosong abu keretek gugur yang padam oleh angin sebelum disentuh basah, lalu sejenis kerinduan, klise.