Monday, December 09, 2002

Sehari di Atas Atap

Bulan memuai sendirian
Waktu kuturuni atap genting yang tak lagi kepanasan
Kelam meranum tersisa dari aku bertamu di teras teras awan
Duduk di atas atap seharian

Perutku kenyang
Oleh kudapan yang disediakan angin berkendara petang
sejak tuangan terik berserah diri pada cangkir cangkir kesejukan
puas terhibur musik musik orkes suara kota
yang seakan tertatih riang berlatih

dan catatanku diam diam mengaudisi
setiap fragmen hari:

hening siang
hembus kejaran awan

jemuran berkibar, kibasi terik jauh dari lelap siang
sesekali dering telpon di kejauhan

solis penjaja menjelang senja
es podeng merah menyala, dilamat lamat gerobak bakso prabalingga

akompanyemen taburan senja
gelitik candai tanda kehidupan
cengkrama manusia manusia pemukiman
melangkah bermain bola

messopiano kereta kereta bayi turun penuhi jalan
berduet dengan sepeda roda tiga
bertrio dengan sepeda roda dua..

gemericik air
interlude di pukul 5
gebyur mandi dan derasnya talang talang pembuangan
menyiram tanaman terbatuk debu siang yang perlahan memudar

“afterglow”
menyusut keriuhan menjelang gelap
dalam gelap neon neon berkedip dengung
suara TV, dan jalanan mulai ditinggal sendiri
menderai menjadi jadi
aransemen dawai di untai beludru kelam
dan denting gemintang

kembali ke reffrain
Bulan memuai sendirian
sehabis menyusut bercak terik waktu di atap genting
Kelam meranum tersisa dari aku bertamu di teras teras awan
Duduk di atas atap seharian...

:I.A.

….