Tuesday, February 24, 2004

negri pelahap waktu

satu denting terjaga lapar
bunyikan kenang akan denting terdahulu yang baru lalu.
mainkan hembus sebirama demi sebirama nafas
dan gerak tubuh-tubuh yang tak pernah tanpa suara

satu debar terjatuh
menggeletarkan kenang akan debar terdahulu yang masih saja menunggu
jagai cacah konsonan liris yang tertulis oleh segerimisan janji
bertemu lagi, atas staccato tumit-tumit gelisah

satu nada tertidur
mengulang lepas berhari-hari dialog bisu yang tak pernah sama melagu
satu senar lelehan mata untuk setiap piano bar
satu imroptu senyap untuk seuntaian manik ingatan