Saturday, February 19, 2005

sehelai bulu diantara bangunan pencakar 4

kadang kematian lewat di jalan. ternyata aku telah mengenalinya sejak dulu, hanya saja tak seorang pun memberitahukan padaku namanya. Ia lewat sebagai penjalan, atau semata hembusan nafas yang tak panjang. Sesekali ia datang buatku namun urung atau mungkin ia memang bukan datang buatku. ia hanya begitu dekat seperti menepuk bahuku. sesekali ia begitu dekat hingga aku berdebar dalam resonan kehendaknya yang getar menyusupi belulang.
Aku bisa merasakan hadirnya dalam respon gidik ku.
Hanya lewat pun ia berat dan sarat membuat pekat nafasku. ketika ia menjauh udara terasa lebih ringan. Ada kelegaan ketika ia pergi. Tidak hari ini ia datang untukku.

No comments: