Wednesday, February 01, 2006

warna jendela pada pukul 5

Sebuah lapar bisa begitu panjang dan jauh. Menghajar seperti kereta berlari deras tak putus-putus. Lapar yang sesak karena ruah dan memburu, Menghimpit dengan cair masam yang luap hingga ke dada. Seperti kental sepi atau sejenis rindu. Lapar yang perlahan sekaligus tergesa untuk membunuh. Sementara aku telah mati bertubi, sejak hitungan gerak pertama dari punggung kepergianmu atau langkah pergiku usai sebuah temu.
Lalu lapar itu selalu datang menerabas gelap berbulan memburu ingin untuk tinggal lagi di stasiunmu. Lapar yang deru hingga bisingnya menjenuh. Tak satu pun suara terdengar lagi. Lapar akan harap di suatu angka tahun yang terus bergerak. Di segala kelok dan terowongan gelap tanpa sedikitpun tanda akan pastinya hadirmu di ujung rel dingin. Rel-rel yang konstan digilas hingga menjerit-jerit denging resonan yang getar "mati berulang kali untuk hidup sekali.."

lapar yang telah karib, bergerak niscaya pada hati yang lenyap terbawa sebuah kepergian. Kematian atas lapar itu pun terlalu lembut dalam siklus inginnya yang menggebu

jika di suatu entah kau temukan dirimu membaca lapar itu.
kau akan mengenalinya, Ia dituliskan pada medan regang antara dua punggung yang berbalik seusai selamat tinggal dan harap-harap yang lalu dikibarkan dalam diam.