Monday, August 21, 2006

Hantu di ruang Scan

living for you is easy living
for it’s easy to live when you’re in love..
--Easy Living, Billie Holiday


Pada jam-jam yang tidak selalu bisa ditentukan, lagu itu berbunyi di kepalaku atau di kepala salah satu dari orang di ruang ini. Pada jam kerja, atau saat lembur malam atau ketika hening dan hanya keletik kibor atau mouse terdengar. Sekonyong senandung lagu itu keluar dari bibir salah satu dari kami. Di tengah sibuk hari-hari, kami mendengarnya mengalun dalam benak dipicu oleh sesuatu.

Pada jam-jam yang sulit diterka. Kadang saat senja atau pagi yang mendung atau tengah hari yang sekonyong padat berawan. Seperti berkait pada pergantian cahaya langit karena di rona antara satu perubahan ke perubahan ada patahan. tempat lelehan sadar celia masih bergetar merembesi kapiler-kapiler ruang kami, benakku

demikian ketika lagu easy living mulai mengalun ke dalam sadarku disitu ia hadir dan aku mulai mengenali jejak atau tanda hadirnya.

Lagu itu lagu lama, hampir tak ada yang mendengarkannya. Tak seorang pun dari kami yang punya rekaman lagu itu selain Celia. Kami tahu Billie Holiday dari koleksi lagu-lagunya. Hanya dia yang masih saja memutarnya diantara lagu-lagu masa kini dan Top hits indonesia yang secara bergantian kami dengarkan saat bekerja di studio. Aku menemukan rekaman lama itu di dalam bentuk mp3 di playlist itunes komputer yang dulu dipakai oleh Celia. Ia juga punya kasetnya. Ada versi mono maupun versi yang telah di mastering ulang oleh columbia record. Diam-diam aku menyukainya. Tetapi aku hanya memutarnya ketika tidak ada orang lain di studio ini. Orang lain yang tahu sejarah hantu Celia biasanya keberatan dengan rasa cemas yang mudah diterka: takut akan mendatangkan hantu celia. terlebih dengan kehadiran Celia yang masih kental di tempat ini. Tapi sebanyak aku memutarnya ketika sendirian, tak sekalipun Celia bermurah hati datang dalam bentuk sosoknya padaku.
ia hanya datang ketika dalam lengah tiba-tiba lagu itu rasuk ke benak. Dan itu pun aku hanya tahu tanpa sungguh melihat.

Aku sendiri tak pernah melihat sosok Celia selain yang terproyeksi di layar kepalaku berdasarkan deskripsi-deskripsi orang yang pernah mengenalnya atau yang melihat sosok hantunya. Ketika aku masih pegawai baru, kira-kira 2 minggu aku mendengar tentang Celia pertama kali dari seorang kawan desainer yang konon berbakat cenayang dari keluarganya. Ia yang bilang alunan lagu-lagu billie holiday selalu menandai kehadiran celia yang sesekali kelihatan berjalan dengan kertas kertas gambarnya menuju ke ruang scan. Ketika itu hari tengah pukul 3 dan hujan deras membuat langit seakan sudah pukul 6 sore. Sebelumnya aku tiba-tiba menyenandungkan easy living yang masuk pelan-pelan ke benakku dan sempar membuat rekan-rekan satu ruanganku berlomba paling keras menghardikku untuk diam. Sejak itu seperti puzzle pelan-pelan aku membangun sosok Celia dalam hari-hariku di studio ini.

Kata orang yang lama di tempat ini ia seorang ilustrator, juga sesekali menulis untuk dirinya sendiri di sebuah blogspot. orang lama ini juga memberikan alamatnya padaku ketika melihat ketertarikanku akan sejarah celia Orang lama itu bilang Celia sangat periang tetapi juga tak banyak bercerita tentang dirinya. Celia menggambar banyak karakter di waktu luangnya. Aku menemukan banyak karakter yang dia gambarkan di dalam folder ilustrasi di komputernya. Konon ketika ia balita tak ada yang tahu bahwa ia sebetulnya autis dan disleksia, ia punya kesulitan bicara dan lafalnya pelo. Ia baru bisa bicara dengan baik ketika memasuki kelas dua sekolah dasar. Sejak kecil Ia juga kesulitan tidur sebelum lewat tengah malam. Ia banyak menggambar sejak usia 3 tahun, kata orang tuanya hanya itu yang bisa membuatnya fokus. Jika tidak suasana hatinya berubah-ubah sangat cepat dan sulit ditebak ia jadi rewel, hiperaktif dan sulit dibujuk agar tenang. Orang tuanya berkali kali membawanya berkunjung ke psikolog atau pendeta di luar hari-hari ibadah minggu untuk didoakan karena ia dianggap anak yang "sulit". Ia pertama kali mendengar Billie holiday ketika berusia 4 tahun. Entah kenapa ia menjadi jinak jika mendengar rekaman lama itu. Tidak gelisah atau berkerut kerut lagi dahinya. bahkan ia bisa tenang sepanjang piringan itu diputar walau tidak jatuh tertidur.

Pencernaan Celia tidak bisa mencerna laktosa susu, karenanya ia tidak pernah menyukai susu yang selalu membuatnya perutnya mual dan mulas. Ketidak nyamanan di rongga perut dan rasa adrenalin yang tak seimbang membanjir seperti kupu-kupu beterbangan abdomennya membuat ia lebih lagi rentan akan ayun emosi. Ia jadi anak yang gelisah, tak sabaran, pemarah dan penyedih.

3
Aku tak tahu persis penyebab kematiannya. Kata mereka ia memang mengidap semacam kelainan kelenjar
ditemukan tak bernyawa di ruang ini di dekat mesin scan dengan kertas-kertas gambarnya. Tidak ada tanda-tanda ia bunuh diri atau dibunuh atau sakit. Autopsi tidak menemukan penyebab kematian apapun. Jantungnya hanya berhenti berdetak. tubuhnya seperti memadamkan dirinya begitu saja. Seperti sistem komputer yang shut down. Ketika itu ia tengah menscan gambar-gambar terbaru nya

Suatu siang aku menemukan di lacinya buku Night Falls Fast. sebuah buku tentang memahami prilaku bunuh diri. Itulah pertama kali aku berpikir apakah Celia mungkin bunuh diri. Kemudian dari salah satu dari teman dekatnya di studio ini aku tahu Celia memang pernah bicara soal bunuh diri walau bukan berarti ia mati karena itu. Katanya, Ia pernah minta diberikan alasan untuk tidak mundur dari hidup. Ia bilang ia tidak memilih hidup, tapi ia bisa memilih kematian. Tetapi temannya yakin ia tak pernah sungguh hendak bunuh diri, Celia seorang yang cukup positif walau tertutup dan perbincangan tentang subyek itu dengannya ada kaitannya dengan subyek perbincangan sebelumnya yaitu sindrom depresi menjelang datang bulan. Itu jadi satu serpihan baru yang mengisi potongan gambar Celia di kepalaku.

Lagu itu mengalir lagi di benakku. aku yakin semata karena aku juga makin menyukainya. easy living. lagu yang sejuk tentang hidup yang mudah. Tetapi Celia tak lagi hidup. walau hantunya terus dibicarakan dan makin lama makin hidup di kepalaku. Mungkin jadi eksotisme buatku, suatu minat yang terbangun oleh film-film, reality show dan legenda urban di keseharian televisi. Eksotisme yang membelahku dalam perseteruan kutub percaya tidak percaya antara logika dan pikiran yang terbuka akan segala kemungkinan. Kisah-kisah yang terlanjur terbentuk di kepala ku tentang keberadaan Celia membuat imajinasiku berkeliaran dan penasaran. Aku jadi ingin sekali punya indera ke enam supaya aku bisa bertemu dengan Celia sekali saja. mungkin bercakap, mungkin berteman. Aku ingin tahu apa yang merenggut nyawanya dan apa yang membuatnya tetap disini tidak dilahirkan kembali atau pergi ke tempat lain jika ada tempat lain untuk para hantu di kota padat yang sesak ini. tetapi ia tak pernah kutemukan, kecuali jejak jejak lagu itu, mengalir di kepalaku

bersambung