Sunday, August 03, 2003

gurun

Gurun ini kamar berpintu sepi. Kampung halaman segala cair golak hati yang merembesi sanubari. Meresap atas pasir pasir kering jadi mata air tersembunyi. Hangat tak bertepi, bergaung sendiri tak pernah sesunyi langit hampa yang lepuhi nadi.

Di desis kroma cadas pasir-pasirnya telah telanjang segala. Tanpa fatamorgana.
Gemetar bias cahaya di tepi-tepinya hanyalah lutut bintang raya. Bertelut papa tanpa daya diperkosa jarak antara pagi mimpi dan malam nyata.

Dengar, gurun berdesis hening menanti luka terobati oleh tawan dan bulan-bulanan awan yang tak kunjung melintas. rindu jatuh ke bayang langit menjungkirkan hakekat. memburu saksi ketika padang pasir ini berubah menjadi langit sementara kelam kerlip atasnya jadi gurun membeku hitam

aku kemudian hanyalah kenang di kejauhan, terapung antara gading dan malam meniti toreh makna atas pasir yang menggeliat menghapus sirna segala jejak. seperti gambar degubku suatu kali,lenyap.
atau pantul wajahmu sesekali, lenyap.
berdesir-desis baur segala suara jadi seteduh senyap, tertinggal pasir menggeliat dan angin gelinjang
meleleh tiap butirnya menjelma ungu. Lebur tetesan hampa sesosok nyawa dengan etsa atasnya, namaku.

agustus 2003