Thursday, October 03, 2002

menunggu retak keheningan menyayat
di tengah hari bercokol dalam garang terik
walau tahtanya menyelimut lembut cerah hati dan awan yang berarak arak
menanti sahabat yang sebentar menjadi nyata

hampir tak percaya bias panas itu membentuk sosok sosok kita
pertama kalinya
diantara taplak taplak meja

semangkuk kehangatan menyambut makan siang kita di racikkan rindu tersamar yang tak pernah tergambar oleh aksara

selamat datang kawan.
beku itu telah luruh dalam hangatnya siang
entah kapan lagi muai imaji bertabrakan dengan hadirnya kita
lalu menjelma jadi istana tawa
dan kekosongan antara kita kan jera
tak lagi pernah sama