Saturday, November 24, 2007

of some glorious years

Berdiri di sebuah plaza yang tak menyisakan tempat duduk, aku minum sehabis mendentingkan gelas dengan seperempat isi di gelasmu yang penuh. "for our glorious years", kataku. Kamu menjulang tinggi dan tersenyum, atau mungkin juga tertawa sedikit, aku tak mengigatnya tepat, karena bulan penuh di atas kepalamu sekonyong benderang seperti senter yang membongkar pojok-pojok ingatan bertahun lalu di kepalaku. it was indeed some glorious years. Seperti frekuensi khusus denting sebuah gelas dengan seperempat isi pada gelasmu yang selalu penuh. Aku menemukan perayaan yang ternyata sudah berlangsung agak lama di dalamku dan untuk mendentingkan gelasku di gelasmu, aku tak secuilpun risau walau mempertaruhkan reaksi alergi gatal-gatal kemerahan di kulit dengan seperempat saja isi gelasku. Aku alergi terhadap alkohol seperti bertahun lalu masih, sementara gelasmu selalu penuh and it has always been glorious bahkan untuk gatal-gatal alergi dan gelas yang tak penuh.

parfum lama yang terabaikan itu yang membongkar ingatanmu. ingatan yang begitu sempit akan ruang. Bahkan mungkin tak diingat lagi sebagaimana mestinya karena telah tergilas-gilas dengan apa yang begitu kokoh kita percayai hari ini.Wasn't it glorious? Hari itu aku memakainya lagi hanya untuk menyembunyikan bau baju baru, obral 80%, kubeli tadi siang dengan sedikit alasan untuk tidak mandi. Aspek bau, katamu, karena visual telah sering menjadi kebas, kerap berebutan kait dengan banyak hal dalam ingatan. Kebas walau dikemas spesifik bersama bunyi. Parfum yang sama yang terakhir kupakai bertahun lalu, barangkali ketika aku masih memakainya dengan sedikit alasan untukmu and it had been indeed some glorious moments.

our glorious years, ketika perubahan begitu galak dan menghempas-hempas sementara ada hal-hal yang tipis dan sublim tak tersentuh gilasan apapun. some glorious moments yang amat jarang kita lalui bersama, kompetisi for making up excusesuntuk rasa atau semata justifikasi logika, ketika aku bisa mengarang sepuluh atau duapuluh alasan untuk sebuah ciuman pada secangkir kopi setelah itu terjadi, dan kamu mungkin sepuluh atau duapuluh alasan sebelum semuanya terjadi. Atau kita, masing-masing menuliskan tigapuluh alasan agar ciuman dan secangkir kopi itu terjadi lagi. Alasan mungkin hal yang paling murah hati yang bisa kita temui ketika mencari atau kehilangan apapun juga. Sementara aku jadi membangun kompulsi untuk mengkoleksi alasan-alasan kitsch yang barangkali tanpa faedah, semacam guilty pleasure, dan alasan kadang seperti facade bangunan yang tak memiliki bangunan, dibangun hanya untuk menutupi gorong-gorong dan lubang angin kereta-kereta bawah tanah, dimegah megahkan hanya untuk ditinggalkan. Tak pernah penting atau sungguh terdengar karena tak pernah benar-benar tersampaikan atau dibicarakan.

some glorious years yang kita hadapi bersama secara nyaris terpisah, cinta pejal, gelak tawa, perbincangan yang berselisih waktu, perih di kelamin, gunjingan keji, gunjingan asyik, kalimat-kalimat yang gagal menyeberang, sijingkat, rasa sayang tanpa birahi, rasa sayang dengan birahi, kelumpuhan empati, kesendirian yang sebelah, inkonsistensi, orang-orang baru, artikulasi emosi, kegagalan kronis artikulasi, desir hangat di hati suatu hari, tikaman dingin yang asing di suatu bulan, hilang, bersama, lalu dinding, lalu pelukan kawan, lalu ciuman yang sabit, purnama lalu hilang tanpa rupa, lalu kembali sabit, lalu dinding lagi, rekonsiliasi diri, kontestasi yang sembunyi, kekariban itu lagi, kehangatan, keteduhan, memori fantom akan celah-celah, cinta majal, persahabatan, inkonsistensi lagi, alasan-alasan... lalu denting pada gelas bir. yang satu seperempat isi yang satu lagi penuh seperti adanya. glorious.

Sungguh luas kelegaan, barangkali sungguh-sungguh perayaan kemenangan tak hanya untukku, buatmu, tetapi juga untukmu buatku. our glorious years berdenting terpisah. aku dan gelasku, gelasmu dan kamu, ketika waktu membuat kita mendentingkan keduanya, dengan isinya yang seperempat atau penuh atau luber atau kosong, mendetingkannya sebelum teguk, denting yang entah kemudian tercatat dengan bau gelas atau parfumku, there will be always a certain glorious pitch meresonan pada nafas di setiap tegukan di jeda perjalanan dan kejutan of our many glorious years to come

1 comment:

CS said...

selamat menunaikan ibadah puisi