Thursday, December 29, 2005

suatu kedap

sebuah kedap yang makin sulit terjamah. merajalela di waktu-waktu aku sendirian. di perjalanan, di tengah kota, di secangkir teh, di absen-absen bicara. Kedap yang pernah mengalir sekali waktu. membunuh ketergesaan dan semua yang memburu dalam berlewatan. tertutup. Mencuriku jadi sandera tanpa seorang pun tahu waktu ku yang hilang lenyap berjam-jam bahkan berbulan-bulan dalam tawanan.
Sebuah kedap yang berkehendak lepas untuk datang dan pergi. Menjadi belenggu tirani lalu pasif membebaskan segala terjadi. Sebuah pulang yang tak ingin ditemui tetapi menemui.

Kedap itu kucari-cari. ia belum bermurah hati