Tuesday, January 03, 2006

fragmented memoir of a happy phantom

Sesekali kita terjaga tengah bercermin pada segala, pada fragmen kalimat yang tidak relevan, pada potongan ingatan akan sebuah kisah atau percakapan lalu tersandung serpih yang ternyata telah jadi sebutir kata kunci. Ia membuka kotak pandora dalam dada lalu menyebarkan polusi di rongga-rongga dengan kental kesedihan dalam udara. Nafas-nafas sarat lalu sesak dan berat.

sebuah sedih yang pada puncaknya sanggup membisukan segenapmu dalam kedap yang sempurna. kedap pepat seperti perangkap kaca tahan peluru atau ruang "airlock" pada pesawat antariksa. Tak ada bunyi yang rambat, tak ada resonan atau hembusan yang rajin mengirimkan jeritan atau isak yang biasanya disandikan diam-diam lalu diurai kode-kodenya oleh radar empati. Hanya khayalan akan getar pita suara yang putus asa yang belum tentu terbukti pula.

masa lalu seperti bangunan yang kita dirikan, lemari yang dipenuh-penuhkan, kamar-kamar yang kita tata dengan begitu pribadi namun tak untuk ditinggali. aku terus berjalan lurus membangun sepetak demi sepetak lahan yang terus menjulang sesekali megah, kadang rapuh, kadang memar tapi semuanya dibangun untuk ditinggalkan. barangkali dikunjungi sesekali dan mereka nampak berbeda dari ketika pertama kita membuatnya. Mereka selalu bangunan-bangunan sempurna yang kosong, dibangun untuk ditinggalkan