Terminal Uranus


[randurini]

perhentian ini menyerupa lingkaran. mungkin lingkaran ini adalah lingkaran kesekian dalam beberapa reinkarnasi. tapi aku tak pernah peduli, aku tetap harus berhenti. mataku menanar memandang galaksi yang melukis tubuh jagad. ruh melayang menjadi debu, tanpa gravitasi melesat lalu menjauh. beberapa di antaranya membuat janji untuk kembali. tapi kapan?


tak pernah diulang dari mulutku untuk kembali, ketika aku bersatu bersama ruh-ruh meliuk menggerayangi konstelasi, menyetubuhi orbit-orbit. aku selalu kembali, dalam abad yang berlari. kusaksi bintang-bintang berdarah ketika aku menarikan hujan. merayu sabana-sabana kering terhampar di pedalamanku.


semacam mantra yang tak pernah terucapkan, lidahku menjilat langit seperti anjing. mengais remah-remah harapan akan sebuah keabadian. pedang-pedangku tumpul sudah dalam perjalanan peradaban. togaku terobek halilintar. berkali-kali aku terlempar keluar masuk galaksi, ketika kesungguhan hidup tak pernah nyata dan terlalu berlebihan ketika terucap cinta.


kutunggu penjelajah-penjelajah sandhyakala pembawa berita. mataku hanya mata kanak yang sama, yang mengiring pergi bahtera-bahtera kayu menjemput mimpi. di ujung samudera, khayalku melela dibuai angin tenggara, menembus batas maya cakrawala. aku hanya kanak yang sama, yang terlahir kembali di tengah gelagap waktu dan dimensi. kenangku mengepak mendahului lesat elang membelah langit menyusuri imago ribuan tahun yang terjalani lalu mencoba menuai arti.


sepuluh windu, aku berdiri di bibir pantai yang sama, di bukit yang sama, melepasmu lagi membawa resah tak kesudah menuju matahari. tapak-tapakku masih terentang, menitahkan angin tuk mengantarkanmu ke ribaan cahaya yang kau cinta. simpuhku semata hanya selarik doa yang tak pernah terkirim ke surga, karena masih kurangkai bait yang sama tentang luka abadi tiap kali aku pergi dan kembali.


perahuku terdayung melintasi sungai-sungai asing mencari jejak-jejak cakra yang kau muntahkan. di setiap persinggahan, aku mengutus nyali merambahi rahim-rahim tak berpenghuni. gelisahku melepas rindu pada hangat, mencumbu tiap nadi yang terbakar rembulan. inilah saat aku melepas segala ikatan yang menduri di dagingku. aku resap: mencarimu.



[cecil mariani]


aku yang selalu kembali
membawa sang tak terduga bernafas lagi
dalam geming singgahan demi singgahnya
seirama sejenak saja
melelehkan residu pijar pijar membara
berbeda di tiap labuhannya
barangkali rindu, barangkali sihir,
barangkali bayang pertanda
segala tanak pulas dalam silam, hari ini dan esok hari
orkestrasinya menggejolak bersama panggil samar serupa rindu
menjadi riak riak segala
sarat membawa buta rahasia rahasia
yang hanya terbuka seketika tiba


putus hitunganku mengenang
tetesan air mata gemintang berubah jadi kerlip berdenting dentang
menobatkan kelam dengan mahkota
dalam juntai hitam jubah jubahnya
menyeret di jejak lintasan kala
pada toreh sekejap ada
lalu menghilang jadi debu atau kabut warna
di perairan mahahampa
seperti lepas mengurai masa lalu di aion tempatku tiba
dan tiba kembali ke ruang ruang kembarnya
terundang sujud di kamar raja raja
setiap 80 bilangan aku diutus menghadap pulang
bukan pula ke rumah rumah tempat aku berasal
menyalakan pulsaritmik seirama
di kolam cermin taman cahaya
tempat sepasang ikan berenang kekal
pada renungnya tentang roh roh kehidupan
pada tali temali jiwa beranjak saling jalin sendiri
dan gelak cipratnya membuyar meditasi


tanyakan padaku tentang kutuk dan anugerah
kelok gerak kebetulan demi kebetulan
kekekalan dan peralihan
ketika hadirku di tengah rasi rasi membuyarkan hening cair permukaan
tak pernah sama setiap jatuhnya di pelabuhan
tanpa praduga rasa
lihat semua permukaan berderak derak
semua kolam beriak riak
semua suara beresonan gaung
dan semua jalin sekap mengakar
hingga darah doa mengalir
terhimpit harap di bingar singgahku,
menyulut serentangan siklus menuntut jaga
menghamburkan pasang ombak ganas tak menentu



::medio april 2003