Monday, September 11, 2006

miopia in paper cuts #1

jarak menolong ku untuk memandang. bahkan dalam kerabunan. miopia akan masa lalu. rabun ayam akan esok hari. bahkan dalam kemabukan, seperti berada di suatu ketinggian. altitude adalah jarak, dan ia membantu memandang banyak hal seperti miniatur di balik awan-awan, suatu penerbangan jauh diatas berbagai turbulen yang dilalui dengan keringat di tangan, sabuk pengaman dan kantung-kantung muntah yang tak pernah dipergunakan. Kadang aku tidak bisa melihat indahnya sudut condong matahari yang datang masuk ke kamarku ketika senja tinggal setarikan nafas sebelum padam. karena pada detik-detik itu yang lebih indah adalah gangguan noise dari bunyi pecahnya hati yang ditinggalkan keterpadaman itu. Tetapi dalam bunyi, entah itu bunyi pecahnya hati atau bunyi rekaman bajakan Mp3 selalu ada jarak yang menolongku memandang. jarak dalam getar yang menempuh suatu kejauahan atau kedekatan, turut menggetarkan kursi, jendela, debar jantung hingga membran gendang-gendang telinga.
Dalam jarak panjang jalan bebas hambatan ada lampu berkedip padam dari sekian lampu-lampu berjajar ritmik sepanjang perairan kelam. Bayang-bayang gelap diantara keteraturan terang kendara malam. jajar kemegahan cahaya yang kemudian ompong, seperti batang-batang piano renta yang berdentingan senar tapi juga menderit-derit kayunya.ompong.
Jarak sebatang cigaret kretek dari bara gemeretik hingga hangusnya diinjak padam, seperti jarak bincang diantaranya, dan jarak benak yang berjalan terus setelahnya. jarak waktu mengetik sebuah sms dan jarak panjangnya menunggu hingga tak pernah dikirimkan. jarak penempuhan, jarak penungguan.
detil yang hilang, bentuk besar baru yang ditemukan pandang, bentuk yang semakin jelas dan semakin kabur dalam sebuah jarak. Sebuah waktu yang berjarak. dalam jeli, dalam rabun jauh atau dekat akan waktu. masa lalu, masa aku, masa aku di suatu nanti. Dalam jarak ketika aku tak hadir lagi dari setapak yang kulewati, dari titi jalan kaki kaki, dari naung jajar bayang dan penerang. jarak memelar harap menyusutkan lapar atau kehilangan, menitipkan absen dari jelajahnya sendiri..