Sunday, October 17, 2004

three of hearts and queen of clubs

kepingan kelam menggerimis di berkas sabit, ketika kutemui wajahku terjaga. selagi kantuk larikan dirinya. kutemu dermaga dan kecipak nganga memiris antara vitrage dan renda. bunyi geseran detik teramat sedih, panas melecetkan debar.
perih mengganjal layar tidur yang terlalu murung untuk perairan malam.

Terimakasih, Jangan datang lagi..
pintu dibanting. air hangat yang meluncur di kerongkongan tersedak.
Ia telah pergi dua hari yang lalu namun baru kini kau banting pintu itu.
Kau tak tahu karena isak tangis itu bersembunyi jauh sekali di dalam salah satu pintu bilik di labirin dadamu.
Kau hanya menyadari banjir sedihnya ludak ketika gelap dan tak ada seorangpun menjagai malam kecuali dirimu dan kamu.
dan itu setelah dua hari berlalu

setelah beberapa kali masih saja kau rasakan perih di selangkanganmu, dan beberapa kali hanya sepi ketika kau nantikan selarik dua larik pesan datang membalas smsmu sejak hari itu. sunyi. kebisuan yang kau kenal karib di bibir dan telingamu sendiri.
kegelapan murung terhenyak oleh harapan yang teronggok lalu diacak, terbangun lalu dibongkar kembali. Ia datang mengerami hangat harap lalu meninggalkannya sebelum tetas, dan cikal nyala hidup itu kembali rusak.

Bunyi bantingan pintu itu memanggil dirimu. terjaga menemu dirimu yang lain. yang satu tengah kosong dan kaku setelah terbenam dua hari di bilik itu, yang satu resah dalam senyap yang nyaris seperti angkara dengan kepal tangan beresidu bantingan pintu.

ia berhenti bertanya mengapa masih saja kau buka pintu itu, barangkali setelah tahu kau akan selalu menerimanya, walau selalu kau terlempar di dampar gurun demi gurun berkepanjangan. gurun yang melulu kau lalui sebelum ia tiba mengetuk lagi.
ia berhenti menanyakan keletihan, karena bibirmu telah terkunci oleh keterdiaman.
Walau dirimu yang lain selalu datang membanting dan mengacak jejak hadirnya dan menjagaimu setelah jatuhmu seperginya ia.

Rasa itu yang ia bagikan setiap kali ia datang. Dan alasan yang kau mengerti namun bukan yang kau terima. Kenapa harus ada dirimu di celah kecil yang tersisa antara dirinya dan kekasihnya. Karena kau pun seorang kekasih walau namamu dihapuskannya. Demi membayar sedikit demi sedikit penawar haus hati dan harap yang diperpanjang sejenak saja.

Kau pengisi yang kemudian dibiarkan tak terisi. Kosong mencari dirinya sendiri.
Menyadari pedihmu tak akan sesedih dirinya, barangkali. Kau percaya Imbangmu dan dirinya akan punah dalam lemah yang entah dan kebingungan antara kekasih dan hampir kekasih, dan pilihan yang katanya tak ingin dipaksakan kepadanya untuk memilih. Tetapi yang tak pernah sungguh dimengertinya tak pernah pula sebuah tawaran serupa pilihan. Segalanya hanya hamparan sebagaimana ada dan tak pernah sebuah tawaran atau pilihan.

Karena kau sendirian, dan ia berpasangan. Karena kau gamang dan ia selalu ada tempat untuk pulang. Karena kalian bertiga manusia, setara, dan sungguh tak ada alasan untuk dirimu menunggu dan menerima waktu yang mereka teteskan remahnya untuk kehausanmu. Kau dan angkuhmu mengukur terlalu tinggi luas samudera dadamu untuk sanggup memeluk semua. Di malam keseratus sekian yang kian kopong itu samudera berbalik tak akan habis terteguk tuntas oleh gerowong timpang terlubangi cair korosif sedihmu setelah bertahun lewat.

kau dan ketiga dirimu saling mengerti tanpa saling berdebat lagi.seperti seraya kau banting pintu itu mengusir jejaknya pergi ketika kau dengar isakmu dari bilik itu. dan dirimu terjaga oleh banting pintumu itu tanpa memandang pada dirimu yang sebelum. Bergegas menelan malam dan menggantungkan jemuran pagi agar segenap dirimu pulang tertidur sebelum kecewa menjadi kuyub. Ketiga berdiri satu sebelum anjakmu pada pagi, menutup pintu dengan kokoh lalu memutarkan kunci bergafir "..selesai berlalu".

dirimu kembali satu tak menoleh lagi.


Pukul 3 pagi, kereta subuh menggemuruh di Cikini

No comments: