Sunday, January 01, 2006

Tahun Lucida dan Capela

Di suatu genggam yang tak sengaja, dibukalah jalan-jalan telusurmu di pesisir kelok waktu yang jauh, di suatu telapak rajah yang jauh dituturkanlah tafsir bahasa toreh arah perjalanan, disandikan pada carut menyilang dan ceruk-ceruk samar
telapak-telapak dan alir yang deras mengandung diri dalam cairnya.

Pernahkah begitu kau merindui seseorang hingga nafasmu tersesak? Pernahkan ingatan begitu tajam akan sebuah hadir hingga terasa bahkan geseran udara yang sama pada suatu hari yang telah sobek dari penanggalan.
aku begitu haus seperti suatu waktu yang belum pernah. waktu-waktu yang seperti pohon, semakin merindang dan meneduhkan ketika dibiarkan, ketika ditunggui, ketika bercambah bermacam harap.

arakan awan, geliat ruang. senyap adalah sebuah tempat ketinggian dalam sejenis kemabukan. Hamil harap yang jadah. dicemaskan ketika rekah tunas-tunasnya lalu membelenggu perlahan seolah janin menua menuju rindu waktunya dilahirkan. Hawa yang hangat serupa ngilu yang karib. Serupa debar. Seperti berkebat deru padang jemuran di atap-atap, ketika ombak atas helaian ladang sedikit menderas. Pekat cair yang menggelegak dalam dada pun kian berumur. Terhitung hari-hari tergores yang terlanjur absen darinya. Semakin jauh semakin tegas dan tajam ingatan. Memburu dalam gelombang-gelombang yang badai dalam senyapan. Jauh di bawah frekuensi sadar kita yang bercakap tanpa siapa-siapa.

Jarak. Kosong diantaranya apung dalam rambatan cair di kolam-kolamku, menyusur rajah-rajah tangan, hendak kupatah jelajahnya, kujerat jenjang alirnya, lalu kutuliskan ulang.

Yang terbuka di suatu genggam, katamu. yang terburaikan di sebuah dekapan, yang tertuliskan di patahan dan persilangan rajah telapakku kanan. hapus.
Segera, kita menuliskannya ulang.

Sebuah ingin. ingin yang saling. pergi memburu imbang. suatu waktu kita pun hadir satu lalu meregang jauh menyusur jejak serupa imbangan. mendebarkan seiring degub hitung sejak berbalik punggung-punggung bertulis selamat tinggal, meluapkan ketika temunya kembali genap, lalu kembali pusar alir dan lingkar berulang menabur harap sebelum burainya kembali ruah. Meniti temali dalam tetabuhan yang diam menggelisah.

Langit telah berminggu-minggu berlatar malam. Tidur, bangun dan terjagaku berdegub dalam pejam. Haus itu menjadi haus dan lapar. Menjadi tetesan yang kuyub mendingin lalu kopong berdengung dengung. Sebuah rumah beratap tunas dibawah langit yang ingat akan hujan berminggu-minggu silam.

aku melabuh di mezosfer luas tak berawan. tanpa bobot apung. Mengenal celah-celah tawanan kedap itu terbuka lebar menyusupkan percik masa yang jauh di depan ke titik sebelum semula. big bang ternyata setetes air mata yang lahir dari kematian di celah pintu masa yang tuntas dan belum berawal. Sebuah mula dari kesudahan yang belum terangkai datang.