Saturday, October 19, 2002

Narasi Luna

Memar apakah gerangan yang buatku sebegitu gamang. Memar di hati yang tak kuingat lagi, atau telah kubungkam erat ingatanku. kursi kayu yang mirip seperti itu sekali waktu kudengar suara patahannya. derak terpatahkannya kemudian simultan dengan suaranya menghantami tubuhku dalam ringkukku.

Di posisi fetal aku selalu berlindung sambil menyebut nyebut semua nama yang terlintas di kepalaku. berharap kata kata ku jadi doa atau mantra yang sekali waktu kutemukan komposisinya sempurna akan membuka gerbang waktu dan membebaskan aku dari penjara ini. Dan aku akan melesat ke gugusan bintang bintang yang jauh, jauh sekali dari sini, dan aku akan mati.

Bintang bintang itu yang kucuri ke dalam ruang ruang hatiku seperti malam ini.
Disini waktu berjalan lambat, dan tinggalku disini adalah kebebasan dari beban beratus hari yang telah mencakarku dalam. Luka itu jauh menyilam walau parutnya masih terbawa. Berontak itu tiada gunanya. memukuli terkam beringas kenyataan yang melahapku. dan memar memar keji itu telah menumbuk tak hanya tulang belulang dan dagingku namun juga hidup dan jiwaku.
Percuma saja. tiada yang mendengarku. Aku sendirian dalam memar memar yang tak kumintakan ini.

aku telah terbebas dalam kesendirian ini. Meniti hidupku sendirian

Tak ada sepotong pun bulan hanya ketidak ingatan yang teduh berhembus di dinginnya angin. Ketidak ingatan yang melegakan. Ketidak ingatan akan memar yang berawal dari sebuah paksa dari keluarga yang harusnya amat mengasihi. Sementara ronta dan jerit tangisku itu mengenangkanku akan jerit anak kecil yang dikunci di gudang karena nakal. Namun aku dikunci di neraka yang lebih mengerikan ketika dipaksa aku menikahi siapapun jiwa asing itu.
Jiwa asing yang mematahkan kursi untuk kemudian melukaiku. tubuh dan jiwa. namun tidak. aku tidak ingat lagi akan itu

yang nyata kini hanyalah ia yang menggandeng tanganku dalam bungkamnya. Ia tak berani berjanji untukku walau kutahu yang ia miliki untukku sejati. Karena dunia akan sulit menerimaku demikian pun dunia akan sulit menerima kami, walau ia telah menerimaku sepenuh dalam dirinya. ia tak berani berjanji dan aku mengerti..


Narasi Candika

Entah apakah kecantikannya yang seperti rembulan malam. meredup lembut namun garang tajam dalam sabitnya. Entah kecedasannya atau luka luka yang telah membentuknya. Wajahnya yang redup itu menyimpan jiwa yang sebegitu luasnya. mengurung kepahitan yang telah dipahatnya jadi kekuatan. Dari situlah kecantikannya. bukan tulang pipi dan susunan tulang yang lembut dalam simetri ataupun sepasang mata jernih yang redup menanggung duka. Namun radiasi ketabahan, itulah intisari kecantikan yang telah buatku tak berdaya untuk tidak mencintainya.

Ia pernah menikah. Walau aku tak peduli namun aku mempedulikan satu hal yang akan menghalangi ibuku dari menerima dia. Ia pernah menikah dengan laki laki yang tidak dicintainya. karena paksaan orang tua. Entah mengapa ia takluk dalam pemerkosaan hak yang sedemikian. Ia terlalu kuat, terlalu cerdas untuk menyerah pada pemaksaan seperti itu. Neraka itu pun menjadi jadi ketika suaminya adalah monster jahat yang memukulinya. Dalam hitungan bulan ia melepaskan diri dari jerat itu. Kala tak ada alasan yang cukup tersisa untuk bertahan pada pengorbanan dalam aniaya dan hampanya cinta. Ia pun terasing dari keluarganya, dari kehidupannya yang tak berdamai dengan dirinya.
Aku tak pernah sepenuhnya mengerti alasan perjalanan masa lalunya. Yang kutahu semuanya itu yang telah membawanya ke sini, ke hatiku.

Tak banyak ia bicara akan mimpinya, sebagaimana tak banyak pula ia mendeklarasikan keinginan keinginannya. Terkadang kurasa Ia telah tinggal di dalamnya. Tiada lagi mimpi mimpi selain tepi hasrat sederhana kepenuhan hati dalam kebebasannya sendirian. Kebebasan yang membungkam kepahitan bukan memendamnya namun berkuasa atasnya. terkadang ragu dalam genggam tanganku padanya sanggupkah aku jadi cahaya yang bisa menyulut lagi mimpi mimpinya? tetapi itukah yang ia butuhkan? impian? mungkin bukan. Ia adalah perempuan yang kini berkuasa atas kehendaknya. Tenggelam dalam pengabdian atas pekerjaannya. mimpi adalah taman bermain masa kecilnya yang telah diporak porandakan kehidupan.

di langit ini ia jauh dari masa lalunya. Di langit ini kami bisa mentertawakan hari dan dalam gandeng tangannya menyembuhkan aku dari segala dan mungkinkah aku melipurkan ia dari segala carut dalam yang telah jadi dukanya?
Luna. ia adalah rembulan yang menyambut tanganku dari sisi kegelapan wajahnya dan kegilaan jalan hidup yang menggiringnya seperti kegilaan rembulan yang menyebabkan laut pasang. Aku mencintainya seperti malam malam yang menghitam pekat karena padat sarat akan kasihnya kepada terang lembut bulan.