Wednesday, February 26, 2003

Sebuah Taksi Saja


Di tepi jalan itu aku dan kamu menanti. Sebuah taxi.
Di dalamnya harap kita bisa berbagi sebuah perjalanan menuju rumah
Sebuah taxi saja setelah letih kita sepanjang hari meniti perlintasan dan perjalanan yang membawa kita berpapasan.
Sebelum itu aku menanti taxi sendirian, dan mungkin kau tengah hendak meniti langkahmu tanpa menyerah sampai rumah, namun mereduplah waktu dan dua sadar kita membalur satu dalam silangnya.
disinilah kita, tanpa perlu sepakat kata telah terhanyut alir kembara ke pelabuhan berdiri menunggu taxi bersama.

Waktu yang bersayap itu terbang cepat melalui kita. Kitapun lenyap dalam hitungannya dan mengucapkan bilangan kita sendiri dalam bibir bibir kita yang saling bercakap, menemani dan menjagai dalam sebuah tunggu diantara berlewatannya berbagai kendara
Dalam desingnya dalam kibas debu dan angin-anginnya kita menunggu di tepi jalan itu.
Dalam sewaktu menjadi saksi setia teduh riak riuh alirnya yang menderu bersama detik detik yang tertelan kata dan bertumpang tindih dalam hadirmu dan hadirku di tempat menunggu itu

Tetapi kita berdua bukan kanak kanak yang berharap pasrah pada kesetiaan menunggu.
Kita menggelisahkan andai sebuah taksi saja tak akan pernah datang
Lalu kita pun menaburkan andai dan tanya ke setiap celah bincang.
Andai sebuah taksi saja tak pernah datang…

Sebutir sapaku dan sebutir sapamu semenjak pertama kali adalah benih benih lugu, mereka kemudian telah tumbuh besar menjadi penanda jalan dan catatan yang jadi pengukur harapan. Mereka merekah kokoh menjulurkan cabang cabangnya mengalir tegak menengadah langit sehabis tuntas menelusukkan akar akarnya mencengkeram dalam tanah tanah yang atasnya kita masih saja menunggu.
Menjadi pohon kerindangan teduh diam diam yang menghambat keletihan tak terburu buru datang.

Lalu, di lautan yang kita bendung bersama dalam bincang dan sekedar saling hadir di tepian ruang ruang tunggu, kita seakan perkasa sejenak memukul waktu, hingga kita tak sempat terjamah mangsa oleh haus berlalunya yang menelan segala
Tetapi kita tersadar kemudian seperti hanya bergerilya, tersadar lemah dibawah kaki tirani waktu yang akhirnya menghantui kita dengan sadar itu..
Telah lama kita menunggu, mungkin terlanjur lama sebelum kita bertemu

Lama menunggu Sebuah taxi saja.
Tak kunjung juga ia datang, padahal entah berapa kali hari berganti dan aku telah lupa berapa kali ubunku terbakar terik dan kemudian diteduhkan lagi oleh rembulan dari sabitnya yang menyerpih cantik bermain semantik hingga purnama yang sumringah hangat memuaikan senyum.
Mengabaikan langit yang menunggu sabar kepada sosok sosok kita membersitkan hasrat untuk sekedar bertanya mengapa sebuah taxi saja tak kunjung tiba untuk kita.
Namun kita tak pernah bertanya kepada siapapun sementara bulan atau hari atau tepian jalan dan desing desingnya terus menyisakan setetes demi setetes kelekangan.

Mungkin bukan enggan kita bertanya arah pada harap-harap yang masih damai bertahta pada segala angin, muai rembulan, debu dan jalanan, mengapa sebuah taxi saja tak kunjung juga lewat untuk kita tumpangi pulang, Namun kita terseret jerat antara sengaja dan tak sengaja hingga mengabaikan tanya pada pejalan-pejalan lalu lalang dan terlanjur sibuk sendiri dengan pengandaikan di celah-celah bicara yang menyapa resah..

Mungkin kita juga tak akan sayangkan, andai sebuah taksi saja tak pernah datang:
kita masih bisa pulang dengan berjalan perlahan, walau entah kapan tiba di rumah. Walau kita kan berpisah di jalan karena rumahmu bukan rumahku dan waktu sendirian kita akan memelar mungkin tak tertahan. Walau kita kan tiba dalam keletihan atau bahkan tua sendirian dan mati di perjalanan.

Andai sebuah taksi saja tak pernah datang, Aku tak akan sesal, karena kita masih bisa pulang dengan kendaraan lain di jalan. Aku mungkin bertemu tumpangan dan kita berpisah di tepian jalan.
Demikian pula dirimu masih mungkin berpapasan seorang sejalan pulang dan berpisah dari aku , kita dan penantian.

Andai sebuah taksi saja tak pernah datang, kamu tak akan kecewa karena masih ada bis, bajaj, becak, kancil, dan kendaraan kendaraan berlalu lalang yang menghamparkan beragam kemungkinan yang membawa kita menuju sebuah tempat yang setidaknya semakin dekat dengan rumah. Membawa kita beranjak dari titik bertemu kita di kolong langit dan akhirnya….
beranjak pulang menuju rumah.

Andai sebuah taksi saja tak pernah datang, mungkin kita diam diam tak keberatan selamanya menunggu disini jika keletihan tidak menjerat datang dan membuat salah satu dari kita jatuh menyerah padam.

Di ujung tepi terik inilah ambigu dan bias bias menyerbu,
mungkin karena berhari-hari telah mengeringkan benak kita dalam cangkang kepala rapuh yang tersibuk memburu kata demi kata yang teruntai dalam bingkai bingkai lintasan sembari menunggu.
Serpih ambigu akan mungkinkah menunggu sebuah taxi saja telah menjadi lebih berarti dari kerinduan untuk kembali pulang itu sendiri?

Arak arakan hari bersilih lebur dengan waktu dan kerut kerut di tubuh
Dan sembari menunggu kita telah berjalan perlahan mencari tempat tempat menunggu baru, menyeberang jalan, menoleh ke kiri dan ke kanan.
Berulang kali diri bersisian, aku di kanan, kau di kiri dan arus menghajar jalan dari kanan dan kiri.

Di denting detik ini akhirnya kita terlanjur terbiasa dengan debu, gilasan waktu, dan sisi sisi menunggu
Aku berdiri di kanan ketika aku menoleh ke kiri dan kau menoleh ke kiri dan aku tak lagi mengharap sebuah taksi dari kiri namun hanya memandangi sisi pundakmu
Sementara dirimu di kiri ketika aku menoleh ke kanan dan kau menatap ke kanan bukan sekedar mengharap sebuah taksi datang di kanan namun juga memandang pada sisiku

Lihat, betapa absurd penungguan ini telah memahat kita, dan tak jera aku dan kamu menunggu, semakin hari semakin berdamai dengan bara-bara resah itu hingga padamnya mereka dan kita masih menyala
Entah sampai berapa lama

Namun kita terlanjur sama merindu pulang dalam sebuah taksi saja

Dan diatas semuanya telah mengapung sebuah anomali bahwa tiada pernah terbersit gerangan tanya apakah perjalanan pulang kita sesungguhnya searah jalan?