Sunday, February 08, 2004

jerat

Tangan yang berkerut kering kecil dan pucat itu menggenggam lenganku, ia tidak menggenggam lebih seperti menyangkutkan katup jemari nya. karena ia nyaris tak punya kekuatan. berdiri tubuhnya yang lengkung itu susah payah bersandar pada belulang punggungku sembari tangannya berpegang pada lenganku.
aku melangkah satu satu karena ia tak mungkin mengikuti ayunku.
Tubuhnya kecil mengkerut seperti gelas rapuh yang airnya hampir tandas diminum oleh waktu yang selalu rakus dan haus melahap segala. bahkan embun dingin di dinding beningnya tak tersisa, mengering mengeriput oleh kerentaan, menunggu gugurnya padam.
Aku bergidik melihatnya. matanya mengedip perlahan. meredup sangatlah redup seperti pintu yang nyaris terkunci tak terbuka lagi karena grendelnya telah begitu sarat berkarat Ia seperti mahluk rentan tak berbahaya namun aku berulangkali memergokinya diam-diam menyelipkan silet silet ke dalam jantungku. Silet yang menyayat tanpa terasa, namun perlahan memanas seperti sayatan kertas. meneteskan darah putih yang bening kuning karena infeksi bukannya merah. darah yang terkecap seperti miris dan amarah bertahun. diam-diam disayatnya tahun-tahunku dengan hadirnya. Mahluk yang amat rentan di kasat mataku, namun hatiku bisa mendengar dentam langkahnya yang keras mengikat sadarku ke dalam limpah debar yang aku tak sanggup paparkan. seperti miris gelisah, kesedihan, kepahitan, keindahan dan hasrat-hasrat mencelakai, perih membuatku mengernyit terciprat hujan dan musim-musim yang bersilih alih di langit dalam dadaku. Semakin ia tak berdaya semakin kuat dan tajam sayat-sayat yang diayunkannya ke pembuluh-pembuluhku. Dan aku selalu gagal menemukan alasannya dari matanya yang teramat redup itu, entah berapa kali setiap aku mengusap keningnya menyingkirkan tirai rambut yang kaku dan kelabu.
Sadarku yang luka itu berulang kali menghardik mahluk rapuh itu tanpa suara, Betapa kekejian tersembunyi yang kutangkap bertumbuh dalam ketidakberdayaan yang membuatnya seolah bukan manusia. Tetapi aku menghardik hardiknya dalam bara hidupnya yang nyaris padam itu, demikian aku pun perlahan menjadi mahluk yang beranjak menuju kekejian yang serupa dengan dirinya.

***

kibas lembut yang disisakan dari nyala jejak berlari kanak-kanak bertahun lalu itu merampas perhatianku menoleh pada mahluk itu. gadis tanggung dengan mata berkilat yang hadirnya selalu membangkitkan debar aneh yang menohok hingga kerongkonganku. perut ku bergolak diserbu serangga-serangga celaka yang membising. Disergap gelitik rasa serupa jijik yang menautkan kernyit dahi. Mendorongku spontan menjarak dari mahluk itu jika mendekat. Aku terusik nyala hidupnya yang menggesek kulit-kulit pembungkus benakku yang senyap. Begitu menyebalkan seakan tanpa dosa. Tetapi ia memang tak bersalah padaku selain dari memiliki sepasang mata yang seperti milik kekasihku. Sepasang mata yang membangkitkan letupan didih golak lain, yang jahat, yang indah yang mencengkeram dengan dendam kerinduan dan amarah pula. Ia berdosa bukan karena sepasang mata itu melainkan karena ekspresi wajahnya yang senantiasa serupa dengan perempuan asing yang melahirkannya. Gelitik rasa yang serupa seperti ketika aku melihat seekor tikus berkelebat membuatku inginkan dia pergi jauh-jauh dari ku. Namun aku diam-diam membutuhkan sorot kedua mata itu untuk bertahan dan Ia pun tak ada tempat untuk pergi. Kami berdua terjebak tak sanggup loloskan diri. terdampar berdua di lautan hidup. ketika kematian merenggut segala yang kami miliki dan cintai kecuali nyawa kami. aku ingin ia mati namun aku tak inginkan ia mendapatkan kebebasan itu lebih dulu dari aku. Aku ingin mati sebelum ia mati. Namun aku tak sanggup berjalan menuju kematian dengan hadirnya berlompatan ke dalam kamar dan hari-hariku dengan sorot matanya yang terus membuatku ingin hidup karena disitu ada pantul yang sesekali pernah berkobar nyala menjadi poros dari energi semestaku. energi yang barangkali kuhanguskan dengan rakus untuk menyalakan hidupku sendiri tanpa sungguh mencintai poros nyala itu. kekasihku. Ke dalam lautan dan langit dirinya kutemukan cermin cinta yang dahsyat bukan untuknya. Namun cintaku untuk diriku sendiri. cinta yang melahap habis dirinya hingga sayap kematian menyelamatkanya. Aku mencintai diriku sendiri dengan seluruh adanya. Dan aku menikahi diriku sendiri dengan kendara tubuh dan jiwanya. Lalu Ia membalasku dengan meninggalkan aku sendiri dengan mahluk yang bukan milikku. Mahluk yang dalam dagingnya memeluk darah yang sama dengan darahnya. Mahluk yang membawa kobaran hidup yang sama di matanya. Seakan menjadi mahluk yang menjaga hukumanku dijalankan di sisa hidupku.
aku disergap gelitik serupa jijik, seperti menjamah hewan pengerat dalam liangnya ketika aku menggenggam tangannya berusaha menahan tubuhku yang lapuk dan renta untuk berdiri. mengerut berusaha memohon kebebasan dari jerat yang terjalin lindan kusut antara pasang sadarku dan sadar gadis itu.
Aku bersandar letih pada belulang punggungnya yang masih tegak barangkali sampai bertahun-tahun lagi. Dan aku barangkali tak akan pernah mati dan selamanya dihukum oleh dengki yang membusuk bersama keriput dahi hingga ujung jemari kakiku yang ditinggalkan hidup sejak lama.