Monday, March 24, 2003

seismograf 1

:ritme


ke dalam ketersilaman
ke datar persimpangan
meluruh retas kesenyapan
dalam suara cuaca yang meresahkan tertundanya hujan
menuai ritme dentum refleksi di sawah-sawah mimpi
memproyeksi degup metronom hati ke senandung jantung
mengusik janin janin momentum
hingga lelehlah deras hidup ke tempayan waktu
hingga luap..

karena cinta setitik
terabaikah teduh di riak belanga kamar?
terlupakah senja akan butir butir tanpa hias rindu?
yang tak pernah habis termangsa
ketika kendara hampa duduk meraja
dalam suntuk sebuah kala yang tertunduk menjadi jeda

tak ada yang bicara
bahasa bahasa di setengah cahaya telah terlupa
tak lagi kosa kata tuntas mengatupkan makna
ataupun membalut kembara jadi jilid jilid yang tertata

renda angan kusut diantara sisir kegemingan
mematahkan tirani waktu walau hanya sesaat
dan luka luka perang itu tertoreh di wajah
jadi carut bernama usia

cecil, maret 2003


seismograf 2

:hujan tengah malam

'
'terjaga dalam tidur hanya untuk menonton hujan
hujan senyap yang saling berseteru dengan resah benak
kegelapan kedap
jiwa patah, senyum memar, ombak samar
karusel berdetik berputar bersama gelak imaji
tersisa di awan asap yang berdiri
enggan bermain dengan gravitasi

terjaga dalam tidur untuk menonton gerimis menyisa jejak
seusai lelap jadi pengap mencari udara
di malam setengah kemarau menguap panjang
seperti kantuk kerinduan kronis
mengepul diantara asap asap sigaret di udara basah,
mencuri angan khayalmu berpendar monokromatis
bergulir ritmis disela sela
menyimpannya untuk berjaga di segelas awan
teduhan sunyi di sisi kamar

cecil,maret 2003


seismograf 3

:tergesa

'
keriuhan bayang itu mengeruh
berdenyut resah halauan mimpi yang tersisa
kemana pergi kemana singgah
langkah tergesa, terjang letih seperti libasan angin
jantung terhenti di kilas sosok yang seperti bayangmu
lampu jalan bertabur lari
terlalu letih untuk melawan

dingin dekap gelap menghantu
tercecer di lantai lantai beku

dengar ketukan itu di dinding dindingmu
uraikan pinta yang mengusik mangu
jadi memburu


cecil,maret 2003


seismograf 4

:paradoks makanan penutup


kaki kaki bertaut di antara meja
bernafas ruang dingin di tengkuk rawan
rindu ringkuk paru paru beku ruang-ruang
menyusur tubuh tubuh diam mengalir ke dalam bincang
wajahmu larut di cangkir cangkir kopi yang berdenting.
berputar bersama pusaran kristal leleh semunjung gula
menunggu reguk kehausan bibir mengering mengelupasi angan
hasrat,
menggejala toreh etsa-etsa erotis di jentik mengetuk jemari
di atas varnis kilap meja memantul detak
cumbuan itu melayang diatas asbak
lenguhannya panjang setarikan nafas
semua menyublim lepas waktu longitudia cair di dalam cangkir surut menjadi ampas
berserak butir jadi jelma kembaran hadir,
tinggalkan hangat jejak residu
di atas lantai berderai turun setapak demi setapak
merangkak
menjamah aurat


cecil,maret 2003


seismograf 5

: connoiseur lounge


dengung kristal gelas gelas ini mendongak sejenjang angan
sepat asam anggur bening tanpa warna
mengepulkan hampir arakan awan
ia berdengung ketika kusentuh bibirnya dengan jemariku yang basah
ia berdengung ketika bias bening pantulnya memuai di resonan paruh gigil
berdengung bersama gementing lunglai gerendel gerendel kenang
berdengung jemari dalam pusaran yang terbuka di bibir lingkar tembus pandang
berdengung serupa garpu tala terseret tanpa daya
terhisap ke ujung desah memeluk tandasnya hingga kosong menyaring gaung
berdengung jernih getar pantul pucat membuka kejadian demi kejadian
bahkan dengung kejadian yang tak pernah

berdengung sekali rusuk rusuk dalam debur kebeningan uap asam di gementing gelas
sunyi jadi dengung manis menguap
manis memuai
jadi hembus ke tengkuk tengkuk gamang,
berdenging terkurung hampa hening
mengembun basah jadi bulir keinginan

cecil, maret 2002

seismograf 6

:fetus letih


aku letih, sayang..
kuingin meringkuk rapat jadi fetus yang menambat di rongga hangatmu
menawar haus mereguk manis dari placentamu
merenggangkan apungan lelah
menendang tanpa banyak bicara
menangis kedap tanpa suara
mengerang hanya untuk kau dengar
di bantal bantal lendir wangi
ditepuk tabuh teduh nafasmu
nyariing seperti hembus gaung di lorong lorong

aku merampas dekapku dalam terbungkusmu
tertidur tanpa baring
bermimpi tentang letih

aku terjaga, sayang..

cecil,maret 2003


seismograf 7

:patahan gempa


nyeri adalah
jarum jarumku yang telah patah
sehabis menoreh puncak puncak tajam
mendaki dan tergelincir
gelisah seperti gelinjang

beku lembar lembar moreng itu
tak ada sunyi menggantung
menahan tegun
seusainya
dan jarumnya terpatah
walau goncang tadi itu perlahan
nyaris tanpa setitik geming
yang barangkali hanya setitik saat
hanya setitik lupa yang datang
kemudian
seakan tak pernah ada jejak barang setitik getar

tak pula tercatat bilangan ukur goncang
tetapi akan kugaris bawah..

jarum jarum itu patah


cecil, maret 2003


Seismograf 8

:sedimen lelaki


seorang lelaki yang dalam uratnya mengalir pasir masa lalu
bersedimen di alur alur sungaiku
menabrak luap lentik lentik jemari mencungkil tuas pintu sembunyi diri
dalam nafas tembakaunya berseling terik hangat kemarin hari
rekahnya lenyap tak bernyawa sekering jejak hujan yang telah pergi
tak terkenang lagi lewat dari berhari
seorang lelaki yang dalam uratnya menyusur siklus sendiri
menyimpani kembara yang susah payah terkemasi
akupun terlelap di mejanya yang bertabur narasi
di apung perahu angkuh berlayar koyak menolak sulam
meninggalkan perairan tanpa sangkali jelang karam
menyelam ke dasar
berdiam di karang bebatuan malam

cecil,maret 2003