Wednesday, November 06, 2002

Catatan harian di Bali pada suatu masa
7 Juli 2001



Aku menulis sebuah jeda, yang dianugerahkan arus hidup buatku, ketika nafasku telah
kepayahan menyeret hari demi hari yang menuntut aku ikuti dalam langkahnya
yang terburu..
Hari ini dihadiahi sela waktu aku melangkah dalam irama ku

senja ini angin dan udara yang berbeda menyergapku dengan pelukan besar yang rawan di
mulut pesawat dan pintunya yang menderu-deru. Rasanya seperti baru dilahirkan
lagi, seperti belum pernah aku menghirup langit Bali dan roh roh penguasanya
yang terlelap. Tanpa kata merabai wajah yang berbeda dari keletihan hari di
meredupnya sore di sebuah negri dalam ketukan irama yang tak sama dengan
tempat darimana aku melarikan diri barang sekejap di tengah tahun yang panas.

Kendara malam dan hampa yang sangat kukenal meneteskan impian meluapkan
imaji dan kisah-kisah yang belum terjadi.
Letih dan rindu
Entah kepada siapa kerinduan hasrat ini akan kupulangkan. Tersadar di waktu ini tak lagi aku miliki alamat hati kepada siapa aku mengirimkan salam rindu dan jalinan ceritaku di hari hari

Denpasar sudah meredup dalam benam senja ketika kutiba, namun jalan-jalan
sepanjang Kuta belum memudar dari pijar pasca "sunset"nya

Aku bahkan lupa ini hari Sabtu, rasanya seperti bukan hari manapun dari ketujuh hari
yang kukenal sepanjang hidupku. Malam ini riuh dan panjang. Turis, penjaja,
orang Jawa, pedagang butik dan souvenir meriuhkan Kuta, Legian pusat kota
dengan ratusan cerita yang dibawa setiap insan di bawah teduhnya.
Darimana setiap manusia datang dan kemana beranjak ia pergi.

Langit Kuta kutemukan sarat dengan jalan hidup yang saling silang dalam limpahan jiwa dan impiannya. Semua pendatang ataupun penduduk berangkat atau berdiam dalam pencarian nya sendiri sendiri. Entahkah mencari semata jeda dari keseharian letih seperti aku, ataukah mereka mencari petualangan bermakna. Mungkin hanya rindu mengejar ombak dan panas matahari, romansa lokal atau inspirasi. Sekedar nafkah untuk penjaja souvenir, dan untuk beberapa manusia mencari diri. selalu mencari diri. disegala tempat mencari.

Beberapa sosok yang kukira kukenal ternyata kemudian hanyalah kilasan seorang asing , garis-garis dan nuansa bayang wajah-wajah lokal, simpang siur keramaian, dalam nafas yang rendah prasangka.
Jarang, diantara orang-orang asing aku merasa aman..
Aman dengan diri sendiri, aman dengan peluk kehampaan jiwaku.
Kata-kata dari mulut keluargaku tersayang berirama menghiasi udara di dalam mobil yang ku kendara.
Mengarak-arak senja semua kata telah meliris dan lebur dalam mimpi-mimpi yang
bermunculan seperti gelembung-gelembung sabun yang membesar, melayang
lalu "puff" pecah dalam hampa semuanya berpulang.

Makan malam dalam kemewahan hangatnya gamelan Bali. Pemanjaan hidup yang
belum juga putus menghujani. Berlebihankah aku menenggelamkan diri dalam pemanjaan seperti ini? yang jelas aku tak ingin melepaskan kenikmatan damai ini. setidaknya jangan hari ini sebelum ia genap sempurna.

Tempat makan ini stereotipe sekali restoran untuk wisatawan, aku lupa siapa yang mengusulkan kami makan di tempat ini, aku tidak mendengarkan bincang meliris selama perjalanan.

Kusambut hamparan benih-benih angannya, tak akan kubiarkan kebosanan selera akan segala sterotipe merusakkan hariku yang sempurna.
Parade sore yang telah menyerah diri penuh pada gelapnya
langit kini berujung pada sebuah restoran untuk turis Jepang. "Fuku Mimpi" namanya
yang menyajikan imaji mimpi dalam tarian legongnya yang anggun buat para tamu bersama dengan piring piring hidangan nasi Bali dengan rempah rempahnya yang hangat dan sedap.

Menitik percik bayang longitudia air dalam gemulai dara-dara Bali. Mengkomposisi kurva dan kelap kelip atribut tarian yang mewah sekali untukku walau, tak bisa kusingkirkan benakku yang tiada daya mengkritik stereotipenya.
Aku masih gelagapan dengan awal jeda perteduhan yang begitu manis untuk raga dan jiwaku di tempat liburku ini.

Setelah getar kumandang Legong memudar, tak lama kemudian tari topeng Bali mengambil alih cengangku dalam renung kedahsyatan energi dari karakter roh dibalik topeng.. warisan yang begitu tua, berabad cerita di bawah atap sebuah restoran sepi pengunjung dengan hiburan
stereotipe tempat wisata.
sekonyong segala dalam hidup kurasa berarti.. bkan kebetulan aku berada di tempat ini

Roh-roh topeng itu permisi sebelum memudar pergi, mereka bertransformasi
kedalam sekumpulan pemuda dan beberapa lelaki paruh baya yang bergegas
menabuhkan perkusinya bersemangat penuh energi seperti kerasukan.
Dalam kobaran ritmis semua laki-laki bertelanjang dada itu menabuhi batang-batang bambu, gendang, gong, perkusi..
Pemuda-pemuda penari itu tegap, kulit yang cerah bercahaya memantul peluh, sosok-sosok yang sempurna ditempa latihan dalam seni tari dan teknik tetabuhan..
wajah-wajah mereka bersinar bersama dengan intensnya penabuhan ritmis mengobarkan jiwa. Hingga kurasa jiwa mereka berkobar melanglangi setiap jengkal ruang, begitu riuh dalam irama, keras penuh gairah..
sunyi dan hampa dalam benak aku teringat padanya dan malam yang telah berlalu.. bayang tubuhnya telah lebur dalam penabuh-penabuh bambu itu menari sambil mencipta ritmis,

riuh kembali benakku dipenuhi musik yang mereka ciptakan, pada satu titik mereka telah menjadi begitu sensual.
Nyaris kudengar para roh dalam getar puasnya di setiap gelegar gerak
dan bebunyian.. sampai waktu menyudahinya

Dan nikmat aku menghirup sup hangat harum lengkuas..

...
Kelam pekat langit dan air hitam dan pijar bulan.. seperti sihir mengikatku dalam mantera lanskap malam.
Tak ada kelimpahan yang lebih sempurna untuk seorang aku hari ini selain beristirahat di manisnya kelam malam
Dan aku berbaring dalam letih.
bermimpi di dalam mimpi
di perahu kasur lembut tertenun benang emasnya Bali