Friday, January 03, 2003

Pesan sapaku mungkin bukan sebuah sapa namun lebih sebuah guncang. Guncang guncang yang menguntai hari hari dalam terusiknya hati dari lelapnya. Guncang karib tanpa kata karena aku telah melumpuh bisu dan terjatuh tertimpa hujan kataku sendiri di hari hari yang lalu. di satu atau dua perlintasan itu pasti juga telah kau temu jejak itu.

Dan aku bertanya tentang perlintasan ini yang sengaja kautandai. Entah tersulut sesal semalam karena dirimu melengah dari titian sapaku yang hadir di ruang lelapmu, atau karena di titik ini kau temukan garis garis lintasan kita menjelma gambar yang perlahan rekah terpahami. Jangan lupa terjemahkan maknanya

Tanda mu itu menyala seperti tengah hari. Benderang sederhana seperti benang benang menjerat lembut tak terperi, menyeretku berdiri dalam kata kembali.

Dalam tegak ku di ruangku sendiri kemudian telah kukenali pula rindu itu. Rindu yang tak perlu lagi kunamai karena ia temukan jati dirinya ketika tiba dimanapun perlintasan yang dipilihnya sendiri. Dan tak perlu lagi kukirim rindu karena kutahu segala rindu itu telah mencuri dirinya disetiap sapa untukmu