Monday, September 08, 2003

sehembusan dongeng debu, jelaga dan sendiri

tertiup debu rindu di jendela
menampi jelaga kota
terpilah dengar di telinga

debu rindu yang cemari cangkirku
teguk puisi buat raga ambigu
kemudian rindu pun malu

kepak berisik
keriuhan benak
kelepak senyap
kesepian dada

bersalin puisi-puisi tuna rindu
menghardik kesetunggalanmu
jadi berlaksa wajah cenung
menunggu sesuatu

berkecipak hening
beterbangan sekehendak diri
baitnya seperti degub-degub rindu itu
seperti setiap hembus dan riak memburu
nafasku

puisi buatmu mendengus datang
beralamatkan hati biru gersang
ketika langit justru memerah

awan menjelma kepak
seperti kepak burung selatan bersekutu
benak rindu akan tiadanya diriku
jadi pualam puisi terlebih dulu