Saturday, March 29, 2003

kekasih kesunyian

kadang aku mendengar kesunyian menjerit pekak. Melenguh seperti tersungkur duka, menggeliat bersama renggang udara
aku memberanikah diri menyentuhnya sesekali ketika hadirnya bernafas dan terengah seperti mahluk terluka.
mendekap bayang tiada nya erat seperti seorang kekasih atau karib sahabat
lalu menemu residu denging redamnya dada yang jadi seolah sunyi itu sendiri dalam tegapnya ketika berdiri.
pernahkah kau cium wangi kesunyian? ia menyapa seperti pagi dan senja di gemericik limbah air airnya, seperti rerumputan basah dan seperti wangi tubuh-tubuh hangat yang kau kenal ketika puncak harumnya.
kesunyian pun memendar berwarna seandainya baik baik kau tatap.
kromanya seperti pualam legam langit waktu tengah malam, mencorak tipis namun dalam, merajam dengan manis resap kesadaran hingga sungai-sungai darah seakan meredup sebelum padam.
kesunyian bercabang ranggas dan juga menetas
rapuh berguguran seraya mencengkeram dalam ladang hati dengan akar hampa yang kadang mencair pahit kadang memuai teduh.
mengais lapar dalam rindu rindu, melahap mangsa keriuhan
kadang dalam lembut tanpa suara, kadang dalam badai dentum ladam ladam yang kokoh menyala dalam birahi senyap

kesunyian tipis miris dan rentan. Kadang aku mendengarnya tersedu sendiri ketika derainya turun menderas. Ia merintih jernih tanpa bias bias di kaca sehabis kabut atau hujan, selalu jernih tanpa seresah pecah ombak tak bersuara di pesisir kesendirian. Tetes-tetes kesunyian, dimana aku bertemu cermin cermin paralel kesadaran. Pada refleksinya segala getar udara menemu ajal.
Mendapati kekosongan dan keriuhan sebagai sepasang sayap kembar. Dan aku masih saja merasakan hempas kepaknya di udara seperti sesosok kerubium dalam nyalanya yang bungkam

Kesunyian mengistirahkan sadar dari tampah tampah berisi risau yang tersiangi sendiri dalam absen gelisahnya. Tanpa gaduh membangun berlapis dinding rekonsiliasi.
kesunyian adalah mempelai perjalanan, adalah kekasih penaklukan
aku sesekali terseret ingsutnya mengisi ruang ruang hampa dan tempat tempat terjatuh dalam selaras kesetimbangan
ia memintal benak ketika terdampar acak menanti retas dari kalut kalutnya yang berserak.
Ia sanggup mencintai tanpa banyak bicara.
Ia merayu tanpa pernah sanggup seorang pun menolaknya
Aku meremang dalam sekonyong belai dan genggamnya ketika kemudian tiada seorangpun tertinggal selain kita.
Luluh terbata dalam dialognya yang tanpa sebersit pun aksara

kesunyian,
ia pulau terasing yang dekat, puncak tertinggi yang hangat, kabut dingin karib tak bertepi, juga benam lautan tanpa geming di nadir hampa hadir tempat keteduhan demi keteduhan menggenap dalam beranjaknya..
ia adalah mahluk yang tidak tuna rasa

mengajariku mengangguk kepada untaian gandeng yang rasanya menuju pulang

----

homo erostusfilius


jika cinta adalah bahasa semesta
aku pasti seorang disleksia
yang tak pernah fasih bertutur dalam sejuta dialeknya
tiada kenal alir bahkan melumpuh buta akan aksaranya
dibenam mimpi mimpi lucid yang tanpa warna
hanyut ruah gagap indera
rasanya aku tak bisa bicara
atau bersusah payah mengeja baca
dalam merasa dan merasa yang tak berujung kosa kata
atau memahami krama
pada impuls impuls yang terbata

aku kemudian hanya ringan tertawa
aku pernah berbicara fasih bahasa segala
ketika tengah dirasuk cinta
namun aku kini sudah lupa..