Friday, January 12, 2007

teras

Ruang-ruang malam di bermulanya kita tak kenal dinding selain batas-batas yang berhembus diantaranya. Dinding yang luruh cair dan alir seperti angin. juga tak kenal atap selain redup bintang dan sabit bulan. Aku tidak mengingat ada purnama. barangkali malam yang kuingat bukan malam yang sama. terlalu banyak malam yang pernah kukenal atau sekedar kulihat, terlalu banyak kelam yang sama, terlalu banyak malam yang tidak sama. barangkali aku mengingat malam berhias awan-awan. padahal malam itu awan-awan tiada. barangkali itu adalah malam yang lain ketika kau tidak hadir disitu.

Sepertinya malam itu gelap. redup. seperti ingatan ku akan latarmu. redup, seperti aku ketika pertama kali meraba getarmu dalam sebuah jarak. Bagaimana aku sanggup menghafalkan malam ketika pertama kali aku melihatmu, ketika dirimu sekonyong ombak yang menghantamku. ombak dari laut yang hitam. malam yang mendung. geliat perairan kelam yang pekat dan tak lagi kasat oleh telanjang mata.
Malam itu kuingat semata karena kelamnya. ciri yang terlalu tidak spesifik untuk sebuah malam yang kuat. ruang dan waktu yang terlalu kilas, terlalu lazim untuk hadirmu yang melanda pasang hingga bertahun menghempas dan menggulung aku dalam buih-buih kenang.

Ketika itu hanya malam yang tak kuingat urai dan detilnya. waktupanca inderaku seakan padam dari segala. dan hanya menginderai dirimu. hadir itu. tanpa melihat atau menyentuh. seperti mendengarmu dengan kulitku.

aku menemukanmu pada teras-teras. barangkali kau pun menemukan aku diantara redupnya. paling tidak ingatanku berharap begitu. pada teras-teras yang digores jejak purba yang bersambungan kembali dalam resonan yang gigil hingga ke tulang. mata rantai antara getar, silam dan ingatan, lalu diramu menjadi hari. detik ini. Aku menemukanmu pada teras-teras yang kita hadiri kultus goresnya, mungkin saja jika aku yakin mengingatnya, bisa jadi kita lah pelakunya. kita yang menggoresnya. seperti kita pernah atau selamanya tinggal di teras-teras itu dan tak pernah pergi pada sebuah anjak. pada teras-teras yang bermekar oleh bebangunan bincang, kenang, debar. kepul kopimu samar, mungkin aku mengingat detil yang sesungguhnya tiada. aku tak pernah yakin apakah cangkir kopi itu disana? ia hitam dan ampasnya kasar, rasanya pahit walau aku tak mencicipnya. Ada liuk sigaret kretek dan awan-awan pasti. tetapi aku tak memperhatikan awan selain yang warnanya terjatuh pada baju kita hingga ke semua jahitan, kelim dan jelujurnya, pada benang dan kapiler-kapilernya. setiap serat dan sejarah peluh dalam tenunnya. segalanya telah kuyub bahkan sebelum aku menyadari geseran warna pada langit yang tumpah di atasnya. di atas garmen sadar dan nalar mu, cita dan ingin-ingin ku.

aku mengingat terlalu banyak. ingatan-ingatan yang pintanya menyesak hendak bicara, terlalu banyak yang hendak disampaikan di teras-teras itu,terlalu banyak kata-kata melumpuhkan dan melayukan. Tapi kamu bicara banyak sekali mengisi kosong lubang-lubang yang kubuat dalam kelu lidah berbalut terlalu banyak senyum dan salah ucap. paling tidak demikian aku mengingatnya. Kamu banyak bicara dan aku mengejar kata demi kata seperti menjaring kupu atau kunang. begitu senang. begitu berdebarnya malam. menyusutkan aku jadi balita yang kegirangan namun juga gelisah cemas. kita sekilas begitu serupa, resonan itu sama, ketika kanak-kanak wajah kita pun serupa tapi diam-diam kita teramat berbeda. beda dengan begitu kuatnya hingga kita terus menerus jadi orang asing. walau teras-teras ini banyak menyimpan kita. merekam haus, merekam ingin. inginku akanmu, barangkali juga inginmu akanku yang terlalu samar untuk bisa kuingat. bahkan teras yang kosong itu berisi hadirmu walau kau tak lagi disitu. Tanpa semuanya aku pasti membawa apapun yang tersisa darimu, demi sejenak malam sejuk berangin di akhir dan awal tahun setelah berkepanjangan dalam gerah.

apakah artinya ruang untuk kita kalau waktu sudah menghabisi kesempatan kita berteras lagi? Apakah artinya jarak yang disusun untuk membangun waktu dan kamar yang merenggangkan debar ku dari satu temu, memelar ke rindu yang jauh, ke rindu yang bertahun cahaya, rindu yang kekal ke sebuah hilang. sebuah kehilangan. dirimu ataukah aku yang hilang dalam apapun yang bertinggal di teras-teras itu? hilang yang selalu di damaikan dengan lega penerimaan, senyum dan lapang hati ketulusan yang tak sekekal kerapuhan sedih.tak sekekal rindu. tak sekekal teras itu.